LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR AGRONOMI
BUDIDAYA MENTIMUM DENGAN PENGOLAHAN TANAH SECARA KONVENSIONAL

DOSEN PENGAMPU: KAMILAH, SP.,MP
KELOMPOK V
DEVI CERITASARI CAA 117 012
ASMARA CAA 117 024
PRANATHA SINAGA CAA 117 086
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
|
DAFTAR ISI
Halaman
COVER........................................................................................................ i
DAFTAR ISI................................................................................................ ii
DAFTAR TABEL........................................................................................ iii
I. PENDAHULUAN.............................................................................. 1
1.1. Latar Belakang............................................................................ 1
1.2. Tujuan Praktikum....................................................................... 2
II. TINJAUAN PUSTAKA...................................................................... 3
2.1. Pengolahan Tanah Secara Konvensional................................... 3
2.2. Faktor yang Memengaruhi Pertumbuhan Tanaman
Mentimun (Cucumis sativus L)................................................. 3
2.3. .Klasifikasi dan Morfologi Mentimun (Cucucmis sativus L).... 4
2.4. Kandungan Nutrisi dan Manfaat Mentimun (Cucumis sativus L) 5
III. BAHAN DAN METODE..................................................................... 7
2.1. Waktu dan Tempat...................................................................... 7
2.2. Bahan dan Alat............................................................................ 7
2.3. Prosedur Kerja............................................................................ 7
IV. PEMBAHASAN ................................................................................ 9
3.1. Hasil Pengamatan....................................................................... 9
3.2. Pembahasan................................................................................. 11
V. ... PENUTUP ......................................................................................... 13
4.1. Kesimpulan................................................................................. 13
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Kebutuhan Pupuk Tanaman Mentimun dalam petak 1 m x 3 m...... 9
Tabel 2. Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman mentimun............................... 10
Tabel 3. Hasil Penimbanagan Bobot Tanaman Mentimum (gr)................. 11
I.
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Mentimun (Cucumis sativus L.) berasal dari bagian utara India kemudian masuk ke Cina pada tahun 1882 De Condole memasukkan tanaman ini ke daftar tanaman asli India. Pada akhirnya tanaman ini menyebar ke seluruh dunia terutama di daerah tropika. Tanaman mentimun merupakan komoditas sayuran yang mulai memasuki pasaran ekspor, sebagai sayuran dalam bentuk buah segar. Penyebaran dan produksi mentimun di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Tanaman mentimun dapat diusahakan di dataran rendah sampai dataran tinggi. Namun di Indonesia kebanyakan di tanam di dataran rendah. Berbagai jenis lahan sawah, tegalan, dan lahan gambut dapat ditanami tanaman ini. Selain itu, mentimun juga dapat ditanam sebagai tanaman sela diantara tanaman palawija atau sayuran lainnya. Jenis sayuran ini juga dapat ditanam dengan pola tumpang sari ataupun tumpang gilir. Pada dasarnya tanaman mentimun dapat tumbuh dan beradaptasi di hampir semua jenis tanah. Tanah mineral yang bertekstur ringan sampai pada tanah yang bertekstur berat dan juga pada tanah organik seperti gambut dapat diusahakan sebagai tempat budidaya mentimun. Peningkatan produksi mentimun dapat dipacu dengan usaha intensifikasi, ekstensifikasi dan diversifikasi harus dilakukan secara terpadu. Pengembangan budidaya mentimun mempunyi penting dan sumbangan yang cukup besar terhadap peningkatan taraf hidup petani, penyediaan bahan pangan bergizi, serta perluasan kesempatan kerja dapat diandalkan sebagai satu komoditas ekspor non migas dari sektor pertanian (Rukmana, 1994).
Pengolahan lahan sebelum ditanami dilakukan agar menciptakan keadaan tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman. Tujuan pengolahan tanah adalah untuk menyiapkan tempat persemaian, tempat bertanam, menciptakan daerah perakaran yang baik, membenamkan sisa tanaman, dan memberantas gulma. Mengolah tanah adalah untuk menciptakan sifat olah yang baik, dan sifat ini mencerminkan keadaan fisik tanah yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman. Cara pengolahan tanah sangat mempengaruhi struktur tanah alami yang baik yang terbentuk karena penetrasi akar atau fauna tauna, apabila pengolahan tanah terlalu intensif maka struktur tanah akan rusak. Pelaksanaan pengolahan tanah pada prinsipnya adalah tindakan pembalikan, pemotongan, penghancuran, dan perataan tanah. Struktur tanah yang semula padat diubah menjadi gembur, sehingga sesuai bagi perkecambahan benih dan perkembangan akar tanaman. Bagi lahan basah sasaran yang ingin dicapai adalah lumpur halus, yang sesuai bagi perkecambahan benih dan perkembangan akar tanaman. Alat untuk pengolahan tanah mulai yang tradisional sampai modern (Arsyad 2000).
Manfaat mempelajari pengolahan lahan dan budidaya tanaman diantaranya adalah untuk mengetahui cara pengolahan lahan yang baik dan benar, mengetahui dosis pemupukan dan cara pemupukan, mengetahui cara budidaya tanaman mentimun dari menanam, merawat, memanen, pengolahan hingga pemasaran.
1.2. Tujuan Praktikum
Tujuan Praktikum Dasar Agronomi untuk:
1. Melakukan pengolahan tanah sebagai bagian dari persiapan sebelum tanam.
2. Dapat mebedakan pengolahan tanah secara penuh atau konvensional dan minimum untuk keperluan budidaya tanaman.
3. Mengetahui cara budidaya tanaman mentimun (Cucumis sativus L.).
II.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengolahan Tanah Secara Konvensional
Pengolahan tanah di tingkat petani umumnya dilakukan dengan mengolah tanah secara intensif sampai gembur pada seluruh permukaan tanah setiap akan menanam dan biasanya dilakukan 2-3 kali pembajakan baik dengan bajak mesin maupun ternak. Cara pengolahan tanah tersebut disebut pengolahan konvensional
(conventional tillage). Cara pengolahan tanah secara konvensional seperti demikian dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan tanaman secara optimal, tetapi dampak positif tersebut hanya sementara, karena untuk jangka panjang akan berdampak negatif terhadap produktivitas lahan dan tanaman (Rosliani et al. 2010).
2.2. Faktor yang Memengaruhi Pertumbuhan Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L.).
Pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan pada umumnya dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal diantaranya adalah: a). Nutrisi, nutrisi pada tumbuhan berupa mineral yang terbagi menjadi tiga yaitu unsur makroelemen yang terdiri dari C,H,O, N, S, P, Ca, Mg, dan Fe, unsur mikroelemen, yang terdiri dari Mn, Cu, Zn, Co, Na, Mo, dan B, unsur tambahan terdiri dari Al, Au, Si, dan Ni, b). Air, air sangat diperlukan dalam perkecambahan biji. saat perkecambahan air digunakan untuk mengaktifkan enzim-enzim dalam biji. tanpa adanya air percambahan akan tertunda atau dormansi, c). Suhu, merupakan faktor lingkungan yang penting bagi pertumbuhan karena berhubungan dengan kemampuan melakukan fotosintesis, traslokasi, respirasi, dan transpirasi. Tumbuhan memerlukan suhu sekitas 10°-38°C, d). Cahaya, cahaya matahari berperan penting dalam proses fotosintesis. Cahaya yang dibutuhkan tumbuhan jumlahnya tidak boleh terlalu banyak, dan juga tidak boleh terlalu sedikit. Cahaya yang berlebihan justru akan menghambat pertumbuahaan sedangkan kekurangan cahaya akan berdampak buruk pada pertumbuhan perkkecambahan, e). Kelembaban, kelembaban udara atau tanah sangat cocok untuk pertumbuhan kecambah. Hal ini karena udara atau tanah yang lembab akan menyediakan cukup air untuk mengaktifkan enzim dalam biji serta melarutkan makanan dalam jaringan. Faktor internal terdiri dari dua komponen yaitu gen dan hormon. a). Gen, bertanggung jawab dalam pewarisan sifat melalui perkembangbiakan juga berperan penting sebagai pembawa kode untuk pemebentukan protein, enzim dan hormon yang berperan penting dalam mengatur metabolisme untuk pertumbuhan. Gen akan diturunkan oleh induk dan akan berpengaruhh pada ukuran dan bentuk tubuh tanaman, b). Hormon, dalam tanaman ada 6 horomon yang memengaruhi pertumbuhan yaitu hormon auksin, giberellin, gas etilen, sitokinin, adan asam absisat (Letus, 2016).
2.3. Klasifikasi dan Morfologi Mentimun (Cucumis sativus L.).
Mentimun dapat diklasifikasikan kedalam:
|
kingdom |
: plantae |
|
divisio |
: Spermatophyta |
|
Subdivisio |
: Angiospermae |
|
Kelas |
: Dikotyledonae |
|
Ordo |
: Cucurbitales |
|
Famili |
: Cucurbitales |
|
Genus |
: Cucumis |
|
Spesies |
: Cucumis sativus L. |
Tanaman mentimun berakar tunggang, akar tunggangnya akan tumbbuh lurus kedalam tanah sampai kedalaman 20 cm. Perakaran tanaman mentimun dapat tumbuh dan berkembang pada tanah yang berstruktur remah. Mentimun merupakan tanaman semusim (annual) yang bersifat menjalar atau memanjat dengan perantaraan pemegang yang berbentuk pilin spiral. Batangnya basah serta berbuku-buku. Panjang atau tinggi tanaman dapat mencapai 50-250 cm, bercabang dan bersulur yang tumbuh pada sisi tangkai daun (Rukmana, 1994). Daun tanaman mentimun berbentuk bulat dengan ujung daun runcing berganda dan bergerigi, berbulu sangat halus, memiliki tulang daun menyirip dan bercabnng-cabang, kedudukan daun tegap. Mentimun berdaun tunggal, bentuk, ukuran dan kedalaman lekuk daun mentimun sangat bervariasi. Bunga mentimun merupakan bunga sempurna, berbentuk terompet dan berukuran 2-3 cm, terdiri dari tangkai bunga dan benangsari. Kelopak bunga berjumlah 5 buah, berwarna hijau dan berbentuk ramping terletak dibagian bawah tangkai bunga. Mahkota bunga terdiri dari 5-6 buah, berwarna kuning terang dan berbentuk bulat. Buah mentimun muda berwarna antara hijau, hijau gelap, hijau muda, dan hijau keputihan sampai putih tergantung kultivar, sementara buah mentimun tua berwarna coklat, coklat tua bersisik, kuning tua. Diameter buah mentimun antara 12-25 cm. Biji timun berwarna putih, berbentuk bulat lonjong (oval) dan pipih. Biji mentimun diselaputi oleh lendir dan saling melekat pada ruang-ruang tempat biji tersusun dan jumlahnya sangat banyak. Biji-biji ini dapat digunakan untuk perbanyakan dan pembiakan (Soewito, 1990).
2.4. Kandungan Nutrisi dan Manfaat Mentimun (Cucumis sativus L.).
Mentimun umumnya sangat digemari oleh masyarakat dan dikonsumsi dalam bentuk lalapan, sari buah, asinan, acar, dan lain-lain. Nilai gizi mentimun cukup baik karena sayuran buah ini mengandung mineral dan vitamin. Kandungan nutrisi per 100 g mentimun terdiri dari 15 kalori, 0,8 protein, o,1 pati, 3 g karbohidrat, 30 mg fosfor, 0,5 mg besi, 0,02 thianine, 0,01 riboflavin, natirum 5,00 mg, niacin 0.10 mg, abu 0,40 mg, 14 mg asam, 0,45 IU vitamin A, 0,3 IU vitamin B1 dan 0,2 IU vitamin B2. Di samping itu, buah mentimun juga dapat digunakan sebagai obat-obatan tradisional seperti untuk sakit tenggorokan dan panas dalam, sebagai bahan industri terutama di bidang kosmetik untuk dijadikan pencuci muka. kandungan mineral yang terdapat didalam buah mentimun maka mentimun banyak di konsumsi ataupun dijadikan bahan baku industri. Buah mentimun disajikan dalam bentuk olahan segar seperti acar, asinan, kimchi, salad dan lalap. Mentimun dapat pula dikonsumsi sebagai minuman segar, berupa jus mentimun yang diminum secara rutin setiap 2 hari sekali berkhasiat untuk menghaluskan kulit, menjaga kerusakan kulit dari sengatan sinar matahari, dan dapat pula menurunkan panas dalam. Bahkan mentimun yang dikukus dan di simpan sehari semalam lalu dikonsumsi langsung akan berkhasiat mengurangi sakit tenggorokan dan batuk (Rukmana, 1994).
III.
BAHAN DAN METODE
3.1. Waktu dan Tempat
Kegiatan praktikum Dasar Agronomi untuk dengan materi Budidaya Mentimun dengan Pengolahan Lahan Secara Konvensional dilaksanakan selama 2 bulan 13 hari dimulai tanggal 1 November 2018 - 13 Januari 2019. Bertempat di Lahan percobaan Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Palangka Raya.
3.2. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan pada Praktikum Dasar Agronomi dengan Materi Budidaya Mentimun dengan Pengolahan Lahan Secara Konvensional adalah benih mentimun varietas Ronaldo F1 merk dagang Bintang Asia, pupuk kandang ayam 5 kg, pupuk KCL 30 g, pupuk Urea 60 g, pupuk TSP 60 G, dan Furadan. Alat yang digunakan adalah cangkul, garu gembor, acir, tali, penanda atau sampel, penggaris, alat tulis, timbangan dan rafia.
3.3. Prosedur Kerja
Prosedur kerja yang dilakukan praktikum Dasar Agronomi Agronomi dengan Materi Budidaya Mentimun dengan Pengolahan Lahan Secara Konvensional adalah:
a. Membuat petak tanah seluas 1m x 3m.
b. Membersihkan petak dari gulma, mecangkul, menggemburkan dan meratakan tanah.
c. Menabur pupuk secara melajur sesuai garis tanam.
d. Membuat lubang tanam sebanyak 12 lubang.
e. Menanam benih mentimun yang dicampur dengan Furadan secara langsung pada lubang tanam.
f. Menyiram tanaman apabila keadaan tanah kering.
g. Mencabut gulma.
h. Mengukur tinggi tanaman setiap pekan.
i. Memberi acir pada setiap tanaman.
j. Mengendaliakan hama secara fisik dengan menangkap langsung hama dan secara kimiawi dengan menyemprot insektisida merek dagang Decis dengan bahan aktif Deltametrin 25 g/l.
IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Pengamatan
Tabel 1. Kebutuhan Pupuk Tanaman Mentimun dalam petak 1 m x 3 m
|
No |
Jenis Pupuk |
Kandungan Unsur Hara |
Dosis Pupuk |
Waktu Pemupukan |
|
1 |
Pupuk kandang (ayam) |
- |
5 kg |
7 hari sebelum tanam |
|
2 |
SP 36 |
P |
60 gram |
7 hari setelah tanam |
|
3 |
Urea |
N |
60 gram |
7 hari setelah tanam (30 gr) dan muncul bunga (30 gr) |
|
4 |
KCL |
K |
30 gram |
7 hari setelah tanam (15 gr) dan muncul bunga (15 gr) |
Perhitungan kebutuhan dosis pupuk per petak (1 m x 3 m)
Diketahui : kebutuhan pupuk kandang ayam 16,67 ton/ha, pupuk SP 36 200 kg/ha, Urea 200 kg/ha dan KCL 100 kg ha, luas lahan 1 m x 3 m.
- Dosis Pupuk Kandang = (luas petak/1 ha) x dosis
DPK =
15 ton/ha
= 5 kg/Petak
-
SP 36 =
200 kg/ha = 60 g/petak
-
Urea =
200 kg/ha = 60 g/petak
-
KCL =
100 kg/ha = 30 g/petak
Tabel 2. Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman mentimun
|
No |
HST |
Tanggal |
Sampel |
Tinggi Tanaman (cm) |
|
1 |
7 hst |
15-11-2018 |
I |
7 |
|
II |
2 |
|||
|
III |
7,5 |
|||
|
IV |
5,5 |
|||
|
V |
5 |
|||
|
Rata-rata |
4,67 |
|||
|
2 |
14 hst |
22-11-2018 |
I |
26 |
|
|
II |
6,5 |
||
|
III |
28,5 |
|||
|
IV |
19 |
|||
|
V |
22 |
|||
|
Rata-rata |
22, 33 |
|||
|
3 |
21 hst |
29-11-2018 |
I |
45 |
|
II |
28 |
|||
|
III |
46,5 |
|||
|
IV |
49 |
|||
|
V |
54 |
|||
|
Rata-rata |
44 |
|||
|
4 |
28 hst |
6-12 – 2018 |
I |
65 |
|
II |
36,5 |
|||
|
III |
52 |
|||
|
IV |
67 |
|||
|
V |
62 |
|||
|
Rata-rata |
61,5 |
|||
|
5 |
35 hst |
13-12-2018 |
I |
80 |
|
II |
44,5 |
|||
|
III |
67 |
|||
|
IV |
86,5 |
|||
|
V |
79,5 |
|||
|
Rata-rata |
73,5 |
|||
|
6 |
42 hst |
21-12-2018 |
I |
79 |
|
II |
47 |
|||
|
III |
69 |
|||
|
IV |
94 |
|||
|
V |
80 |
|||
|
Rata-rata |
73,8 |
|||
Tabel 3. Hasil Penimbanagan Bobot Tanaman Mentimum (gr)
|
No |
Sampel |
Bobot Tanaman (gr) |
|
1 |
I |
42 |
|
2 |
II |
0 |
|
3 |
III |
103 |
|
4 |
IV |
371 |
|
5 |
V |
69 |
|
Jumlah Bobot |
585 |
|
|
Rata-rata |
117 |
|
4.2. Pembahasan
Praktikum Dasar Agronomi
dengan materi Budidaya Mentimun dengan Pengolahan Lahan Secara Konvensional
dilaksanakan dalam petak seluas 1 m
3 m. Pengolahan lahan
dilakukan dengan dibersihkan dari gulma, dicangkul hingga gembur, diaplikasikan
dengan pupuk kandang ayam yang diberikan pada jalur tanam, kemudian lahan
didiamkan selama 1 pekan agar proses dekomposisi terjadi dengan baik sebelum
ditanami. Dalam 1 petak terdapat 12 lubang tanam dalam satu lubang ada satu
tanaman dengan jarak 50 cm x 40 cm. Benih mentimum yang digunakan adalah
varietas Ronaldo F1 merk dagang Bintang Asia. Benih mentimun ditanam langsung
dalam lubang tanam dan diberi Furadan agar tidak dimakan oleh serangga dalam
tanah dengan kedalaman sekitar 2 cm setelah aplikasi pupuk kandang.
Perawatan yang dilakukan adalah membersikan tanaman dari gulma, melakukan
pembumbunan, menyiram tanaman dengan air apabila keadaan tanah kering,
pemupukan, menyemprot dengan pestisida dan memberikan ajir pada setiap tanaman
agar tanaman dapat merambat pada ajir. Tanaman diserang oleh hama oteng-oteng
sehingga disemprot menggunakan insektisida dengan merek dagang Decis yang
berbahan aktif Deltametrin 25 g/l.
Pemupukan dasar menggunakan pupuk kandang ayam yang diberikan sebanyak 5 kg per petak, dilakukan satu pekan sebelum ditanamani. Pemupukan kimia dilakukan satu pekan setelah penanaman benih, pupuk yang diberikan yaitu SP 36 dengan kandungan unsur hara adalah P (Fosfor) dosis yang diberikan yaitu 60 gram /petak, pupuk Urea dengan kandungan hara N (Nitrogen) diberikan dua kali yaitu 1 mst 30 gram dan tanaman mulai berbunga 35 hst 30 gram, pupuk KCL dengan kandungan hara K (Kalium) diberikan dua kali yaitu 1 mst 15 gram dan tanaman mulai berbunga 35 hst 15 gram, dimana kebutuhan pupuk telah dihitung berdasarkan perhitungan rumus luas petak dibagi satu hektar dan dikali dengan dosis pupuk per hektar.
Pengukuran tinggi tanaman dilakukan enam kali dimana pengukuran dilakukan dari mulai tumbuh kotiledon sampai cabang teratas. Sampel yang diambil adalah lima tanaman dengan pola acak. Pengukuran dimulai dari 7 hst dimana rata-rata tinggi tanaman 5 sampel adalah 4,67 cm, pada 14 hst rata-rata tinggi tanaman adalah 23,33 cm, pada 21 hst rata-rata tinggi tanaman adalah 44 cm, pada 28 hst rata-rata tinggi tanaman adalah 61,5 cm, pada 3 hst rata-rata tinggi tanaman adalah 73,5 cm dan pada 42 hst rata-rata tinggi tanaman adalah 73,8 cm.
Pemanenan dilakukan setelah 49 hst dengan sampel I bobot buah setelah ditimbang adalah 42 gram, sampel II mati, sampel III bobot buah 103 gram, sampel IV bobot buah 371 gram, dan sampel V bobot buah 69 gram. Jumlah bobot total kelima sampel adalah 585 gram dan rata-rata bobot tanaman adalah 117 gram.
V.
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh dari praktikum Dasar Agronomi Dengan Materi Budidaya Mentimun dengan Pengolahan Lahan Secara Konvensional adalah:
1. Pengolahan tanan sebelum ditanam dilakukan dengan membersihkan dahulu tumbuhan-tumbuhan yang ada dia atas tanah, mencangkul tanah menggunakan cangkul, menggemburkan tanah menggunakan cangkul dan garu, dan meratakan tanah.
2. Pengolahan tanah secara konvensional adalah olah tanah yang dilakukan secara intensif, yaitu dengan mengolah seluruh areal tanah yang akan ditanami. Cara ini merupakan cara pengolahan tanag yang umum dilakukan oleh petani. Pengolahan tanah minimum adalah pengolahan tanah yang dilakukan secara terbatas hanya pada areal yang akan ditanami atau seperlunya saja tanpa melakukan pengolahan tanah pada seluruh areal.
3. Cara budidaya tanaman mentimun yaitu mengolah lahan, menggemburkan tanah, meratakan tanah, menabur pupuk dasar pupuk kandang ayam, menanam benih mentimum setelah 7 hari penaburan pupuk dasar, melakukan perawatan yaitu: penyiangan, pembubunan, penyiraman, pengendalian hama secara fisik dan kimiawi, merambatkan, memberi acir , memberikan pupuk kimia pertama dan susulan setelah tanaman berbunga, dan pemanenan.
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad 2000. Pengawetan Tanah dan Air. Departemen Ilmu-Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Letus. 2016. Biologi Untuk Sma Kelas XII IPA. Odows Photograph. Palangka Raya.
Rosliani,R.,N. Dkk. Pengaruh cara pengelolaan tanah dan tanaman kacang-kacangan sebagai tanaman penutup tanah terhadap kesuburan tanah dan hasil kubis di dataran tinggi. http://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/jhort/article/view/751No 20 (1) 36:44. Diakses pada 12 Januari 2019.
Rukmana, R.1994. Budidaya Mentimun. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Soewito, S. D. 1990. Memanfaatkan Lahan Bercocok Tanaman Mentimun. CV Titik Terang. Jakarta.
Sumpena, U. 2001. Budidaya Mentimun. Penebar Swadaya. Jakarta. Hlm 1 dan 19
LAMPIRAN
|
|
|
|
|
Pembersihan gulma |
Penggemburan |
Penaburan pupuk dasar pupuk kandang ayam
|
|
|
|
|
|
Pengukuran jarak tanam |
Benih mentimun dan Furadan
|
penanaman |
|
|
|
|
|
Pemberian sungku batang daun pisang
|
Mentimum 3 hst |
Tanaman yang diserah hama oteng-oteng |
|
|
|
|
|
Hama oteng-oteng |
Pemupukan kimia |
Penhukuran tinggi tanaman
|
|
|
Pembumbunan |
Pemberian ajir dan tali
|
|
|
|
|
|
Sampel 1 |
Sampel 3 |
Sampel 4
|
|
|
|
|
|
Sampel 5 |
Hasil panen |
|





















Komentar
Posting Komentar