PENGENALAN NEMATODA

DEVI CERITASARI

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS PALANGKA RAYA

LAPORAN PRAKTIKUM

DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN

PENGENALAN NEMATODA

 

 

 

 

DEVI CERITASARI

CAA 117 012

KELOMPOK X

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS PALANGKARAYA

2019

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PRAKTIKUM

DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN

 

PENGENALAN NEMATODA

 

 

 

 

 

Telah diperiksa dan disetujui oleh Asisten Praktikum Pada:

Hari          :………

Tanggal    :………

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ASISTEN PRAKTIKUM

SITI AISYAH

CAA 115 016

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN..........................................................................        ii   

DAFTAR ISI................................................................................................        iii

DAFTAR GAMBAR ..................................................................................        iv

I.       PENDAHULUAN..............................................................................        1

1.1. Latar Belakang............................................................................        1    

1.2. Tujuan Praktikum.......................................................................        2                      .....................................................................................................................

II.      TINJAUAN PUSTAKA......................................................................        3

2.1. Perbedaan Nematoda Jantan dan Betina.....................................        3

2.2. Cara Nematoda Menyerang Akar Tanaman...............................        4

2.3. Teknik Ekstraksi Nematoda Menggunakan corong Baerman....        5

2.4. Gejala Serangan Nematoda.........................................................        5

2.5. Teknik Pengendalian Nematoda.................................................        6

2.6. Hubungan Nematoda dengan Patogen Lain dan Pengaruhnya

       terhadap Tanaman.......................................................................        7

 

III.     BAHAN DAN METODE...................................................................        8

3.1. Waktu dan Tempat......................................................................        8

3.2. Bahan dan Alat........................................................................ ...        8

3.3. Cara Kerja...................................................................................        8

IV.    HASIL DAN PEMBAHASAN...........................................................        10

4.1. Hasil Pengamatan.......................................................................        10  

4.2.Pembahasan..................................................................................        10

V.      PENUTUP..........................................................................................        15

5.1.Kesimpulan..................................................................................        15

5.2. Saran............................................................................................        15

DAFTAR PUSTAKA                                                                                   

LAMPIRAN

 

 

 

 

 

 

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Namatoda Batina  (Meloidogyne spp)......................................       12

Gambar 2. Nematoda Jantan (Meloidogyne spp)........................................       14

 

 

 

 

I.            PENDAHULUAN

1.1.      Latar Belakang

Nematoda berasal dari bahasa Yunani, nemat atau nemathos yang berarti benang dan helminth (meneyerupai cacing). Nematoda berbentuk memanjang, seperti tabung, seperti benang, kadang- kadang seperti kumparan, yang dapat bergerak seperti ular. Mereka hidup di dalam air, baik air laut maupun air tawar, di dalam film air, di dalam tanah, di dalam jaringan jasad hidup berair. Filum nematoda merupakan kelompok besar kedua setelah serangga apabila didasarkan atas keanekaragaman jenisnya. Nematoda telah dikenal sejak zaman purba sebagai parasit pada manusia. Nematoda berbentuk seperti cacing kecil. Panjangnya sekitar 200-1.000 mikron ( 1.000 mikron = 1 mm). Namun, ada beberapa yang panjangnya sekitar 1 cm. Nematoda biasa hidup di dalam atau di atas tanah. Umumnya nematoda yang hidup di atas tanah sering terdapat di dalam tanah terdapat di dalam jaringan tanaman atau di antara daun-daun yang melipat, di tunas daun, di dalam buah, di batang, atau di bagian tanaman lainnya. Nematoda juga ada yang hidup di dalam tanaman (endoparasit) dan ada juga yang di luar tanaman (ektoparasit). Jenis nematoda yang saprofit sangat menguntungkan Karena mempercepat proses tanaman yang telah mati menjadi tanah. Ada juga nematoda yang menjadi parasit, khususnya parasit pada tanaman. Nematoda parasit tanaman dapat menyebabkan kerusakan tanaman, sehingga mengakibatkan penurunan produksi, yang akhirnya merugikan petani, (Pracaya, 2008).

Siklus hidup nematoda sangat sederhana sekali yaitu betina meletakkan telur kemudian telur-telur tersebut menetas menjadi larva. Dalam banyak hal, larva-larva ini menyerupai nematoda, hanya ukurannya lebih kecil. Selain nematoda dewasa dan telur, dalam siklus hidup nematoda terdapat 4 stadia larva dan empat kali pergantian kulit. Stadia larva pertama berkembang dalam telur dan pergantian kulit pertama biasanya terjadi di dalam telur. Dari pergantian kulit pertama muncul stadia larva dua, yang bergerak bebas ke dalam tanah dan masuk ke dalam jaringan tanaman. Apabila nematoda stadia larva dua tersebut mulai makan pada jaringan inang yang cocok, terjadi pergantian kulit kedua, ketiga dan keempat yang menghasilkan berturut-turut larva stadia tiga, empat dan lima atau stadia dewasa. Secara umum, siklus hidup nematoda parasit berlangsung selama 25-35 hari, bergantung pada jenis nematoda, tanaman inang, keadaan lingkungan tanah (suhu, kelembaban, tekstur). Produksi telur 200-500 butir. Kemampuan hidup di dalam tanah pada kondisi lingkungan kurang menguntungkan (tidak ada inang, suhu sangat rendah atau sangat tinggi dan kekeringan) dapat membentuk sista yang dapat bertahan hidup sampai 10 tahun. Sista berisi telur yang belum menetas dengan kisaran jumlah telur dalam sista 326 – 493 dari 10 sista yang dipecahkan. Nematoda aktif kembali setelah kondisi lingkungan sesuai, terutama adanya eksudat akar tanaman inang. Larva stadium dua aktif pada suhu 10°C. Kisaran suhu optimum untuk pertumbuhan dan perkembang biakannya antara 15 - 21°C. (Mustika, 2003).

Manfaat mempelajari nematoda dalam bidang pertanian yaitu dapat mengetahui bentuk nematoda baik jantan dan betina, gejala dan tanda tanaman yang terserang nematoda sehingga mengetahui pengendalian yang harus dilakukan.

 

1.2.      Tujuan Praktikum

Tujuan praktikum Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman dengan  materi Pengenalan Nematoda adalah sebagai berikut:

1.           Agar mahasiswa mengenal dan mengetahui gejala serangan nematoda.

2.           Agar mahasiswa mampu mengekstrasi nematoda dari contoh tanah dan akar untuk kemudian mengidentifikasinya.


 

II.      TINJAUAN PUSTAKA

2.1.      Perbedaan Nematoda Jantan dan Betina

Perbedaan nematoda Meloidogune spp jantan dan betina terletak pada bagian tubuh dan ukuran tubuhnya. Nematoda jantan mempunyai bagan tubuh yang terdiri atas kepala, mata, perut, stylet dan ekor. Ukuran nematoda jantan juga lebih panjang dari nematoda betina. Ukuran tubuh nematoda jantan memanjang bergerak lambat di dalam tanah. Panjang nematoda jantan bervariasi, maksimum 2 mm, kepalanya tidak berlekuk, panjang styletnya hampir dua kali panjang stylet betina, ekornya pendek dan membulat. Pada nematoda jantan terdiri dari sati atau dua testis tubuler dan secara berurutan setelah testis vas eferens, sesikulum seminalis (sebagai tempat menyimpan sperma), vas deferens dan kloala. Di sebelah dorsal kloaka ditemukan kantung spikulum yang biasanya ditemukan 1 atau 2 atau spikula (alat untuk kopulasi). Di sekeliling anus ditemukan beberapa papila yang kadang-kadang bertangkai serta susunan pada setiapa jenis cacing. Ekor nematoda jantan dapat dibedakan menjadi dua tipe yaitu yang berupa saya yang terbentuk dari kutikula sepenjang ekor dan tidak terlalu melebar disebut alacaudal sedangkan yang melebar membentuk bentukan yang disbut bursa (berfungsi untuk memegang nematoda betina betina saat kopulasi). Nematoda jantan bersifa eksoparasit dan umumnya habitatnya di tanah bukan di dalam akar tanaman. Nematoda betina mempunyai bagian tubuh yang terdiri atas kepala, mata, perut dan stylet. Tetapi tidak memiliki akar seperti nematoda jantan. Nematoda betina memiliki tubuh seperti botol atau seperti buah pir bersifat endoparasit yang tidak berpindah (sendetary), mempunyai leher pendek dan tanpa ekor, panjang lebih dari 0,5 mikron dan lebarnya antara 0,3-0,4 milimikron, styletnya lemah dan panjangnya 12-15 milimikron melengkung ke arah dorsal, serta mempunyai pangkal knot yang jelas dan sistem reproduksi cacing betina terdiri dari 1 atau 2 ovarium tubuler, berikutnya masing-masing oviduks, uterus (bagian uterus ada yang meluas membentuk reseptakulum dan seminalsi yaitu kantung sperma), vagina, dan vulva, (Subagia, 2008).

 

2.2.       Cara Nematoda Menyerang Akar Tanaman

Nematoda yang menyerang akar tanaman hingga dapat menimbulkan kerusakan mekanis. Nematoda yang menyebabkan kerusakan pada tanaman hampir semuanya hidup didalam tanah, baik yang hidup bebas didalam tanah bagian luar akar dan batang didalam tanah bahkan ada beberapa parasit yang hidupnya bersifat menetap didalam akar dan batang. Konsentrasi hidup nematoda lebih besar terdapat didalam perakaran tumbuhan inang terutama disebabkan oleh laju reproduksinya yang lebih cepat karena tersedianya makanan yang cukup dan tertariknya nematoda oleh zat yang dilepaskan dalam rizosfir awalnya, telurtelur nematoda diletakan pada akar - akar tumbuhan di dalam tanah yang kemudian telur akan berkembang menjadi larva dan nematoda dewasa. Berkumpulnya populasi nematoda disekitar perakaran ini mendorong nematoda menyerang akar dengan jalan menusuk dinding sel. Nematoda dewasa terus-menerus bergerak tiap detik, tiap jam, tiap hari dan menetap di sekitar akar, dalam gerakan - gerakan tersebut nematoda menggigit dan menginjeksikan air ludah pada bagian akar tumbuhan, menyebabkan sel tumbuhan menjadi rusak. Gejala kerusakan pada akar akibat gigitan nematoda ditandai dengan adanya puru akar (gall). Luka akar, ujung akar rusak dan akar akan membusuk apabila infeksi nematoda tersebut disertai oleh bakteri dan jamur patogen. Gejala kerusakan pada akar biasanya selalu diikuti oleh pertumbuhan tanaman yang lambat dikarenakan terhambatnya penyerapan unsur hara oleh akar yang akhirnya terjadi defisiensi hara seperti daun menguning, layu pada cuaca kering dan panas, sehingga produktifitas dan kuantitas hasil panen menurun bahkan untuk tanaman-tanaman tertentu mengakibatkan tanaman tidak dapat panen sama sekali (puso), menurun dan kualitasnya jelek, (Dropkin, 1992).

 

2.3.      Teknik Ekstraksi Nematoda Menggunakan corong Baerman

Teknik corong Baermann adalah metode ekstraksi dengan menggunakan corong yang disambungkan dengan pipa karet. Bagian bawah pipa karet ditutup dengan sekrup penjepit agar air tidak keluar. Bagian tumbuhan dipotong ukuran kecil sekitar 1 cm, lalu dibungkus dengan kain saring atau kain kasa. Bungkusan bahan tumbuhan dimasukan ke dalam corong. Corong di tempatkan pada penyangga dan diisi air penuh. Nematoda akan keluar dari jaringan, menerobos kain saringan. Setelah 24 jam, maka air di dasar batang dibuka dan diamati nematodanya. Modifikasi Corong Baermann merupakan metode turunan corong Baermann yang menggunakan mangkuk dangkal untuk menghindari kemungkinan nematoda menempel pada bagian corong yang miring. Filter diletakan di atas penyangga yang terbuat dari kawat kasa dan di letakan diatas penampan dangkal. Air harus setinggi permukaan bahan yang terdiri dari bagian tumbuhan atau tanah dan diberi kapas atau tisu di atas lapisan bahan tumbuhan atau tanah agar kelembapanya tetap terjaga. Biarkan selama 24 jam sebelum melakukan pengamatan dan menghitung populasi nematoda menggunakan mikroskop (Hutagalung, 2008).

 

2.4.      Gejala Serangan Nematoda

Organisme parasit tumbuhan atau organisme patogen dalam beberapa kejadian dapat menimbulkan gejala penyakit yang sangat spesifik sehingga akan membantu dan memudahkan dalam mengidentifikasi penyebabnya. Gejala serangan nematoda di lapangan secara umum hampir sama dengan gejala terjadinya hambatan distribusi air, defisiensi nutrisi dan hara sebagai akibat rusaknya jaringan pengangkutan. Variasi kenampakan di lapangan dapat berupa hambatan pertumbuhan, tidak seragamnya pertumbuhan pada satu hamparan tanaman yang homogen, ditunjukkan oleh spot-spot penyebaran tanaman yang tidak merata. Jika diperhatikan lebih jauh, gejala penyakit atau kerusakan yang disebabkan oleh suatu spesies nematoda pada beberapa kejadian bisa sangat khusus. Hal tersebut disebabkan oleh adanya perbedaan sifat dan perbedaan eko-biologi dari setiap spesies. Mengacu pada lingkungan hidup nematoda parasit tumbuhan, secara garis besar kerusakan yang terjadi pada tanaman meliputi bagian tanaman yang berada di dalam tanah, misalnya akar, umbi, rizom, stolon dan lain-lain, dan bagian tanaman yang berada di atas permukaan tanah, misalnya pangkal batang, batang, ranting, daun, bunga, buah dan biji. contohnya adalah: a). Gejala serangan nematoda pada kelompok tanaman, contohnya adalah  hamparan yang mengalami hambatan pertumbuhan atau pertumbuhan yang tidak seragam, b). Gejala serangan nematoda pada individu tanaman, contohnya adalah hambatan pertumbuhan akibat Pratylenchus goodeyi pada tanaman pisang, robohnya tanaman pisang akibat kerusakan akar yang disebabkan Radopholus similis, gejala kerdil pada tanaman seledri disebabkan lesion nematode, c). Gejala serangan nematoda sista pada akar, contohnya bintil akar yang menunjukkan banyaknya nematoda Heterodera ciceri betina, gejala nekrotis dan nematoda bentina stadia empat muncul merekah dari lapisan akar, d). Gejala serangan nematoda puru akar, contohnya adalah gejala puru pada kentang menunjukkan ada puru yang muncul pada permukaan umbi kentang, f.). Gejala kerusakan akar akibat serangan nematoda, contohnya kerusakan akar berupa luka (lesion) akibat Pratylenchus goodeyi, gejala busuk kering tidak beraturan pada bagian luar umbi tanaman yang disebabkan oleh Pratylenchus coffeae, (Mustika, 2003)

 

2.5.       Teknik Pengendalian Nematoda

Pengendalian nematoda dapat dilakukan dengan cara kultur teknis rotasi tanaman, penggenangan selama beberapa bulan, penggunaan varietas resisten. Cara mekanisyaitu dengan menaikkan suhu tanah sampai 500C selama 30 menit dengan uap panas atau air panas.Teknik pengendalian serangan nematoda juga  dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti bercocok tanam, kimiadan pengendalian hayati. Pengedalian dengan bercocok tanam melalui pengaturan waktu tanam yaitu menanam tanaman pada waktu yang tidak sesuai dengan perkembangan nematoda, membajak tanah agar nematoda yang berada pada lapisan dalam tanah akan naik kepermukaan tanah sehingga terjadi pengeringan oleh panas matahari, kelembaban tanah, perbaikan dan komposisi tanah dengan pemupukan. Pengendalian secara kimia dapat dilakaukan dengan penggunaan nematisida fumigan, metil bromyda, methon sodiu, prophus, karbofuran, dan penanifhas.Pengendalian secara hayati yaitupengendalian yang dilakukan dengan caramenggunakan mikroorganisme pada nematoda yang sekarang giat diteliti. Pengendalian hayati ini dilakukan dengan menggunakan parasit atau predator pada telur, larva tau nematoda dewasa agar dapat menekan populasi nematoda.Pengendalian lain yang dapat dilakukan untuk mengendalikan  nematoda parasit pada tanaman yaitu dengan memanfaatkan tanaman tertentu yang dapat menjadi racun bagi nematoda, misalnya Tagetes spp. atau kenikir (jawa). Tanaman ini ditanam sebagai tanaman sela atau ditanam dalam rotasi dengan tanaman sayuran atau tanaman pangan yang lain. Tagetes spp mampu mencegah menetesnya telur sehingga mengurngi perkembang biakan nematoda bengkak akar (Meloidogyne spp.), karena tanaman ini mengeluarkan substansi yang beracun yang akan meracuni nematoda ( Hutagalung, 2008).

 

2.6 .   Hubungan Nematoda dengan Patogen Lain dan Pengaruhnya terhadap           Tanaman

Dengan menetapnya nematoda dalam akar secara tidak langsung dapat menimbulkan luka mekanik pada akar di samping itu dapat menjadi tempat berkumpulnya banyak spora jamur patogen dan bakteri yang siap masuk ke dalam jaringan. Walaupun nematoda itu sendiri dapat menjadi penyebab penyakit, nematoda juga terus menerus dikelilingi oleh jamur dan bakteri, yang banyak menjadi penyebab penyakit, nematoda juga terus menerus dikelilingi oleh jamur dan bakteri, yang banyak menjadi penyebab penyakit tumbuhan. Misalnya nematoda yang menyerang biji padi di mana dalam satu butir padi ditemukan ratusan nematoda. Kombinasi Nematoda-patogen ini menghasilkan kerusakan yang jauh lebih besar dari kerusakan yang ditimbulkan apabila kedua patogen tersebut menyerang sendiri-sendiri. Telah diketahui kombinasi nematoda-jamur fusarium pada beberapa tumbuhan dapat meningkat persentase serangannya apabila tumbuhan tersebut diinfeksi nematoda puru akar, luka akar, layu Verticilium, damping off phytium dan busuk akar Rhizoctonia. Kerusakan lebih besar lagi apabila tanaman yang diserang bersifat rentan. Karena tanaman yang bersifat tahan terhadap jamur dan bakteri akan tetap terinfeksi oleh jamur tersebut setelah sebelumnya diinfeksi oleh nematode, (Pracaya, 2008).


 

III.       BAHAN DAN METODE

3.1.      Waktu dan Tempat

Praktikum Dasar-dasar Perlindungan Tanaman dengan materi Pengenalan Nematoda dilaksanakan pada hari sabtu, tanggal  13 April 2019 pukul 15.30-15.10 WIB, bertempat di Laboraturium Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Palangka Raya.

 

3.2.   Alat dan Bahan

  Alat yang digunakan saat praktikum Dasar-dasar Perlindungan Tanaman dengan materi Pengenalan Nematoda adalah gelas aqua, kain kasa, lem korea, cutter, kapas, gunting, mikroskop, dan lup. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu aquades, tissue, akar tanaman pepaya (Carica papaya) yang terserang nematoda  dan tanah  di sekitar perakaran pepaya (Carica papaya) yang terserang nematoda.

3.3.   Cara Kerja

Cara kerja yang dilakukan pada praktikum Dasar-dasar Pelindungan Tanaman dengan materi Pengenalan Nematoda ada tiga tahap yaitu:

3.3.1.Ekstraksi Nematoda dari Contoh Tanah

1.           membersihkan tanah yang kan diekstraksi dari kotoran potongan akar atau kerikil.

2.           Mengambil contoh tanah sebanyak 15 gram dan diletakkan di dalam gelas modifikasi yang diberi alas kain kasa dan kapas.

3.           Menuangkan air distilasi sehingga membasahi tanah dalam cawan tersebut.

4.           Menyimpan ekstraktor cawan tadi pada tempat yang gelap selama 1 x 24 jam.

5.           Mengangkat cawan tersebut dengan hati-hati dan mengamati suspensi nematoda dalam cawan menggunakan mikroskop.

 

3.3.2.Ekstraksi Nematoda dari Contoh Tanah

1.           Mengambil seluruh akar atau bagian akar tanaman contoh yang akan diekstraksi nematodanya.

2.           Membersihkan, setelah itu akar tersebut diletakkan di atas tissue dan dipotong-potong  dengan panjang kira-kira 1 cm sebanyak 10 gram.

3.           Memasukkan akar ke dalam cawan ekstraksi yang telah berisi air distilas sampai terendam.

4.           Sesudah 1 x 24 jam, mengamati suspensi nematoda dalam cawan tersebut menggunakan mikroskop.

 

3.3.3. Kegiatan

1.           Mengamati dan menggambar bentuk  nematoda yang terlihat pada mikroskop.

2.           Mencatat hasil pengamatan pada lembar kerja.

 

 

 

 

 

 

 


 

IV.       HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.      Hasil Pengamatan

Tabel Hasil Pengamatan Nematoda

No

Bahan yang diamati

Ciri tanaman

Gambar

1

Tanah perakaran

Pepaya (Carica papaya)

-  Terdapat puru pada akar yang diserang

-  Daun bagian atas menguning

-  Tanaman menjadi layu kemudian mati


2

Akar tanaman pepaya

(Carica papaya)

-  Terdapat puru pada akar yang diserang

-  Daun bagian atas menguning

-  Tanaman menjadi layu kemudian mati


 

 

4.2.      Pembahasan

4.2.1. Nematoda Jantan

 


 

 

Gambar 1. Mikroskopis Nematoda  Jantan (Meloidogyne spp.)

(Sumber : Dokumentasi Pribadi)

 

 

 

Klasifikasi nematoda adalah sebagai berikut:

Filum              : Nemathelminthes

Kelas               : Nematoda

Sub Kelas        : Secernenteae

Ordo                : Thylenchina

Famili             : Heteroderidae

Genus              : Meloidogyne

Spesies            : Meloidogyne spp.

Daur hidup Meloidogyne spp terdiri dari tiga fase yaitu fase larva I sampai larva IV dan nematoda dewasa. Siklus hidup nematoda sekitar 18–21 hari atau 3–4 minggu.Massa telur yang baru terbentuk biasanya tidak berwarna dan berubah menjadi coklat setelah tua. Nematoda betina dapat menghasilkan hingga 500 telur dalam massa gelatinus. Telur-telur mengandung zigot sel tunggal apabila baru diletakkan.Embrio berkembang menjadi juvenil 1 yang mengalami pergantian kulit pertama di dalam telur.Telur menetas dan juvenil 1 mengalami perubahan menjadi juvenil 2 yang muncul pada suhu dan kelembaban yang sesuai dan bergerak di dalam tanah menuju ke ujung akar yang sedang tumbuh.juvenil2 masuk ke dalam akar dan merusak sel-sel akar dengan stiletnya. Setelah masuk ke dalam akar, juvenil 2 bergerak diantara sel-sel sampai tiba di tempat dekat silinder pusat atau berada di daerah pertumbuhan akar samping.Juvenil 2 akan hidup menetap pada sel-sel tersebut, mengalami pertumbuhan dan pergantian kulit menjadi juvenil 3 dan juvenil 4 yang selanjutnya akan menjadi nematoda jantan atau betina dewasa.

Morfologi nematoda jantan dewasa yaitu memiliki bentuk memanjang, bergerak lambat didalam tanah, memiliki panjang yang bervariasi yaitu 887-1268 mm. Nematoda jantan memiliki panjang stilet hampir 2 kali panjang stilet betina yaitu 16-19 mm. Pada nematoda jantan terdiri dari satu atau kadang-kadang dua testis tubuler.Secara berturutan setelah testis, vas eferens, vesikulum seminalis (sebagai tempat menyimpan sperma), vas deferens dan kloaka.Disebelah dorsal kloaka ditemukan kantung spikulum yang biasanya ditemukan 1 atau 2 atau tidak spikula (alat untuk kopulasi).Disekitar anus ditemukan beberapa papila yang kadang-kadang bertangkai serta susunan berbeda pada setiap jenis cacing.Ekor nematoda jantan dapat dibedakan menjadi dua tipe, yaitu yang berupa sayap yang terbentuk dari kutikula sepanjang ekor cacing dan tidak terlalu melebar disebut ala caudal sedangkan yang melebar membentuk bentukan yang disebut bursa yang berfungsi untuk memegang cacing betina saat kopulasi.

Pengendalian dan pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan cara bercocok tanam, kimia, dan pengendalian hayati. Pengendalian secara kimia dapat dilakaukan dengan penggunaan nematisida fumigan, metil bromyda, methon sodiu, prophus, karbofuran, dan penanifhas.Pengendalian secara hayati yaitu pengendalian yang dilakukan dengan cara menggunakan mikroorganisme pada nematoda yang sekarang giat diteliti. Pengendalian hayati ini dilakukan dengan menggunakan parasit atau predator pada telur, larva tau nematoda dewasa agar dapat menekan populasi nematoda. Pengendalian lain yang dapat dilakukan untuk mengendalikan  nematoda parasit pada tanaman yaitu dengan memanfaatkan tanaman tertentu yang dapat menjadi racun bagi nematoda, misalnya Tagetes spp.Pengendalian dengan bercocok tanam melalui pengaturan waktu tanam yaitu menanam tanaman pada waktu yang tidak sesuai dengan perkembangan nematoda, membajak tanah agar nematoda yang berada pada lapisan dalam tanah akan naik kepermukaan tanah sehingga terjadi pengeringan oleh panas matahari, kelembaban tanah, perbaikan dan komposisi tanah dengan pemupukan.

4.2.2   Pembahasan Nematoda Betina

 


 

 

Gambar 2. Mikroskopis Nematoda Jantan (Meloidogyne spp.)

(Sumber : Dokumentasi Pribadi)

 

 

  Klasifikasi nematoda adalah sebagai berikut:

Filum              : Nemathelminthes

Kelas               : Nematoda

Sub Kelas        : Secernenteae

Ordo                : Thylenchina

Famili             : Heteroderidae

Genus              : Meloidogyne

Spesies            : Meloidogyne spp.

 Daur hidup Meloidogyne spp terdiri dari tiga fase yaitu fase larva I sampai larva IV dan nematoda dewasa. Siklus hidup nematoda sekitar 18–21 hari atau 3–4 minggu.Massa telur yang baru terbentuk biasanya tidak berwarna dan berubah menjadi coklat setelah tua. Nematoda betina dapat menghasilkan hingga 500 telur dalam massa gelatinus. Telur-telur mengandung zigot sel tunggal apabila baru diletakkan.Embrio berkembang menjadi juvenil 1 yang mengalami pergantian kulit pertama di dalam telur.Telur menetas dan juvenil 1 mengalami perubahan menjadi juvenil 2 yang muncul pada suhu dan kelembaban yang sesuai dan bergerak di dalam tanah menuju ke ujung akar yang sedang tumbuh.juvenil 2 masuk ke dalam akar dan merusak sel-sel akar dengan stiletnya. Setelah masuk ke dalam akar, juvenil 2 bergerak diantara sel-sel sampai tiba di tempat dekat silinder pusat atau berada di daerah pertumbuhan akar samping. Juvenil 2 akan hidup menetap pada sel-sel tersebut, mengalami pertumbuhan dan pergantian kulit menjadi juvenil 3 dan juvenil 4 yang selanjutnya akan menjadi nematoda jantan atau betina dewasa.

Morfologi nematoda betina dewasa memiliki bentuk seperti buah pir dan bersifat endoparasit yang tidak berpindah (sedentary), nematoda betina mempunyai leher pendek dan tidak memiliki ekor. Nematoda betina memiliki panjang430 -740 mmdan lebarnya antara 0,3-0,4 mm. Nematoda betina memiliki stilet yang lemah dan panjangnya 11,5-14,5 mm yang melengkung kearah dorsal, serta mempunyai pangkal knot yang jelas.Sistem reproduksi nematoda betina terdiri dari 2 atau 1 ovarium tubuler, berikutnya masing-masing oviduks, uterus, vagina dan vulva.

Pengendalian dan pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan cara bercocok tanam, kimia, dan pengendalian hayati. Pengendalian dengan bercocok tanam melalui pengaturan waktu tanam yaitu menanam tanaman pada waktu yang tidak sesuai dengan perkembangan nematoda, membajak tanah agar nematoda yang berada pada lapisan dalam tanah akan naik kepermukaan tanah sehingga terjadi pengeringan oleh panas matahari, kelembaban tanah, perbaikan dan komposisi tanah dengan pemupukan.Pengendalian secara hayati yaitu pengendalian yang dilakukan dengan cara menggunakan mikroorganisme pada nematoda yang sekarang giat diteliti. Pengendalian hayati ini dilakukan dengan menggunakan parasit atau predator pada telur, larva tau nematoda dewasa agar dapat menekan populasi nematoda.Pengendalian lain yang dapat dilakukan untuk mengendalikan  nematoda parasit pada tanaman yaitu dengan memanfaatkan tanaman tertentu yang dapat menjadi racun bagi nematoda, misalnya Tagetes spp. Pengendalian secara kimia dapat dilakaukan dengan penggunaan nematisida fumigan, metil bromyda, methon sodiu, prophus, karbofuran, dan penanifhas.

 


V.          PENUTUP

5.1.      Kesimpulan

Mengenal dan mengetahui gejala serangan nematoda dapat dilakukan dengan cara pengidentifikasian gejala-gejala yang tampak pada tanaman yang terserang nematoda yaitu tanaman dapat mengalami kerdil, klorosis, daun menjadi layu, pada akar timbul tumor, bisul atau puru akar.

Mengekstraksi nematoda dari contoh tanah dan akar dapat dilakukan dengan metode ekstraksi Corong Baermann, kemudian mengamati bentuk dan bagian dari nematoda dengan menggunakan mikroskop.

5.2.      Saran

        Saran untuk praktikum selanjutnya adalah untuk mengamati percobaan yang dilaksanakan agar lebih teliti dan peralatan laboratorium lebih di perlengkap agar praktikum berjalan lebih baik lagi.   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Dropkin, V. H. 1992. Pengantar Nematologi Tumbuhan. Universitas Gadjah Mada.Yogyakarta.

 

Hutagalung, L., 2008. Teknik dan Membuat Preparat Nematoda Parasit Tumbuhan. Rajawali Press. Jakarta.

 

Mustika, I. dan Y. Nuryani. 2006. Strategi Pengendalian Nematoda Parasit Pada Tanaman Nilam. Balai Penelitian Rempah dan Obat Bogor. Jurnal Litbang Pertanian, 25 (1). 2006. hal. 7-15. (http://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/psp/article/download/2930/2557). Diakses pada 26 Mei 2019 Pukul 19.42 WIB. PDF.

 

Pracaya. 2008. Hama dan Penyakit Tanaman. Penerbit Penebar Swadaya. Jakarta.

Setiawati, dkk. 2007. Petunjuk Teknis Budidaya Tanaman Sayuran. Balai Penelitian Sayuran. Bandung.

 

Subagia, 2008. Hama dan Penyakit Tanaman Edisi Revisi. Penebar Swadya. Jakarta.

 

Yadi, Mochamad. 2015. Identifikasi nematoda puru akar, Meloidogyne graminicola, pada tanaman padi di jawa barat. (https://downolad.portalgaruda.org). Jurnal fitologi. Vol 11 (4). Hlm 113-120. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini