PENGENALAN GEJALA PENYAKIT TUMBUHAN
DEVI CERITASARI
LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN
PENGENALAN GEJALA PENYAKIT TUMBUHAN
DEVI CERITASARI
CAA 117 012
KELOMPOK X

JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PALANGKARAYA
2019
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN
PENGENALAN GEJALA PENYAKIT TUMBUHAN
Telah diperiksa dan disetujui oleh Asisten Praktikum Pada:
Hari :………
Tanggal :………
ASISTEN PRAKTIKUM
MART IMMANUEL MUNTHE
CAA 116 056
DAFTAR ISI
Halaman
LEMBAR PENGESAHAN.......................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................ iii
DAFTAR GAMBAR .................................................................................. iv
I. PENDAHULUAN.............................................................................. 1
1.1. Latar Belakang............................................................................ 1
1.2. Tujuan Praktikum....................................................................... 2 .....................................................................................................................
II. TINJAUAN PUSTAKA...................................................................... 3
2.1. Konsep Timbulnya Penyakit Tanaman....................................... 3
2.2. Tipe Gejala Penyakit Tanaman................................................... 4
2.3. Penggolongan Penyebab Penyakit Tanaman.............................. 5
2.4. Patogen Penyebab Penyakit Tanaman........................................ 5
2.5. Langkah-langkah Identifikasi Tanaman..................................... 6
III. BAHAN DAN METODE................................................................... 7
3.1. Waktu dan Tempat...................................................................... 7
3.2. Bahan dan Alat........................................................................ ... 7
3.3. Cara Kerja................................................................................... 7
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN........................................................... 8
4.1. Hasil Pengamatan....................................................................... 8
4.2.Pembahasan.................................................................................. 10
V. PENUTUP.......................................................................................... 21
5.1.Kesimpulan.................................................................................. 21
5.2. Saran............................................................................................ 21
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1. Segitiga Penyakit ...................................................................... 3
Gambar 2. Segiempat Penyakit ................................................................. 3
Gambar 3. Limas Penyakit ......................................................................... 3
Gambar 4. Buah Cabai (Capsicum annum)................................................. 10
Gambar 5. Jamur Celleotricum capsici ..................................................... 10
Gambar 6. Daun Jeruk (Citrus)................................................................... 11
Gambar 7. Sawi Pakcoy (Massica rapa sub sp chinensis)........................ 12
Gambar 8. Pisang (Musa paradisiaca) ...................................................... 13
Gambar 9. Sawi Pakcoy (Massica rapa sub sp chinensis)......................... 14
Gambar 10. Terung (Solanum melongena)................................................. 15
Gambar 11. Daun Pepaya (Carica papaya)................................................ 16
Gambar 12. Daun Cabai (Casicum annum)................................................. 17
Gambar 13. Pisang (Musa paradisiaca)..................................................... 18
Gambar 14. Seledri (Apium graveolens)..................................................... 19
1.1. Latar Belakang
Penyakit merupakan satu hal yang tidak dapat terpisahkan dalam usaha budidaya tanaman di persemaian.Penyakit pada tanaman didefinisikan sebagai penyimpangan dari sifat normal yang menyebabkan tanaman tidak dapat melakukan kegiatan fisiologisnya secara normal dengan sebaik-baiknya. Ada beberapa para ahli mendefinisikan penyakit tanaman yaitu: a) Menurut Whetzel (1929), penyakit adalah suatu proses fisiologi tumbuhan yang abnormal dan merugikan yang disebabkan oleh faktor primer (biotik atau abiotik) dan ganguannya bersifat terus menerus serta akibatnya dinyatakan oleh aktivitas sel atau jaringan yang abnormal. Akibat yang muncul tersebut disebut gejala.Menurut Agrios (1979, 1997), penyakit tumbuhan terjadi bila salah satu atau beberapa fungsi fisiologisnya menjad abnormal karena adanya gangguan atau kondisi lingkungan tertentu (faktor abiotik) (Arif, 2015).
Penyakit pada tanaman dapat diketahui dengan mengamati tanda dan gejala yang muncul pada tanaman yang diduga terserang patogen.Gejala adalah karakteristik yang muncul pada tanaman sebagai hasil interaksi patogen dengan tanaman tersebut contohnya layu pada semai dan bercak pada daun.Gejala adalah ekspresi inang terhadap kondisi penyakit patologi sehingg suatu penyakit tersebut dapat dibedakan dengan penyakit lain tergantung lingkungan, varietas dari iang, dan ras dari pathogen.Tanda adalah adanya bagian tubuh organisme patogen yang terdapat pada tubuh tanaman inang, misalnya adanya serbuk spora fungi patogen penyebab panyakit (Semangun, 2001).
Manfaat dalam mempelajari penyakit tanaman yaitu agar nantinya dapat membedakan penyakit tanaman yang terseranghama ataupun memang suatu tanaman itu terserang penyakit yang diakibatkan oleh jamur atau cendawan, bakteri dan virus. Karena dengan mempelajari hal tersebut maka nantinya akan dapat mengetahui cara penangananya juga pada saat melakukan budidaya pada suatu tanaman yang dibudidayakan. Selain itu juga nantinya akan lebih mengenal mana yang menjadi tanda pada penyakit dan mana yang menjadi gejala pada tanaman yang terserang.
1.2. Tujuan
Tujuan Praktikum Dasar-dasar Perlindungan Tanaman dengan materi Pengenalan Gejala Penyakit Tumbuhan yaitu:
1. Agar dapat mengenal berbagai penyakit pada tanaman berdasarkan gejala dan tanda yang diamati pada tanaman.
2. Agar mengetahui penyebab terserangnya suatu tanaman oleh penyakit dan cara pengendaliannya.
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Penggolongan Beberapa penyebab penyakit pada tanaman
Penyakit tanaman digolongkan menjadi dua golongan, yaitu: a). Penyakit abiotik adalah penyakit yang disebabkan oleh penyakit noninfeksi atau penyakit yang tidak dapat ditularkan dari tumbuhan satu ke tumbuhan yang lain. Patogen penyakit abiotik meliputi: suhu tinggi, suhu rendah, kadar oksigen yang tak sesuai, kelembaban udara yang tak sesuai, keracunan mineral, kekurangan mineral, senyawa kimia alamiah beracun, senyawa kimia pestisida, polutan udara beracun, hujan es dan angina; b) Penyakit biotik adalah penyakit tumbuhan yang disebabkan oleh penyakit infeksius bukan binatang dan dapat menular dari tumbuhan satu ke tumbuhan yang lain. Patogen penyakit biotik meliputi jamur, bakteri, virus, nematoda, tumbuhan tingkat tinggi parasitik, dan mikoplasma (Thalibtr, 2013).
2.2. Konsep Timbulnya Suatu Penyakit Tanaman Segitiga Penyakit, Segiempat Penyakit dan Limas Penyakit
Konsep timbulnya suatu penyakit semakin berkembang seiring dengan berkembangnya ilmu penyakit tumbuhan, pada awalnya para pakar yang dipelopori oleh DeBary menujuk pathogen sebagai penyebab penyakit yang utama, selanjutnya diketahui bahwa dalam berbagai buku teks mengenai penyakit tumbuhan umunya dianut konsep segitiga penyakit (disease triangle) seperti antara lain dikemukan oleh Blanchard dan Tattar (1981). Ketiga komponen penyakit tersebut adalah inang, pathogen dan lingkungan.Kemudian berkembang sebuah konsep yang dasari pemikiran bahwa manusia ikut berperan dalam timbulnya suatu penyakit tumbuhan karena manusia dapat memberikan pengaruh terhadap pathogen dan tanaman inang itu sendiri serta kondisi lingkungan dimana tanaman itu tumbuh, konsep ini dikenal dengan segi empat penyakit atau (disease squaire) dimana manusia dimasukkan sebagai salah satu faktor dalam komponen timbulnya penyakit.Beberapa faktor komponen dalam penyakit ini selanjutnya dapat diuraikan kembali sehingga konsep timbunya suatu penyakit semakin berkembang dan semakin komplek.Konsep Segitiga Penyakit (Disease Triangle). Konsep pertama yang dikembangkan para pakar adalah konsep segitiga penyakit, dimana konsep ini menjelaskan timbulnya penyakit biotik (penyakit yang disebabkan oleh pathogen) yang di dukung oleh kondisi lingkungan dan tanaman inang. Untuk timbulnya suatu penyakit paling sedikit diperlukan tiga faktor yang mendukung, yaitu Tanaman Inang, pengaruh tanaman inang terhadapnya timbulnya suatu penyakit tergantung dari jenis tanaman inang, kerentanan tanaman, bentuk dan tingkat pertumbuhan, struktur dan kerapatan populasi, kesehatan tanaman dan ketahanan inang. Timbulnya suatu penyakit juga tergantung pada sifat genetic yang dimiliki oleh inang itu sendiri, terdapat inang yang rentan (suscept), tahan (resisten), toleran (tolerant), kebal (immune) yaitu tanaman yang tidak dapat diinfeksi oleh pathogen. Adanya macam-macam sifat ini digunakan untuk melakukan upaya pencegahan penyakit dengan memanipulasi gen sehingga dapat dihasilkan tanaman yang resisten bahkan immune. Patogen, yang dimaksud pathogen adalah organism hidup yang mayoritas bersifat mikro dan mampu untuk dapat menimbulkan penyakit pada tanaman atau tumbuhan.Mikroorganisme tersebut antara lain fungi, bakteri, virus, nematoda mikoplasma, spiroplasma dan riketsia. Lingkungan faktor lingkungan yang dapat memberikan pengaruh terhadap timbulnya suatu penyakit dapat berupa suhu udara, intensitas dan lama curah hujan, intensitas dan lama embun, suhu tanah, kandungan air tanah, kesuburan tanah, kandungan bahan organic, angin, api, pencemaran air. Faktor lingkungan ini memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang dan mnenciptakan kondisi yang sesuai bagi kehidupan jenis pathogen tertentu.Berkembangnya suatu penyakit tegantung pada interaksi ketiga komponen tersebut, yaitu kerentanan inang, derajat virulensi suatu pathogen serta kecenderungan apakah faktor lingkungan lebih mendukung pathogenesis ataukah sebaliknya mendukung keteguhan pertumbuhan inang.
Konsep Segiempat Penyakit (Disease Square). Konsep penyakit pada dasarnya akan lengkap apabila dapat memberikan penjelasan dan penekanan pada peran faktor lingkungan terhadap pathogen, inang dan interaksi antara keduanya yang ternyata ada salah satu faktor yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi ketiga komponen tersebut yaitu manusia. Sehingga penyakit sebenarnya merupakan hubungan segi empat antar faktor pathogen, faktor inang, faktor lingkungan fisik atau kimia dan lingkungan biologi, serta faktor manusia sehingga disebut segi empat penyakit.Komponen segiempat penyakit ini tediri dari 3 komponen segitiga penyakit yang telah diuraikan di atas ditambah komponen manusia. Di dalam konsep ini manusia berada diatas karena manusia memiliki akal budi sehingga mempunyai kemampuan untuk memanipulasi atau mempengaruhi tiga komponen lainnya, yaitu tanaman inang, pathogen ataupun lingkungan.Dimana tindakan yang dilakukan manusia dapat menjadi salah satu faktor pendukung timbulnya suatu penyakit ataupun bahkan mencegah timbulnya suatu penyakit.
Konsep limas penyakit atau konsep timbulnya penyakit dari penguraian komponen abiotik dan biotik.Beberapa komponen dalam segiempat penyakit dapat diuraikan kembali menjadi beberapa faktor ini, hal ini menjadikan konsep timbulnya suatu penyakit merupakan suata hal yang komplek bukan hanya pengaruh satu faktor saja.Pada konsep ini komponen faktor lingkungan diuraikan menjadi faktor abiotik dan faktor biotic. Dimana faktor lingkungan abiotik dapat mendukung atau tidak mendukung terhadap pengaruh komponen yang lain, sedangkan faktor biotic dibedakan dengan pathogen meskipun pathogen itu sendiri adalah faktor biotik. Secara umum faktor abiotic menentukan apakah interaksi antara pathogen dan inang dapat berkembang menjadi suatu penyakit, faktor abiotik juga dapat menjadi penyebab langsung dari timbulnya suatu penyakit dan fakktor abiotic dapat menjadi pendukung atau tidaknya pathogen dapat bertahan hidup dalam kondisi normal. Faktor abiotik berperan sebagai penyebab langsung suatu penyakit apabila berada dalam kondisi kekurangan atau kelebihan, dan hal ini terjadi umunya tidak disebabkan oleh faktor tunggal yang terpisah dari faktor penyebab lain (Djafarudin, 2001).
2.3. Patogen dalam Timbulnya Suatu Penyakit Tanaman
Pada garis besarnya dikenal tiga golongan pathogen utama yaitu: a). Jamur merupakan suatu bagain dari Thallophyta, yang karakteristiknya berhubungan dengan tidak adanya klorofil sama sekali, sehingga tak bisa untuk melakukan asimilasi. Bagian tubuhnya yang bersifat vegetatif terdiri atas benang-benang yang halus dan dinamakan hifa.Hifa-hifa ini merupakan miselium dimana ada yang berserabut ada yang tidak.merupakan suatu bagain dari Thallophyta, yang karakteristiknya berhubungan dengan tidak adanya klorofil sama sekali, sehingga tak bisa untuk melakukan asimilasi. Bagian tubuhnya yang bersifat vegetatif terdiri atas benang-benang yang halus dan dinamakan hifa.Hifa-hifa ini merupakan miselium dimana ada yang berserabut ada yang tidak. Jamur menyebabkan gejala lokal atau gejala sistemik pada inangnya, dan gejala tersebut mungkin terjadi secara terpisah pada inang-inang yang berbeda, secara bersamaan pada inang yang sama atau yang satu mengikuti yang lain pada inang yang sama. Umumnya jamur menyebabkan nekrosis lokal atau nekrosis umum atau membunuh jaringan tumbuhan, hipotropfi, dan hipoplasia (kerdil) organorgan tumbuhan atau keseluruhan tumbuhan, dan hiperplasia (pertumbuhan kerdil) bagian-bagain atau keseluruhan tumbuhan; b). Bakteri merupakan tumbuhan bersel satu dan berdinding sel, tetapi bersifat prokariotik (tidak mempunyai membran inti). Bakteri mempunyai kemampuan mereproduksi individu sel dalam jumlah sangat banyak dengan waktu singkat sehingga menjadi penyebab penyakit yang mempunyai sifat merusak pada inang.Penyebaran bakteri tidak melalui spora, sehingga secara adaptif tidak dapat disebarkan melalui angin.Akan tetapi, bakteri patogenik mampu berpindah dengan perantara air, percikan air hujan, binatang, dan manusia.Contoh bakteri Pseudomonas aeruginos, Pseudomonas syringae.Contooh penyakit yang disebabkan oleh pathogen bakteri, mis kanker pada jeruk (Citrus cancer); c). Virus merupakan organism aseluler, dimana asam nuklead virus hanya terdiri DNA atau RNA saja.Virus merupakan penyebab penyakit yang paling merusak, tidak hanya terjadi pada tanaman, tetapi juga pada manusia dan ternak.Virus dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat, mengurangi hasil produksi, bahkan mampu menimbulkan kematian tanaman inang (penyakit CVPD pada jeruk).Contoh virus adalah TMV (Tobacco Mozaic Virus).Kemampuan pathogen menyerang tanaman inang dipengaruhi oleh senjata yang dimiliki oleh pathogen, dimana senjata ini sangat tergantung pada jenis pathogen itu sendiri.Secara umum senjata yang dimiliki pathogen untuk menyerang tanaman dapat dibedakan menjadi dua yaitu fisik-mekanik dan biokimia.Senjata fisik-mekanik dapat berupa jarum (stilet) seperti yang dimiliki nematode atau berupa austarium yang dimiliki oleh fungi.Sedangkan yang biokimia dapat berupa enzim, toksin, antibiotic, zat pengatur tumbuh (ZPT) dan senyawa yang berfungsi sebagai racun atau penyumbat (Yudiarti, 2007).
BAB III. METODE YANG DIGUNAKAN
3.1. Waktu dan Tempat
Pengamatan penyakit tanaman dilaksanakan pada hari Selasa 5 Juni 2019 pada pukul 15.00 – 16.00 WIB. Pengamatan dilakukan di Lahan Budidaya Tanaman Hortikultura, Desa Katoni, Blok A, Blok B, Blok C, Kelurahan Banturung, Kecamatan Bukit Batu, Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
3.2. Alat
Alat yang digunakan dalam pengamatan ini adalah kamera handphone Samsung J2 prime.
3.3. Cara Kerja
Cara kerja yang dilakukan yaitu:
1. Mengamati gejala atau tanda tanaman yang terserang penyakit.
2. Mendokumentasikan tanaman yang terserang penyakit.
3. Mengidentifikasi penyebab dan pengendalian penyakit dalam laporan hasil pengamatan.
BAB IV.HASIL PENGAMATAN
4.2. Pembahasan
4.2.1 Tanaman Cabai yang Terkena Penyakit Antraknosa
Gambar 1. Cabai Terkena Penyakit Antraknosa
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Nama Penyakit : Penyakit Antraknosa pada tanaman cabai
Penyebab Penyakit : Penyebab penyakit antraknosa pada cabai disebabkan oleh jamur Colletotrichum capsici. Jamur ini berkembang pesat pada kelembaban di atas 90% dan suhu di bawah 320C.Jamur Colletotrichum capsici dapat bertahan hidup di dalam tanah, sisa-sisa tanaman atau buah yang telah terinfeksi.Fase serangannya pun beragam, bisa dimulai dari fase vegetatif (perkecambahan) atau pun fase generatif (pembuahan).
Bentuk Gejala :Hasil Pengamatan gejala yang diamati yaitu pada buah cabai (Capcisum annum) pada buah terdapat tanda bercak melingkar cekung berwarna coklat pada pusatnya serta berwarna coklat muda pada sekeliling lingkarannya. Pada perkembangannya, bercak tersebut akan meluas kemudian menyebabkan buah membusuk, kering dan jatuh. Tipe gejalanya yaitu nekrotis merupakan tipe gejala yang terjadi akibat dari rusaknya atau matinya sel tanaman, nama penyakit antraknosa pada buah cabai.
Kerugian yang ditimbulkan:Dengan terserangnya tanaman cabai pasti akan membuat kerugian yang cukup besar bagi petani, untuk itu penyakit antraknosa ini menimbulkan penurunan hasil produksi serta membuat kualitas cabai juga menurun, penurunan hasil akibat serangan penyebab penyakit antraknosa dapat mencapai 65%, jumlah ini termasuk besar untuk para petani, dan membuat para petani harus mengeluarkan biaya yang banyak dalam perawatannya.
Cara Pengendalian:Pengendalian Penyakit Antraknosa atau Patek antara lain dapat menggunakan benih sehat, biasanya rawit lokal lebih tahan terhadap penyakit patek. Perawatan di lingkungan sekitar tanaman mutlak dilakukan, terutama cabang air (wiwilan), penyiangan gulma dan pengaliran air yang tergenang.Semua faktor tersebut di atas merupakan bagian dari tindakan pencegahan, yang ditujukan agar lingkungan sekitar tanaman tidak lembab, mengingat Patek (Antraknosa) disebabkan oleh jamur yang perkembangannya sangat didukung oleh lingkungan yang lembab.Penggunaan mulsa hitam perak, karena dengan menggunakan mulsa hitam perak sinar matahari dapat dipantulkan pada bagian bawah permukaan daun atau tanaman sehingga kelembaban tidak begitu tinggi.Disamping itu penggunaan mulsa plastik untuk menghidari penyebaran spora melalui percikan air hujan. Menggunakan jarak tanam yang agak lebar yaitu sekitar 65-70 cm (lebih baik yang 70 cm) dan ditanam secara zig-zag ini bertujuan untuk mengurangi kelembaban dan sirkulasi udara cukup lancar karena jarak antar tanaman semakin lebar, keuntungan lain buah akan tumbuh lebih besar.
Lokasi :Daerah Budidaya Hortikultura Blok C, Bapak Suroto.
Referensi :Ratulangi, M.M., dkk. 2012. Diagnosis dan Insidensi Penyakit Antraknosa pada Beberapa Varietas Tanaman Cabe di Kota Bitung dan Kabupaten Minahasa. Jurnal Penelitian Penyakit Tanaman. 18 (2): 81- 88.
4.1.2.Penyakit Pada Daun Cabai
Gambar 2.Daun Cabai Terkena Penyakit Keriting
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Nama Penyakit : Penyakit Keriting Pada Daun Cabai
Penyebab Penyakit:Keriting daun cabe adalah salah satu keadaan pada daun cabe yang menjadi keriting, kuning, kurus dan rontok. Keadaan daun seperti ini menyebabkan nutrisi tidak bisa diproses secara sempurna, tanaman tidak bertumbuh lebat, produktivitas tanaman menurun.Penyakit daun keriting memiliki dua penyebab dengan gejala hampir mirip diantaranya yaitu: a) Disebabkan oleh serangan OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) jenis serangga. Serangga yang bisa menyebabkan keriting adalah jenis kutu dan aphids.Ciri khasnya adalah daun dan pucuk mengeriting namun warna daun tetap hijau atau menjadi hijau gelap. Jika warna daun muncul bercak kuning, berarti yang menginveksi bukan hanya kelenjar kutu melainkan virus; b) Disebabkan karena infeksi virus mosaic Virus mozaik tidak bisa langsung masuk ke jaringan tanaman tanpa dibawa oleh vektor. Dan vektor virus ini adalah kutu daun dan aphids.Gejala serangannya adalah daun menjadi mengkerut dan mengecil disertai bercak kuning di sekujur daun (kriting berwarna). Sekilas akan terkesan sama dengan serangan bulai daun yang mana daun berwarna kuning, namun bedanya kasus bulai daun tidak menyebabkan daun keriting atau tunas berkerut.
Bentuk Gejala:Penyakit yang ditandai dengan gejala daun menjadi berkerut dan keriting serta bundel ini dapat menurunkan produktifitas tanaman karena penyakit ini bisa menghentikan secara total pertumbuhan vegetatif tanaman. Gejala awal serang terjadi pada daun muda bagian pucuk lalu menyebar ke bagian tanaman yang lain. Pertumbuhan vegetatif tanaman (tunas, daun dan akar) bisa terhambat bahkan terhenti.Tanaman cabe yang terkena serangan keriting tentu tidak bisa menghasilkan buah secara optimal karena keluarnya bunga dan buah cabe berdasarkan percabangan tunasnya.
Kerugian ditimbulkan:Penyakit keriting daun cabai tentunya menimbulkan kerugian yang lumayan besar, akibat dari keriting daun cabai mengalami pertumbuhan yang kurang baik walaupun banyak nutrisi yang diberikan pada tanaman cabai yang terkena daun keriting tidak akan dapat menyerap, dan juga membuat tanaman tidak dapat berfotosintesis dengan baik, dengan keadaan tersebut maka akan membuat tanaman cabai sukar untuk berbuah walaupun berbuah buahnya juga akan kurang baik akibatnya penurunan produksi akan dirasakan oleh petani, dan dapat menyebabkan kegagalan panen.
Cara Pengendalian :Pengendalian penyakit daun keriting pada tanaman cabai ini dapat dilakukan dengan cara membersihkan lahan, tidak menanam pada lahan bekas tanaman cabai, tidak menanam berdekatan dengan tanaman kacang panjang, karena kacang panjang sering terkena keriting daun, dan juga dapat menggunakan pestisida sesuai hama yang menyerang.
Lokasi : Daerah Budidaya Tanaman Hortikultura Blok B, Bapak Supri.
Referensi :Sulandri Sri. 2006. Penyakit Daun Keriting Kuning Cabai di Indonesia. Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia. 12 (1): 1-12.
4.1.3. Penyakit Buah pada Tanaman Terung Ungu
Gambar 3.Busuk Buah Pada Tanaman Terung
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Nama Penyakit : Penyakit Busuk Buah pada Tanaman Terung Ungu
Penyebab Penyakit :Penyakit busuk buah merupakan penyakit yang disebabkan oleh cendawan Phomopsis vexans, Phytophthora sp, dan Phomopsis vexans.Seperti namanya, penyakit busuk buah ini menyerang bagian buah tanaman.Penyerangan cendawan penyebab penyakit ini ditandai dengan lunaknya buah. Lama kelamaan buah yang telah melunak akan membusuk. Jika penyerangan penyakit busuk buah ini menyebar keseluruh tanaman lainnya, maka gagal panen akan terjadi.
Bentuk Gejala :Gejala yang muncul pada buah terung semula berlangsung bercak kebasahan yg bergaris tengah kurang lebih 0, 5 cm. Becak meluas dengan cepat ke arah sumbu panjang, hingga becak memiliki bentuk memanjang. Pada type berbuah bulat serta warnanya ungu becak terus berupa bulat serta berwarna gelap.Sisi dalam buah beralih warnanya, kebasah-basahan, serta berbatas coklat tdk teratur.Selanjutnya buah lepas dari kelopaknya serta jadi busuk sekalipun.
Kerugian ditimbulkan:Kerugian yang dialami petani untuk penyakit busuk buah pada tanaman terung ini sangat lah besar, karena jika buah yang sudah terserang akan sulit untuk dikendalikan, dan jika pun dapat dikendalikan kualitas buahnya akan menurun, oleh karena menurunnya kualitas maka pendapatan petani juga akan berkurang atau rugi. Juga penyakit ini membuat produksi menurun bahkan mengalami gagal panen.
Cara Pengendalian: Untuk pengendalian penyakit busuk buah ini, dapat melakukan penyemprotan cairan fungisida. Penyemprotan cairan fungisida harus disesuaikan dengan dosis yang telah dianjurkan. untuk jenis fungisida dapat digunakan fungisida berbahan aktif mankozeb, jika intensitas serangan cukup parah dapat digunakan dengan penyemprotan fungisida dengan berbahan aktif Tembaga Hidroksida, eiit tunggu dulu hati-hati menggunakan fungisida yang satu ini, dalam penyemprotan harus tunggal tanpa dibarengi dengan fungi atai insektisida bahkan pupuk cair sekalipun. Langkah awal antisipasi terjadinya busuk buah pada Tanaman terong dapat dilakukan dengan cara pemupukan yang seimbang, antara pupuk makro dan pupuk mikro, karena pada dasarnya terjadinya busuk buah pada buah terong awalnya adalah kekurangan unsur pupuk Calsium yang menyebabkan lunaknya kulit buah, pada kondisi tingkat kelembapan tinggi maka unsur nitrogen lebih banyak dikonsumsi oleh tanaman tersebut sehingga kulit buah lunak dan jamur akan lebih mudah dalam penyarangannya, sehingga mengakibatkan busuk buah terjadi.
Lokasi : Daerah Budidaya Tanaman Hortikultura Blok C, Bapak Yatimin.
Referensi :Rumbania Dewi Mustikawati. 2012. Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Sayuran.Pertanian (BPTP) Lampung. Agro Inovasi. PDF.
4.2.4. Penyakit Pada Tanaman Jagung
Gambar 4.Kerdil Pada Tanaman Jagung
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Nama Penyakit : Penyakit Kerdil Pada Tanaman Jagung
Penyebab Penyakit :Penyakit kerdil pada tanaman jagung dapat disebabkan oleh kekurangan unsur hara Mg (Magnesium) tanaman jagung yang kekurangan magnesium maka akan tumbuh kerdil, bagian atas daun akan berwarna kuning dengan garis-garis tak normal berwarna putih. Daun tua akan berubah warna menjadi ungu kemerahan pada bagian tepi daun dan ujung daun.Virus juga dapat menyebabkan kerdil pada tanaman jagung yang dinamakan mosaic virus penyakit jagung mosaic kerdil virus merupakan suatu wabah penyakit tanaman jagung yang disebabkan oleh virus Maize Dwarf Mosaic (MDMV).Virus Maize Dwarf Mosaic (MDMV) merupakan virus tanaman pathogen dari keluarga Potyviridae, Serangan penyakit ini tergantung pada tahap pertumbuhan tanaman jagung.Umumnya penyakit Mosaic Kerdil ini dapat menyebabkan kerusakan yang parah dan merugikan secara ekonomi.
Bentuk Gejala: Untuk gejala yang nampak pada penyakit kerdil tanaman jagung ini ada dua dilihat dari penyebabnya, yang pertama yaitu karena kekurangan unsur hara Mg, gejala yang ditimbulkan yaitu terlihat pada daun yang pucat atau tidak hijau karena unsur Mg berfungsi dalam pembentukan klorofil pada daun, jadi jika kekurangan unsur ini maka akan terlihat pucat dan tanaman tidak tumbuh dengan normal. Selanjutnya adalah karena virus gejala yang ditimbulkan yaitu Pada daun jagung yang terserang virus terdapat garis kuning muda yang terputus-putus diseluruh permukaannya.Tiap tahap serangan berbeda, pada daun muda mungkin mengalami bercak klorosis kemudian menjadi pola mosaic dan menguning dan akhirnya muncul garis- garis merah atau bercak.Pertumbuhan tanaman yang terserang virus terhambat pertumbuhannya (kerdil) dan tongkolnya kecil-kecil.Pada masa reproduski tanaman cenderung busuk akar dan menjadi mandul.
Kerugian ditimbulkan:Suatu tanaman yang terkena penyakit tentunya akan menimbulkan kerugian untuk para petani, seperti tanaman jagung yang kerdil sangat merugikan karena jagung yang sudah terserang penyakit kerdil tidak akan kembali lagi ke pertumbuhan yang semula, untuk itu jagung yang terkena penyakit kerdil tidak hanya menyerang pohonnya saja tetapi juga akan membuat buah yang dihasilkan tidak akan bisa untuk dipanen, itu artinya dapat membuat para petani mengalami gagal panen.
Cara Pengendalian:Untuk pengendalian penyakit kerdil ini dapat dilihat terlebih dahulu penyebabnya. Penyebab kerdil karena kekurangan unsur Mg dapat dikendalikan atau diatasi dengan penambahan bahan organik pada tanah, dan dari seresah yang berada di tanah, dapat juga dengan pemberian kapur dan pupuk karena Mg juga dapat menetralkan pH tanah. Selanjutnya adalah pengendalian virus mosaic penyebab kerdil pada tanaman jagung yaitu dengan mencabut tanaman yang terinfeksi seawal mungkin agar tidak menjadi sumber infeksi bagi tanaman sekitarnya ataupun pertanaman yang akan datang,mengadakan pergiliran tanaman, tidak menanam jagung terus menerus di lahan yang sama, penggunaan peptisida apabila di lapangan populasi vektor cukup tinggi,tidak penggunakan benih yang berasal dari tanaman yang terinfeksi.
Lokasi :Daerah Budidaya Tanaman Hortikultura Blok B, Bapak Sugeng.
Referensi:Tristanti Irna, Joko Priyono. 2018. Uji Efektifitas Pupuk Batuan Silikat Cair Berpestisida Nabati Terhadap Intensitas Beberapa penyakit.Jurnal Crop Agro. 11 (1) 25-31.
4.1.5. Penyakit Pada Tanaman Pepaya
Gambar 5.Bercak Cincin Pada Tanaman Pepaya
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Nama Penyakit : Penyakit Bercak Cincin Pada Tanaman Pepaya
Penyebab Penyakit : Penyebab penyakit bercak cincin pada tanaman papaya yaitu akibat virus yang dinamakanPapaya ringspot virus (PRSV) merupakan penyebab penyakit bercak cincin dan dilaporkan mengakibatkan kehilangan hasil pada tanaman pepaya dan beberapa jenis Cucurbitaceae, sehingga menimbulkan kerugian bagi petani.
Bentuk Gejala :Infeksi PRSV menyebabkan gejala mosaik, pemucatan tulang daun (vein clearing), penebalan tulang daun (vein banding), mosaik bergaris pada petiol, bercak hijau pada pucuk batang, daun berbentuk seperti tali (shoestring), penebalan lamina daun (rugose), dan kerdil. Virus ini dapat ditularkan ke tanaman sehat secara mekanis dan melalui vektor, namun tidak tular benih.
Kerugian ditimbulkan:Penyakit bercak cincin ini menimbulkan kerugian bagi para petani, penyakit ini dapat menyebabkan kegagalan panen, dan menurunkan produksi serta kualitas dari buah papaya yang akan dihasilkan.
Cara Pengendalian:Pengendalian penyakit in dapat dilakukan dengan mengendaliakn populasi serangga vector dengan menggunakan insektisida. Pembersihan tanaman sakit dari pertanaman dapat mencegah meluasnya penyakit ini.
Lokasi :DaerahBudidaya Tanaman Hortikultura Blok B, Bapak Sugeng.
Referensi :Sudiarta Putu. 2015. Penyakit Bercak Cincin Pada Tanaman Pepaya di Bali dan Strategi Pengendaliannya. Laporan Hibah Penelitian Unggul Udayana. Universitas Udayana.
4.1.6. Penyakit Pada Tanaman Terung
|
|
|
Gambar 6. Gemiini Virus Pada Tanaman Terung Sumber : Dokumentasi Pribadi |
Nama penyakit : Gemini Virus
Penyebab penyakit :Disebabkan oleh Virus Gemini. Virus ini ditularkan oleh kutu putih atau kutu kebul Bemisia tabaci.
Bentuk gejala :Gejala yang timbul pada awalnya daun muda/pucuk cekung dan mengkerut dengan warna mosaik ringan. Gejala melanjut dengan hampir seluruh daun muda/pucuk berwarna kuning cerah, daun cekung dan mengkerut berukuran lebih kecil dan lebih tebal. Gejala lain adalah daun berwarna mosaik klorosis.
Kerugian ditimbulkan:mengurangi hasil panen, gagal panen, menular ke tanaman lain yang sehat.
Cara pengendalian :pengamatan rutin, pemasangan perangkap, pemanfaatan musuh alami, menggunakan pestisida hayati, menngunakan pestisida selektif, dan eradikasi (pemusnahan).
Lokasi :Daerah Budidaya Tanaman Hortikultura Blok C, Bapak Supri
Referensi : BPTP Kaltim, Badan Litbang Pertanian, Republik Indonesia, web.
4.1.7. Penyakit Keriting Pucuk Pada Tanaman Tomat
|
|
|
Gambar 7. Penyakit Keriting Pucuk Pada Tanaman Tomat Sumber : Dokumentasi Pribadi |
Nama Penyakit : Penyakit keriting pucuk pada tanaman tomat
Penyebab Penyakit : Penyakit keriting pucuk pada tanaman tomat disebabkan oleh virus Tomato Yellow Leaf Curl Virus (TYLCV) dan vektor serangga (trips dan kutu kebul).
Bentuk Gejala : Penyakit ditandai dengan gejala daun menjadi berkerut dan keriting, pada pagi hari tanamn berangsur layu sedangkan pada malam hari segar kembali, namun keesokan harinya dapat layu kembali dan lama kelamaan tanaman layuini akan mati.
Kerugian ditimbulkan :Mengakibatkan gagal panen, tanaman mengalami penurunan daya hidup (cebol), bertambahnya kerentanan dan kepekaan terhadap penyakit sekunder.
Cara Pengendalian : Melakukan pencegahan dengan memberantas vektornya, mencegah resistensi penyemprotan dengan kimia digunakan pada saat hama diambang batas ekonomi, membunuh vektor kutu kebul dengan menggunsksn insektisida berbahan aktif (tiametoksam dan bifentrin).
Lokasi : Daerah Budidaya Tanaman Hortikultura Blok B, Bapak Supri.
Referensi :Sulandri Sri. 2006. Penyakit Daun Keriting Kuning Cabai di Indonesia. Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia. 12 (1): 1-12.
4.1.8. Penyakit pada Tanaman Kacang Buncis
Gambar 8. Penyakit Layu Bujang Kacang Buncis
Sumber : Dokumentasi Pribadi
Nama penyakit : Layu bujang atau layu Fusarium (Fusarium sp)
Penyebab Penyakit :Organisme penyebab penyakit ini masih termasuk dalam golongan fungi (jamur). Perkembangan dan penyebarannya di dalam tanah (media tumbuh), biasa disebut penyakit tular tanah (soil born). Pada penanaman di musim hujan dan apalagi riwayat tanah yang digunakan sebelumnya sudah terinfeksi oleh penyakit ini melalui tanaman sejenis dan sefamili
Bentuk gejala :Awalnya beberapa tanaman layu yang dimulai dari bagian bawah hanya pada siang hari, sedangkan pada pagi hari segar kembali, dengan posisi tanaman terserang yang sporadis (tersebar acak). Gejala lain, anak tulang daun menguning dan jika infeksi terus berkembang seluruh bagian tanaman akan layu. Jika pangkal batang yang terserang dipotong melintang akan tampak bercak cokelat kehitaman melingkar pada jaringan batangnya. Pada serangan yang parah, sebelum panen habis seluruh tanaman layu secara permanen
Kerugian ditimbulkan :gagal panen dapat dan dapat menular ke tanaman lain yang sehat.
Pengendalian : tidak menanam pada lahan bekas tanaman sejenis atau sefamili yang terindikasi oleh serangan penyakit ini, dan tidak menanam berdekatan dengan tanaman sejenis dan sefamili yang yang lebih tua dan yang terserang penyakit ini apalagi posisi lahannya berada di atas lahan baru. Pada penanaman musim hujan diperlebar selokan antar bedengan dan diperbaiki saluran drainase airnya. Jika sudah dijumpai serangan penyakit ini untuk tidak melakukan pengairan dengan sistem leb (memasukkan air melalui selokan antar bedengan) sampai dipastikan serangan penyakitnya sudah terhenti, dan dalam kasus ini untuk sementara pengairan dilakukan dengan cara menyiram air pada tiap zona perakaran tanaman.
Lokasi :Daerah Budidaya Tanaman Hortikultura Blok B, Bapak Subagio.
Referensi :Kompasiana,Deteksi Dini Penyakit Tanaman (Hama dan Penyakit Tanaman, Bagian 2).
4.1.9. Penyakit Layu Bakteri Pada Tanaman Terong
|
|
|
Gambar 10. Penyakit Layu Bakteri pada Tanaman Terong Sumber : Dokumentasi Pribadi |
Nama Penyakit : Penyakit layu bakteri pada tanaman terong
Penyebab Penyakit : Penyakit layu bakteri pada tanaman terong disebabkan oleh bakteri Pseudomonas solanacearum (E.F. Sm) E.F. Sm.
Bentuk Gejala :Pada gejala awal serangan penyakit layu bakteri ralstonia akan terlihat pada daun tanaman, daun-daun muda akan layu hingga ke ujung percabangan pada waktu cuaca panas tetapi kemudian akan terlihat segar pada malam hari ketika cuaca sedang dingin. Ketika penyakitnya berkembang pada kondisi yang disukai, seluruh bagian tanaman akan layu dengan cepat dan mengering walaupun warna tanaman tetap hijau. Gejala lainnya adalah daun menguning dan tiba-tiba tanaman mati. Gejala-gejala ini dapat saja muncul tiba-tiba, baik ketika tanaman masih muda, ataupun yang sudah berbuah.
Kerugian ditimbulkan: menyebabkan gagal panen, membuat kualitas terong menurun, penyakit bisa menyebar ketanaman lain dan menimbulkan penurunan hasil produksi.
Cara Pengendalian : Pengendalian penyakit layu bakteri pada tanaman terong dikendalikan dengan agens hayati BIO SPF dengan bahan aktif Pseudomonas fluorescent, meningkatkan pH tanah dengan penambahan kapur dan memperbanyak asupan hara mikro kalsium pada tanaman, penanaman kultivar tanaman yang tahan terhadap penyakit layu bakteri Ralstonia bisa dilakukan, mengaplikasikan beberapa Fungisida Hayati seperti Anfush atau Decoprima sebagai langkah awal sterilisasi lahan sebelum penanaman.
Lokasi : Daerah Budidaya Tanaman Hortikultura Blok B, Bapak Supri.
Referensi :Sulandri Sri. 2006. Penyakit Daun Keriting Kuning Cabai di Indonesia. Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia. 12 (1): 1-12.
4.1.10. Penyakit Pada Tanaman Buncis
|
|
|
Gambar 10. Penyakit Bercak Daun Buncis Sumber : Dokumentasi Pribadi |
Nama penyakit : Bercak daun buncis
Penyebab Penyakit : Cendawan Cercospora canescens, Sporanya dapat disebarkan melalui air hujan, angin, serangga, alat-alat pertanian, manusia dan lain-lain.
Bentuk gejala :Bercak daun dicirikan dengan adanya bercak berwarna coklat dengan bentuk tidak beraturan, cendawan Alternaria sp. biasanya menyebabkan gejala nekrotik, berupa bercak-bercak dengan diameter mencapai 5 mm membentuk cincin konsentris, berwarna coklat tua atau disebut Target spot. Bercak akan meluas dan tidak teratur dengan warna kuning. Bercak daun dapat terjadi pada fase vegetatif dan generatif.Akibat lebih parah, daun menjadi layu lalu berguguran. Bila sampai menyerang polong, maka polong berbercak kelabu dan biji yang terbentuk kurang padat dan ringan.
Kerugian ditimbulkan :Penurunan hasil panen, kalau penyerangan sudah parah bisa menyebabkan gagal panen, dan bisa menular ke tanaman lain yang sehat.
Pengendalian :Sebelum ditanam benih buncis direndam air panas dengan suhu 48 derajat Cselama 30 menit, rotasi tanaman, memotong bagaian tanaman yang telah terserang, penyemprotan dengan Baycor 300 EC konsentrasi 0,5-1 liter/ha, Bayleton 250 EC konsentrasi 0,25- 0,5 liter/ha, volume semprot tiap hektarnya kurang lebih 400 liter. Dapat juga menggunakan Cupravit OB 21, Daconil 75 WP, Delsene MX-200 dengan konsentrasi sesuai labelnya. Penyemprotan diulang dengan selang waktu 5-15 hari.
Lokasi :Daerah budidaya tanaman Hortikultura Blok B, Bapak Subagio
Referensi :Sucianto E, T dan Muachiroh A, 2019. Jenis, Frekuensi Kemunculan, dan Persentase Penyakit Cendawan pada Tanaman Sayuran. Jurnal Sains. Vol 36, No 1. PDF.
V. PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Dari pengamatan yang telah dilakukan di lahan Budidaya Tanaman Hortikultura, Desa Katoni, Blok A, Blok B, Blok C, Kelurahan Banturung, Kecamatan Bukit Batu, Palangka Raya, Kalimantan Tengah ditemukan beberapa jenis penyakit antara lain: a) Penyakit aaantraknosa pada cabai; b) Penyakit keriting pada daun cabai; c) Busuk buah pada tanaman terung; d) Penyakit kerdil pada tanaman jagung; e) Bercak cincin pada tanaman papaya; f) Gemini virus pada tanaman terung; g) Penyakit keriting pucuk pada tanaman tomat; h) Penyakit layu bujang pada tanaman buncis; i) Penyakit layu bakteri pada tanaman terung; j) Penyakit bercak daun buncis.
Penyakit tanaman secara umum disebabkan oleh jamur, bakteri, virus dan faktor lingkungan. Tanaman yang terkena cendawan cenderung kering. Tanaman yang terkena bakteri cenderung basah. Tanaman yang terkena virus biasanya pertumbuhan terganggu menjadi kerdil, keriting dikarenakan pertumbuhannya lambat atau berlebihan. Sedangkan gejala yang disebabkan faktor lingkungan relative sama seperti gejala oleh jamur, bakteri, dan virus. Hanya saja penyakit akibat dari faktor lingkungan tidak dapat menular. Pengendalian yang dapat dilakukan adalah pemilihn varietas uggul, menggunakan musuh alami, penyemprotan secara teratur sesuai dengan sasarannya dan eradikasi bila dierlukan.
DAFTAR PUSTAKA
Djafarudin. 2001. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman (Umum). Bumi Aksara. Jakarta. PDF.
Irawan Arif , Illa Anggraeni dan Margaretta Christita. 2015. Identifikasi Penyebab Bercak Daun Pada Bibit Cempaka (Magnolia elegans (Blume) H.Keng) dan Teknik Pengendaliannya.Jurnal Wasian 2 (2): 88-89. (file:///C:/Users/user/Downloads/843-1708-1-PB.pdf) Diakses Pada tanggal 9 Mei 2019.
Sucianto E, T dan Muachiroh A. 2019. Jenis, Frekuensi Kemunculan, dan Persentase Penyakit Cendawan pada Tanaman Sayuran. Jurnal Sains. Vol 36, No 1. (http://download.garuda.ristekdikti.go.id). PDF.
Semangun H. 2001. Penyakit-penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia. Gajah Mada Univ Press. Yogyakarta.
Sutarman. 2017. Dasar Ilmu Penyakit Tanaman.Mojopahit. Usmida Press.
ThalibtrRosdah, Redi Fernando, Khodijah, Dewi Meidalima, &Siti Herlindal.2013.Patogenisitas Isolat Beauveria Bassiana dan Metarhizium Anisopliae Asal Tanah Lebak dan Pasang Surut Sumetera Selatan Untuk Agens Hayati Scirpophaga Incertulas.Jurnal Hama dan Penyakit Tumbuhan Tropika. 13 (1): 1-9.(http://eprints.unsri.ac.id/4345/1/Jurnal_Hama_dan_Penyakit_Tumbuhan_Tropika.pdf)
Yudiarti, T. 2007. Ilmu Penyakit Tumbuhan. Yogyakarta .Graha Ilmu.PDF.
Komentar
Posting Komentar