TEKNIK PENGAMATAN ORGANISME PENGANGGU TANAMAN DAN KOLEKSI GEJALA PENYAKIT TUMBUHAN DAN KOLEKSI SERANGGA

DEVI CERITASARI

CAA 117 012


I. PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang

Terung (Solanum melongena L.) merupakan salah satu jenis tanaman penting hortikultura dari famili Solanaceae. Terung sangat populer di kalangan masyarakat dan banyak dibudidayakan di Indonesia. Buah terung dikonsumsi masyarakat dalam bentuk sayuran atau lalapan. Terung termasuk sayuran yang digemari masyarakat karena memiliki kandungan gizi yang cukup lengkap, antara lain kalsium, protein, lemak, karbohidrat, vitamin A, vitamin B, vitamin C, fosfor, dan zat besi. Tanaman terung sudah dikenal sejak jaman India kuno sehingga tanaman ini dianggap berasal dari Asia. Pada awalnya terung merupakan tanaman liar yang berasal dari India dan Burma yang kemudian tersebar luas ke bagian utara Thailand, Laos, Vietnam, dan China. Terung dapat ditanam di dataran rendah sampai dataran tinggi dan dapat tumbuh sepanjang tahun. Tanaman terung tergolong dalam tanaman perdu tahunan yang berumur pendek dan dapat tumbuh baik dengan pH tanah 5.5 sampai 6.5. Tanah yang cocok untuk pertumbuhan terung secara optimal adalah tanah lempung berpasir dan berdrainase baik. Buah terung memiliki berbagai bentuk tergantung dari varietasnya. Ada yang berbentuk bulat, bulat telur, oval, dan memanjang. Buah terung termasuk jenis buah berdaging yang memiliki warna beraneka ragam dari ungu mengkilat, kuning, putih, hijau, sampai hitam. Keanekaragaman warna dari buah terung dipengaruhi oleh kandungan klorofil dan antosianin. Spesies terung yang ditemukan di Indonesia antara lain Solanum melongena, S. macrocarpon, S.khasianum, S. americanum, S. torvum, dan S. ferox. Solanum melongena merupakan spesies yang paling dikenal dibandingkan dengan spesies lainnya karena paling banyak di konsumsi oleh masyarakat. Tanaman terung dapat tumbuh di sepanjang tahun sehingga menjadi sasaran serangga hama dari tahap pembibitan sampai panen. Kumbang Epilchna sp. merupakan salah satu hama yang dilaporkan menyerang tanaman terung di Indonesia. Serangga ini bersifat polifag dan memakan beberapa tanaman dari famili Solanaceae. Baik larva maupun imago merusak tanaman dengan cara memakan lapisan epidermis bawah daun dan menyisakan lapisan epidermis atas daun Tanaman terung rentan terhadap beberapa patogen yang menginfeksi tanaman dari famili Solanaceae. Penyakit-penyakit tersebut antara lain busuk buah (Phomopsisvexans), antraknosa (Colletotrichum melongenae), layu Fusarium (Fusarium oxysporum f.sp melongenae), bercak daun (Alternaria sp.), dan bercak Cercospora(Cercospora sp.) Penyakit yang telah dilaporkan menyerang tanaman terung di Indonesia antara lain bercak daun, busuk leher akar, rebah semai, busuk buah, antraknosa, dan layu bakteri (Semangun 1989).

Kecipir (Psophocarpus tetregonolobus) adalah tanaman setahun yang berbentuk perdu. Tanaman ini membentuk umbi serta bersifat membelit ke kiri. Di Jawa Barat, kecipir dikenal dengan nama jaat dan di luar negeri disebut wing bean. Kecipir biasanya dapat berumbi besar dan enak dimakan, daunnya tidak berbau langu. Buahnya berwarna hijau, panjang bisa mencapai 20 cm, berbentuk segiempat, serta setiap seginya berusuk dan bersayap. Rasanya enak serta lunak. Bijinya bulat, berwarna kuning pada saat muda dan berwarna coklat pada saat tua dengan rasa yang langu. Kecipir termasuk dalam ordo Leguminales yang mempunyai cirri khas yaitu terdapat buah yang disebut polong, yaitu buah yang berasal dari satu daun dengan atau tanpa sekat semu. Bila masak dan kering buah akan pecah, sehingga biji terlontar keluar atau buah terputus-putus menjadi beberapa bagian menurut sekat-sekat semunya. Diantara anggota yang lain, kecipir banyak mengandung zat gizi yang tinggi karena kandungan gizi seperti protein, lemak, dan vitamin dalam bijinya, Kecipir yang dibudayakan di Indonesia terdiri dari 2 (dua) jenis, yaitu kecipir berbunga ungu yang polongnya berukuran pendek (15-20 cm) dan kecipir berbunga putih dengan ukuran polong yang panjang (30-40 cm) dan biji yang relatif kecil. Yang paling banyak ditanam di Indonesia adalah yang berpolong pendek dengan jumlah buah yang banyak (Borror DJ, 1996).

1.2.   Tujuan Praktikum

Tujuan Praktikum Dasar - Dasar Perlindungan Tanaman dengan materi Teknik Pengamatan Organisme Pengganggu Tanaman dan Koleksi Gejala Penyakit Tumbuhan dan Koleksi Serangga adalah sebagai berikut:

a.        Agar mahasiswa dapat mengetahui dan mampu melaksanakan teknik pengamatan organisme penganggu tanaman (OPT).

b.       Agar mahasiswa dapat mengetahui bahwa pengamatan OPT merupakan komponen kegiatan perlindungan tanaman.

c.        Dari pengenalan spesimen gejala penyakit tumbuhan dan serangga di laboratorium mahasiswa diharapkan lebih mengenal gejala penyakit tumbuhan serta jenis serangga hama, parasit dan predator lapangan.

d.       Agar mahasiswa mampu membuat spesimen gejala penyakit tumbuhan dan ordo serangga hama, parasite dan predator serta tahapan metamorfosis.


 

II.TINJAUAN PUSTAKA

2.1.     Pengertian OPT dan PHT

Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) adalah semua organisme yang dapat merusak, menggangu kehidupan atau menyebabkan kematian pada tumbuhan.Organisme penganggu tanaman merupakan faktor pembatas produksi tanaman baik tanaman pangan, hortikultura maupun perkebunan. Organisme pengganggu tanaman secara garis besar dibagi menjadi tiga yaitu hama, penyakit dan gulma. Organisme pengganggu tanaman merupakan salah satu penghambat produksi dan penyebab ditolaknya produk tersebut masuk ke suat negara, karena dikawatirkan akan menjadi hama baru di negara yang ditujunya. Masih banyak permasalahan OPT yang belum tuntas penanganannya dan perlu kerja keras untuk mengatasinya dengan berbagai upaya dilakukan, seperti lalat buah pada berbagai produk buah dan sayuran buah dan virus gemini pada cabai. Selain itu, dalam kaitannya dengan terbawanya OPT pada produk yang akan diekspor dan dianalis potensial masuk, menyebar dan menetap di suatu wilayah negara, akan menjadi hambatan yang berarti dalam perdagangan internasional. Sedangkan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yaitu merupakan cara pengelolaan pertanian dengan setiap keputusan dan tindakan yang diambil selalu bertujuan meminimalisasi serangan OPT, sekaligus mengurangi bahaya yangditimbulkannya terhadap manusia, tanaman, dan lingkungan. Sistem PHT memanfaatkan semua teknik dan metode yang cocok (termasuk biologi, genetis, mekanis, fisik, dan kimia) dengan cara seharmoni mungkin, guna mempertahankan populasi hama berada dalam suatu tingkat di bawah tingkat yang merugikan secara ekonomis. Dengan demikian, biaya perlindungan tanaman dapat di kurangi, terlebih lagi apabila pengendalian OPT menggunakan pestisida hayati, sehingga dampak negatif terhadap produk hortikultura dari residu pestisida dan pencemaran lingkungan hampir tidak ada (Semangun, 1996).

 

 

 

2.2.    Teknik Pengamatan OPT

Teknik pengamatan organisme pengganggu tanamandilakukan dengan pengumpulan data untuk memperoleh informasi dalam rangka mencapai tujuan penelitian. Saat pengambilan data digunakan beberapa metode yang sering dipakai adalah tehnik petak sampel tetap dan petak sampel keliling, teknik petak sampel tetap yaitu bertujuan untuk mengetahui perubahan kepadatan populasi dan intensitas serangan OPT, kepadatan populasi musuh alami yang efektif serta besarnya curah hujan, yang dilakukan secara berkala pada lokasi atau alat yang mewakili bagian luas wilayah tersebut. Sedangkan tehnik petak sampel keliling yaitu dilakukan dnegan menjelajahi wilayah pengamatan untuk mengetahui luas tanaman terserang dan terancam, meliputi luas pengendalian, bencana alam, dan informasi tentang penggunaaan dan penyimpanan pestisida (Semangun, 1996).

2.3.      Pengertian Herbarium dan Insektarium

Herbarium adalah kumpulan tumbuhan kering yang dipres dan ditempelkan pada lembaran kertas, biasanya kertas manila yang menghasilkan suatu label dan data yang rinci serta disipan dalam rak-rak atau lemari besi dalam urutan menurut aturan dimana herbarium itu disimpan. Herbarium sangat penting untuk digunakan dalam pekerjaan taksonomi.Herbarium terdiri dari koleksi kering dan koleksi basah.Koleksi basah tidak dipres dan merupakan specimen-spesimen hidup yang dipelihara dengan baik.Tiap-tiap specimen digunakan untuk mengidentifikasi specimen-spesimen baru yang tidak diketahui namanya. Prosesnya dengan cara membandingkan antara tanaman yang ingin diketahui namanya dengan specimen yang suda diketahui namanya yang ada pada tempat-tempat penyimpanan herbarium atau untuk mempelajari morfologi paku (serbuk sari). Sedangkan insektarium yaitu Wadah pemeliharaan dan pembiakan serangga yang kehidupannya diteliti atau diamati. Untuk bertahan hidup serangga membutuhkan tempat yang relatif tidak terganggu di kebun dengan sumber makanan yang memadai, akses ke air, perlindungan dari unsur-unsur dan pemangsa mereka dan tempat untuk bertelur, (Sutakarya, J. 1981)


 

III. BAHAN DAN METODE

3.1. Waktu dan Tempat

Praktikum Dasar-dasar Perlindungan Tanaman dengan materi Teknik Pengamatan dan Koleksi  Organise Penganggu Tanaman (OPT). Dilaksanakan pada hari Sabtu 22 juni 2019 pukul 7.30-13 WIB. Bertempat di kelompok tani Karya Muda, Kelurahan Banturung, Kecamatan Bukit Batu, Palangka Raya.

3.2.   Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan pada saat Praktikum Dasar-dasar Perlindungan Tanaman dengan materi Teknik Pengamatan dan Koleksi  Organise Penganggu Tanaman (OPT). adalah Berupa hamparan lahan yang ditanami tanaman pangan kecipir, dan terong, alkohol. Sedangkan alat yaitu Tali rapia, patok, jaring serangga, pengepres.

3.2.  Cara kerja

Cara kerja dalam praktikum Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman dengan materi Teknik Pengamatan Organise Penganggu Tanaman (OPT) adalah sebagai berikut.

3.3.1. Pengambilan Contoh petak lahan

1.       Pengambilan contoh dilakukan dengan metode diagonal

2.       Menentukan Pengamatan tiap petak sebanyak 3 luas petak.

3.       Mengaati intensitas serangan OPT, dan gejala penyakit tanaman.

3.3.2. Koleksi Gejala Penyakit Tumbuhan dan Koleksi serangga

1.    Mengambil beberapa sampel pada tanaman terserang penyakit dan menggunakan jaring untuk  menangkap serangga

2.  Melakukan penyemprotan alkohol ke daun tanaman terserang penyakit dan mencelupkan serangga dengan air alkohol

3.    Membuat herbarium dan insektarium pada daun tanaman terserang penyakit dan serangga.

 

 

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil pengamatan

Tabel 1. Hasil Pengamatan Petak Lahan Tanaman Terung (Solanum melongena L)

 

No

 

Sampel Tanaman

Persentase serangan

Skala serangan

Hama

Penyakit

Hama

Penyakit

1

1

30 %

54 %

3

7

2

2

56 %

28 %

5

3

3

3

32 %

52 %

3

7

4

4

74 %

82 %

7

9

Intensitas serangan pada petak lahan

64 %

72 %

Berat

Berat

 

Tabel 2.Hasil Pengamatan Petak Lahan Tanaman Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus)

 

No

 

Sampel Tanaman

Persentase serangan

Skala serangan

Hama

Penyakit

Hama

Penyakit

1

1

50 %

34 %

5

5

2

2

65 %

46 %

5

5

3

3

52 %

40 %

3

5

4

4

58 %

65 %

5

7

5

5

75 %

77 %

7

9

Intensitas serangan pada petak lahan

71 %

68 %

Berat

Berat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.2. Pembahasan

4.2.1 Intensitas Penyakit

4.2.1.1 Penyakit Bercak Daun Terung

Gambar 1. Bercak daun terung

Sumber : (Google.com)

 

Rumus perhitungan intensitas penyakit mutlak pada tanaman Kecipir

I= x 100%

  = 31 x 100 %

     45

= 68%

Gejala awal tanaman yang terserang bercak daun ditandai dengan munculnya bercak coklat kehitaman pada permukaan daun, jika serangan sudah parah akan menyebabkan daun menjadi kuning seperti terbakar dan rontok. penyakit ini biasanya menyerang daun tua, dan pada musim hujan akan cepat menyebar keseluruh daun tanaman. Penyakit bercak daun ini akan menyebar dengan cepat pada saat curah hujan tinggi, karena pada kondisi ini keadaan sangat lembab sehingga cendawan cercospora berkembang dengan cepat.

Cara mengatasi bercak daun pada tanaman terong dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu cara manual dan kimiawi :a) Pengendalian manual, yaitu: Penggunaan benih yang berkualitas, mengatur jarak tanam terutama pada musim hujan saat kelembaban tnggi untuk mengurangi kelembaban tanaman, menggunakan mulsa plastik jika menanam di musim hujan, melakukan rotasi tanaman, melakukan sanitasi lahan dengan baik, membersihkan gulma atau rumput liar disekitar tanaman agar area tanaman tidak lembab, Jika tanaman sudah terserang, lakukan pemangkasan pada daun yang terinfeksi, selain untuk mencegah penularan tujuan dari pemangkasan adalah  agar cahaya matahari bisa masuk pada sela-sela tanaman untuk mengurangi kelembaban, pemangkasan daun sebaiknya dilakukan pada pagi hari, daun yang terinfeksi yang sudah dipangkas harus segera dibuang dan jangan diletakkan di sekitar tanaman karena bisa menular pada tanaman yang sehat, cara terbaiknya adalah dimusnahkan dengan cara dikubur atau dibakar. b) Pengendalian kimiawi, Untuk     pengendalian secara kimiawi penyakit bercak daun yang disebabkan oleh cendawan  cercospora yaitu : menggunakan fungisida kontak atau sistemik dengan rekomendasi bahan aktif yang bisa digunakan antara lain, difenokonazol, azoksistrobin + difenokonazol, propineb, klorotalonil dan sebagainya, dipadukan dengan pupuk kalsium sebagai penguat atau daya tahan terhadap tanaman sehingga tanaman bisa tahan terhadap serangan cendawan atau patogen lainnya, terutama pada musim hujan, untuk aplikasi fungisida pada musim hujan disarankan untuk menambahkan perekat fungisida, yang bertujuan untuk merekatkan fungisida pada tanaman, sehingga fungisida tidak mudah hilang tercuci air hujan jika setelah penyemprotan dilakukan hujan turun, Lakukan penyemprotan dari bagian bawah permukaan daun, dan untuk waktu aplikasi dan dosisnya sesuikan dengan anjuran yang tertera pada tabel kemasan pestisida yang digunakan.

4.2.1.2 Penyakit Gemini virus

Description: http://distanpangan.magelangkab.go.id/images/4475c8210bcaa1425fa140c9fbc2c3e3.jpg

 

 

 

 

 

Gambar 2. Gemini Virus

Sumber : (Dokumentasi Pribadi)

 

Virus kuning yang dikenal dengan nama ilmiah gemini virus (pepper yellow leaf curl) sudah merebak kemana-mana, bahkan mungkin setiap kali petani menanam cabai, sebagian kecil atau sebagian besar terkena virus ini. Seakan sulit dikendalikan, sejatinya bisa dicegah. Gejala serangan secara umum: Warna tulang daun berubah menjadi kuning terang, mulai dari daun-daun muda dibagian pucuk tanaman, berkembang menjadi warna kuning yang jelas, tulang daun menebal dan daun menggulung ke atas (cupping). Selanjutnya daun-daun mengecil dan berwarna kuning terang, tanaman  kerdil dan  biasanya produksi buah menurun dan lama-kelamaan tidak  berbuah sama sekali. Gejala di lapangan di tiap daerah biasanya tidak sama, tergantung dari jenis varietas cabai, ketinggian tempat dan lingkungan.

Pengendalian penyakit Gemini virus hingga saat ini belum ada zat kimia apapun yang mampu membasmi virus gemini.
Anjuran teknologi pengendalian virus kuning antara lain sebagai berikut  : a.  Pada Persemaian: Budidaya dengan menggunakan benih yang steril, sehat dan bukan berasal dari daerah terserang, enanam varietas yang agak tahan (karena tidak ada yang tahan) misalnya cabai Kopay Sumbarperendaman benih dengan larutan PGPR (Plant Growth Promotion Rhizobacter) , atau   Pf/Pseudomonas fluorescens dengan dosis 20 ml/liter air selama 6 – 12 jam). Menutup/mengerodongi persemaian sejak benih disebar untuk pencegahan masuknya vektor virus dengan menggunakan kasa/kelambu halus yang tembus sinar matahari. b.  Di Lapangan : Untuk menahan / membatasi masuknya vektor kutu kebul ke dalam petak tanaman, dilakukan penanaman tanaman border/pembatas lahan tanam dengan 6 baris tanaman jagung 3-4 minggu sebelum tanam cabai dengan jarak tanam rapat 15 – 20 cm atau tanaman border lainnya antara lain, orok–orok, dan pagar kelambu setinggi 2,8 – 3m dari tanah, penggunaan mulsa plastik hitam perak (MPHP) di dataran tinggi, dan jerami di dataran rendah untuk mengurangi infestasi serangga vektor dan mengurangi gulma, Penyiraman tanaman pada umur 1 minggu sebelum tanam dengan PGPR 20 cc / l air, dan dilanjutkan pada umur 20 HST dan 40 HST dengan konsentrasi 20 cc / l air dengan volume penyiraman 100 ml /tanaman,  bersamaan pemupukan susulan, Pemberian pupuk kandang/kompos minimal 20 ton/ha, Sanitasi lingkungan, mengendalikan gulma berdaun lebar dari jenis bebadotan, daun kancing, ciplukan dan gulma lainnya yang dapat menjadi inang virus dan  kutu kebul, Eradikasi tanaman sakit, yaitu tanaman yang menunjukkan gejala segera dicabut dan dimusnahkan dengan cara dibakar supaya tidak menjadi sumber penularan, Pemasangan perangkap likat kuning sebanyak 40 lembar/ha secara serentak di pertanaman, digantung/dijepit pada kayu/bambu setinggi 30 cm di atas tajuk daun guna mengurangi populasi vektor, Menjaga keberadaan parasit nympha, Encarsia formosa dan predator Monochilus siegmaculatus, dengan tidak menggunakan pestisida kimia sintetik secara tidak selektif, Rotasi tanaman dengan tanaman selain cabai dan bukan inang virus, terutama bukan dari famili Solanaceae (contoh : kentang, tembakau), dan famili Cucurbitaceae (contoh : mentimun, melon). Rotasi tanaman dilakukan dalam hamparan, tidak perorangan, serentak setiap satu musim tanam dan seluas mungkin.

 

4.2.1.3 Penyakit Layu Bakteri

Gambar 4. Layu Bakteri

Sumber : (Dokumentasi pribadi)

 

Penyakit layu bakteri pada tanaman terong disebabkan oleh bakteri Pseudomonas solanacearum. Pada gejala awal serangan penyakit layu bakteri ralstonia akan terlihat pada daun tanaman, daun-daun muda akan layu hingga ke ujung percabangan pada waktu cuaca panas tetapi kemudian akan terlihat segar pada malam hari ketika cuaca sedang dingin. Ketika penyakitnya berkembang pada kondisi yang disukai, seluruh bagian tanaman akan layu dengan cepat dan mengering walaupun warna tanaman tetap hijau. Gejala lainnya adalah daun menguning dan tiba-tiba tanaman mati. Gejala-gejala ini dapat saja muncul tiba-tiba, baik ketika tanaman masih muda, ataupun yang sudah berbuah.

Pengendalian penyakit layu bakteri pada tanaman terong dikendalikan dengan agens hayati BIO SPF dengan bahan aktif  Pseudomonas fluorescent, meningkatkan pH tanah dengan penambahan kapur dan memperbanyak asupan hara  mikro kalsium pada tanaman, penanaman kultivar tanaman yang tahan terhadap penyakit layu bakteri Ralstonia bisa dilakukan, mengaplikasikan beberapa Fungisida Hayati seperti Anfush atau Decoprima sebagai langkah awal sterilisasi lahan sebelum penanaman.

 

4.2.1.4 Penyakit karat daun kecipir

Gambar 4. Karat daun kecipir

Sumber : (Google.com)

 

Rumus perhitungan intensitas serangan penyakit pada tanaman kecipir :

I = (7x2) + (3x1) + (9x1)x 100%

                 9x4

  =  26   x100%

      36

  = 72 %

Penyakit karat merupakan penyakit penting kedua pada kacang tanah setelah bercak daun. Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Puccinia arachidis yang termasuk ke dalam ordo Uredinales, kelas Basidiomycetes. Pada umumnya, gejala terdapat pada permukaan daun bawah yang berupa pustul berwarna coklat seperti karat besi (Gambar 1). Jika pustul pecah terdapat sejumlah uredospora yang menyerupai tepung. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit karat yaitu: suhu, kelembaban, kecepatan angin, dan curah hujan. Siklus hidup kelompok cendawan penyebab penyakit karat (Puccinia) dapat berlangsung dua macam, yaitu aseksual dan seksual. Secara aseksual, uredospora akan berkecambah dan membentuk uredospora lagi, sedangkan secara seksual yaitu uredium berubah menjadi telium, kemudian membentuk basidium, basidium membentuk spermogonium (gamet +) dan hifa resesif (gamet -), dari persilangan ini terbentuk aesium, aesium akan berubah menjadi uredium.

Pengendalian yang dapat diterapkan antara lain adalah penanaman varietas tahan, penggunaan antagonis cendawan atau bakteri yang dapat bertindak sebagai agens pengendali P. arachidis, dan aplikasi fungisida nabati. Selain itu, untuk menganisipasi terdapatnya gulma yang yang menjadi inang lain perlu dilakukan tindakan sanitasi lingkungan. a. Penanaman varietas tahan: Sampai saat ini pengendalian yang sudah diterapkan di Indonesia adalah penggunaan varietas tahan. Beberapa varietas unggul baru kacang tanah tahan penyakit karat adalah Takar 1 dan Takar 2. Berkaitan dengan ketahanan kecipir terhadap penyakit karat, pada tahun 2009 telah dilakukan pengujian ketahanan terhadap penyakit tersebut. Hasil pengujian 120 genotipe koleksi plasma nutfah kecipir di Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, didapatkan satu genotipe yang tahan yaitu Mlg A-0099, tidak ditemukan genotipe agak tahan, 59 genotipe agak rentan, dan 60 genotipe rentan. Hal ini menunjukkan bahwa tidak mudah memperoleh ketahanan tanaman terhadap penyakit karat. Meskipun demikian, di masa yang akan datang ketersediaan berbagai varietas yang tahan penyakit karat harus terus dikembangkan karena cara pengendalian ini mudah dilakukan, ekonomis, dan ramah lingkungan. b. Sanitasi dan rotasi tanaman Penyebaran spora P. arachidis dapat melalui angin dan air. Hal ini agak menyulitkan dalam pengendalian. Sanitasi lingkungan di sekitar pertanaman kecipir diperlukan untuk mengurangi kelembaban, selain itu untuk mengantisipasi tumbuhnya gulma sebagai inang alternatif. Tindakan sanitasi jarang dilakukan dengan alasan tidak menguntungkan. Rotasi tanaman untuk pengendalian penyakit karat dimaksudkan untuk mengurangi inokulum awal. Salah satu hal yang dianjurkan adalah menanam tanaman budidaya bukan dari leguminosae. Penanaman bukan kacang tanah setelah kecipir akan memutus siklus hidup P. arachidis, namun jika di sekitarnya terdapat tanaman kacang tanah (pada lahan yang berbeda pemiliknya), maka infeksi P. arachidis terhadap kacang tanah yang dibudayakan tidak dapat dihindari. c. Pengendalian dengan agens hayati, Pengendalian dengan agens hayati dilakukan dengan mengaplikasikan mikroorganisme antagonis. Menurut Zadoks dan Schein (1979) cara pengendalian tersebut dapat meminimalkan jumlah inokulum awal dan mengurangi perkembangan penyakit. Keunggulan dari cara pengendalian tersebut adalah tidak mencemari lingkungan dan dengan satu kali aplikasi efek residunya dapat bertahan lama, sampai beberapa kali musim tanam.

 

4.2.1.5 Penyakit Hawar daun kecipir

Gambar 5. Hawar daun kecipir

Sumber : (Balitkabi.com)

 

Gejala kresek atau hawar daun sangat mirip dengan gejala sundep yang timbul akibat serangan penggerek batang pada fase tenaman vegetatif. Pada tanaman dewasa penyakit hawar daun bakteri menimbulkan gejala hawa (blight). Baik gejala kresek maupun hawar, gejala dimulai dari tepi daun, berwarna keabu-abuan dan lama-lama daun menjadi kering. Bila serangan terjadi saat berbunga, proses pengisian gabah menjadi tidak sempurna, menyebabkan gabah tidak terisi penuh atau bahkan hampa. Pada kondisi seperti ini kehilangan hasil mencapai 50-70 persen.

            Pengendalian penyakit hawar daun bakteri ini yaitu: 1.   Teknik Budidaya Penanaman Benih dan bibit sehat. Mengingat patogen penyakit HDB dapat tertular melalui benih maka sangat dianjurkan pertanaman yang terinfeksi penyakit HDB tidak digunakan sebagai benih. Bibit yang sudah terinfeksi /bergejala penyakit HDB sebaiknya tidak ditanam. Cara tanam. Untuk memberikan kondisi lingkungan yang kurang mendukung terhadap perkembangan penyakit HDB sangat dianjurkan tanam dengan system Legowo dan .menggunakan system pengairan secara berselang (intermitten irrigation). Sistem tersebut akan mengurangi kelembaban disekitar kanopi pertanaman, mengurangi terjadinya embun dan air gutasi dan gesekan daun antar tanaman sebagai media penularan pathogen. Pemupukan . Pupuk Nitrogen berkorelasi positif dengan keparahan penyakit HDB. Artinya pertanaman yang dipupuk Nitrogen dengan dosis tinggi menyebabkan tanaman menjadi lebih rentan dan keparahan penyakit lebih tinggi. Sebaliknya dengan pupuk Kalium menyebabkan tanaman menjadi lebih tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri. Oleh karena itu agar perkembangan penyakit dapat ditekan dan diperoleh produksi yang tinggi disarankan menggunakan pupuk N dan K secara berimbang dengan menghindari pemupukan N terlalu tinggi. Sanitasi lingkungan . Mengingat pathogen dapat bertahan pada inang alternative dan sisa-sisa tanaman maka sanitasi lingkungan sawah dengan menjaga kebersihan sawah dari gulma yang mungkin menjadi inang alternative dan membersihkan sisa-sisa tanaman yang terinfeksi merupakan usaha yang sangatdianjurkan. Pencegahan . Untuk daerah endemik penyakit HDB disarankan menanam varietas padi yang memiliki ketahanan terhadap penyakit HDB. Pencegahan penyebaran penyakit perlu dilakukan dengan cara antara lain tidak menanam benih yang berasal dari pertanaman yang terserang penyakit , mencegah terjadinya infeksi bibit melalui luka dengan tidak melakukan pemotongan bibit dan menghindarkan pertanaman dari naungan.

4.2.1.6 Penyakit Bercak daun kecipir

Gambar 6. Bercak daun kecipir

Sumber: (Dokumentasi pribadi)

 

         Penyebab penyakit bercak daun adalah  Cercospora sp. yang menginfeksi tanaman dengan cara menyebar melalui angin, air hujan, hama vektor dan alat pertanian saat jamur masih berupa spora. Kemudian spora ini juga bisa menyerang benih atau biji bahkan sebelum ditanam. Gajala Penyakit Bercak Daun Tanaman yang terjangkit penyakit bercak daun dapat ditandai dengan tanda-tanda seperti berikut ini: a. Tunas, Gejala yang terdapat pada tunas yaitu akan muncul adanya bercak-bercak pada tunas. Munculnya bercak ini dimulai dengan mengeringnya bagian ujung, yang kemudian menjalar pada pinggiran daun. Infeksi tunas ini sangat merugikan, sebab tunas yang terinfeksi penyakit bercak daun tidak akan optimal dalam menghasilkan bunga/buah. b. Daun, Penyakit yang menjalar pada tunas jika dibiarkan akan berkembang hingga ke daun. Ciri-ciri daun yang terserang penyakit bercak daun yaitu, daun akan menjadi kering dan menggulung. Apabila daun diremas, daun akan terasa rapuh sekali. c. Daun Muda, Penyakit bercak daun yang menyerang pada daun muda juga ditandai dengan munculnya bercak tidak beraturan, berwarna coklat dan akan dikelilingi oleh warna kuning. Penyakit ini bermula dari ujung daun atau tulang daun, kemudian penyakit ini dapat dengan cepat meluas sehingga daun menjadi kering dan rapuh, d. Daun Tua, gejala dari penyakit ini dimulai dengan adanya bercak tidak beraturan mulai dari tepi daun, kemudian meluas ke arah tulang daun. Sehingga daun berubah warna menjadi coklat tua dengan tepi coklat kehitaman, dan berwarna kuning. Jika tidak segera ditangani, penyakit bercak daun dapat mengeringkan seluruh daun, sehingga daun akan menjadi rapuh.

Pencegahan penyakit bercak daun, Sebagai upaya pencegahan, Anda harus memastikan bahwa tanah yang digunakan sebagai media tanam sudah benar-benar steril. Hal ini demi mencegah adanya penularan penyakit melalui tanah (tular tanah). Selain itu juga bisa menggunakan GDM Black Bos pada tanah setiap bulan sekali dengan cara dikocor pada daerah perakaran, dengan dosis 5 kg per ha. Fungsi GDM Black Bos dapat mencegah penyakit tular tanah, karena GDM Black Bos mengandung 4 macam bakteri menguntungkan yang secara enzimatis dan sinergis menguraikan berbagai residu dan limbah serta mengembalikan kondisi tanah menjadi subur kembali. GDM Black BOS terbuat dari bahan 100% organik dan bakteri pilihan yang berkualitas tinggi. Selain mencegah adanya penularan penyakit melalui tanah, perlu dipastikan juga dulur-dulur menyemprotkan pupuk organik cair GDM setiap 1 minggu sekali di bawah daun dengan dosis 2 gelas per tangk4.2.2. Intensitas Hama

4.2.2.1. Hama Ngengat

Gambar 7. Ngengat

Sumber : (Google.com)

 

Organisme  pengganggu tumbuhan (OPT) ini paling bandel dan sulit untuk dikendalikan. Cara tradisional hanya dapat dilakukan dengan pengasapan dan penyemprotan. Namun cara itu tidak begitu membuahkan hasil yang memuaskan. 
Dampak yang ditimbulkan lalat buah ini membuat buah busuk dan gugur. Parahnya lagi, buah yang dihinggapi lalat buah akan mengalami masak muda. Kalau sudah digigit lalat buah jeruk akan membusuk dan lama-lama jatuh layu. Kalau pun tidak jatuh buah akan busuk dan rasanya tidak manis.

Siklus hidupnya dimulai dari telur, satu hari kemudian menjadi larva dan pada tahap larva mengalami empat kali pergantian kulit (instar), tiga hari kemudian larva akan menjadi pupa. Setelah delapan hingga sebelas hari, pupa akan berubah menjadi imago. Imago inilah yang disebut lalat buah dewasa.

Pengendalian lalat buah dengan insektisida berbahan aktif spinosad bisa membunuh lalat buah. Pestisida sebagai umpan dengan bahan aktif spinosad sangat digemari lalat buah baik jantan maupun betina.

 


 

4.2.2.2. Hama Belalang

Gambar 7. Belalang

Sumber : (Dokumentasi Pribadi)

 

Hama ini menyerang tanaman muda dan tua dengan merusak tanaman pada bagian daun dan pucuk. Kadang-kadang pada musim kering dapat menyebabkan kerusakan parah. Daun yang dimakan menjadi berlubang-lubang, tulang daun dan urat-urat daun tidak dimakan. Gejalanya kadang-kadang sulit dibedakan dengan gejala lubang-lubang kerusakan daun oleh serangan ulat daun. Lubang akibat serangan belalang tepinya bergerigi kasar tidak beraturan, sedangkan akibat serangan ulat lebih halus. Tanaman inang lainnya, antara lain adalah kapas, jati, kelapa, kopi, cokelat, jarak, wijen, ketela, waru, kapuk, nangka, karet, jagung, dan pisang.

Proses bertelur pada belalang terjadi akibat perkawinan antara belalang betina dan belalang jantan. Kemampuan reproduksi bisa terjadi apabila belalang sudah memasuki tahap imago atau yang biasa disapa sebagai belalang dewasa. Bertelur sendiri merupakan kemampuan contoh hewan ovipar. Hewan yang termasuk dalam ovipar sendiri tidak hanya berasal dari jenis kelompok serangga saja melainkan hewan unggas seperti ayam dan burung. Ketika terjadi pembuahan maka belalang betina akan mengalami proses bertelur. Waktu yang dibutuhkan belalang untuk bertelur selama 3-4 hari. Proses ini termasuk singkat karena ada pengaruh dari kemampuan dari belalang dapat menghasilkan telur. Selanjutnya telur belalang akan diletakkan oleh belalang betina di tumbuhan atau tempat yang sekiranya bisa untuk menyimpan telur dari belalang betina.

Pengendalian secara mekanis dan fisik dengan mengumpulkan kelompok-kelompok telur. Penangkapan belalang dewasa serta nimfa-nimfanya dilakukan setelah musim penghujan pada malam hari atau pagi hari dengan menggunakan jaring. Pengendalian secara biologi dengan menggunakan parasit, seperti parasit telur Scelia javanica, parasit imago dari famili Sarcophagidae. Pengendalian dengan menggunakan predator seperti burung pemakan serangga, dapat juga dengan jamur entomopatogen Metarhizium anisopliae yang dapat mengendalikan nimfa dan imagonya. Pengendalian dengan penyemprotan pestisida disesuaikan dengan rekomendasi untuk hama belalang.

Bagian tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai pestisida organik adalah biji dan daun, daun sirsak mengandung senyawa bernama acetogenin diantaranya bulatacin, squamosin dan asimisin. Senyawa acetogenin pada konsentrasi tinggi mempunyai peran khusus sebagai anti-feedent atau penghambat nafsu makan.Sehingga belalang kehilangan gairah untuk memangsa bagian tanaman yang sudah diberikan pestisida ini. Apabila konsentrasi yang digunakan rendah, daun sirsak dapat menjadi racun perut sehingga bisa membuat belalang menjadi mati.

4.2.2.3. Hama kepik

Gambar 8. Kepik

Sumber: (Google.com)

 

Gejala serangan yang disebabkan oleh kepik adalah dun layu, menguning, keriting dan meranggas, buah berbercak, kehitaman, busuk kemudian tanaman mati.

Telur diletakkan kepik betina secara berkelompok, sekitar 80 butir, pada permukaan daun bagian bawah, permukaan daun bagian atas, polong dan batang tanaman. Bentuk telur seperti cangkir berwarna kuning dan berubah menjadi merah bata ketika akan menetas. Telur menetas dalam waktu 5-7 hari. Kepik muda (nimfa) yang baru keluar tinggal bergerombol di atas kulit telur. Untuk menjadi serangga dewasa, nimfa mengalami 5 instar yang berbeda warna dan ukurannya. Panjang tubuh nimfa instar satu sampai lima berturut-turut 1,2 mm; 2 mm; 3,6 mm; 6,9 mm dan 10,2 mm.

Penyemprotan insektisida dengan jenis insektisida Atabron 50 EC, Ambush 2 EC, Bassa 500 EC, Decis 2,5 EC, Larvin 75 WP atau Matador 25 EC. Penggunaan insektisida akan cukup efektif secara ekonomi jika intensitas serangan penggerek polong lebih dari 2 % atau jika ditemukan sepasang populasi penghisap polong dewasa atau kepik hijau dewasa pada umut 45 hari setelah tanam.

4.2.2.4. Hama kumbang

Gambar 9. Kumbang

Sumber: (Dokumentasi pribadi)

 

Serangan kumbang umumnya terdapat pada tanaman ulang ( Replanting ), dan mulai berkembang melalui batang-batang kelapa sawit yang membusuk. Dalam batang-batang yang busuk tersebut telur-telur kumbang tanduk mulai tumbuh dan berkembang. Gejala serangan yang ditimbulkan dari hama tersebut berupa gerekan pada titik tumbuh yang menyebabkan pelepah menjadi mengering sehingga tanaman sawit menjadi mati.

Kemampuan kumbang betina yang dapat menghasilkan 50 telur sangatlah mengkhawatirkan karena kumbang tanduk dewasa mempunyai daya rusak sangat hebat. Telur ini akan menetas dalam waktu 8-12 hari untuk menghasilkan larva. Setelah itu, barulah larva menjadi pupa yang selanjutnya akan menjadi kumbang dewasa.

Cara untuk mengendalikan hama jenis ini yaitu dengan cara Penggunaan Insektisida Marshal 5 G, Penggunaan Insektisida Hayati.

4.2.2.5. Hama walang sangit

Gambar 10. Walang sangit

Sumber: (google.com)

 

   Walang sangit menghisap butir – butir padi yang masih cair. Biji yang sudah diisap akan menjadi hampa, agak hampa, atau liat.Kulit biji iu akan berwarna kehitam – hitaman.Walang sangit muda (nimfa) lebih aktif dibandingkan dewasanya (imago), tetapi hewan dewasa dapat merusak lebih hebat karenya hidupnya lebih lama.Walang sangit dewasa juga dapat memakan biji – biji yang sudah mengeras, yaitu dengan mengeluarkan enzim yang dapat mencernakarbohidrat.
          Siklus hidupnya mulai dari telur diletakkan walang sangit betina secara berkelompok, sekitar 80 butir, pada permukaan daun bagian bawah, permukaan daun bagian atas, polong dan batang tanaman. Bentuk telur seperti cangkir berwarna kuning dan berubah menjadi merah bata ketika akan menetas. Telur menetas dalam waktu 5-7 hari. Kepik muda (nimfa) yang baru keluar tinggal bergerombol di atas kulit telur. Untuk menjadi serangga dewasa, nimfa mengalami 5 instar yang berbeda warna dan ukurannya. Panjang tubuh nimfa instar satu sampai lima berturut-turut 1,2 mm; 2 mm; 3,6 mm; 6,9 mm dan 10,2 mm.

Cara Pengendaliannya yaitu dengan menanam tanaman secara serentak, Membersihkan sawah dari segala macam rumput yang tumbuh di sekitar sawah agar tidak menjadi tempat berkembang biak bagi walang sangit, Menangkap walang sangit pada pagi hari dengan menggunakan jala penangkap, Penangkapan menggunakan unmpan bangkai kodok, ketam sawah, atau dengan alga, Melakukan pengendalian hayati dengan cara melepaskan predator alami beruba laba – laba dan menanam jamur yang dapat menginfeksi walang sangit, Melakukan pengendalian kimia, yaitu dengan menggunakan insektisida.

 

4.2.3. Herbarium

4.2.3.1. Tanaman terong

Beberapa penyakit yang menyerang tanaman budidaya terong yaitu : a) Bercak daun terong penyebabnya bercak daun disebabkan oleh cendawan Cercospora sp, Altenaria solani dan Botrytis cinerea. Gejala awal terlihat adanya bercak – bercak coklat berbentuk bulat pada daun tua. Lama kelamaan daun akan berwarna kuning dan rontok. Bercak daun pada musim hujan akan cepat menyebar keseluruh daun tanaman; b) Gemini virus Penyakit tidak ditularkan melalui biji, tetapi dapat menular melalui penyambungan dan melalui serangga vektor kutu kebul. Kutu kebul dapat menularkan geminivirus secara persisten (tetap ; yaitu sekali makan pada tanaman yang mengandung virus, selamanya sampai mati dapat menularkan); c) Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Fusarium oxysporum yang menyerang bagian akar tanaman. Gejalanya adalah tanaman yang terlihat segar dipagi hari dan layu pada siang hari, kemudian segar kembali pada sore hari. Hal ini berlangsung selama beberapa hari, hingga akhirnya tanaman mati. Layu fusarium akan menyebar secara cepat pada musim hujan.

Cara pembuatan herbarium yaitu: a) Pilihlah tumbuhan yang akan diawetkan. Bentuk dan jenis tumbuhan bisa mengikuti kebutuhan. Jika anda ingin mengoleksi tumbuhan dengan struktur yang lengkap maka anda bisa memilih bagian yang terkena penyakit dan berukuran tidak terlalu Semprot bahan yang akan diawetkan dengan alkohol 70%. Gunanya agar tumbuhan tidak mudah busuk oleh bakteri dan jamur; b) Siapkan beberapa sterofoam dengan ukuran sekitar 23X48 cm atau yang sesuai dengan besar calon awetan; c) Letakkan calon awetan yang telah disemprot alkohol tadi di atas koran dengan posisi yang rapih. Untuk membentuk agar tampak lebih rapih kita bisa mengikat ranting menggunakan benang dan dan menjahitnya pada kertas sesuai keinginan; d) Tindih atau jepit kuat dengan plastik bening. Nah selanjutnya bahan yang telah kita proses ini disebut dengan istilah spesimen; e) Simpan spesimen selama 1 sampai 2 minggu di tempat kering dan tidak lembab.

4.2.3.2. Tanaman Kecipir

Beberapa penyakit yang menyerang tanaman budidaya kecipir yaitu:  a) Karat daun Penyakit ini paling jelas gejalanya terlihat pada daun, sehingga disebut karat daun. Gejala dicirikan oleh munculnya bercak berwarna coklat kemerahan pada daun yang semakin lama semakin membesar. Bercak ini biasanya dikelilingi oleh jaringanberwarna kuning akibat daun mengalami klorosis. Selain daun, dampak dan gejala penyakit ini dapat tampak pula di buah, batang, pucuk, serta beberapa jaringa lain yang berklorofil. Penyakit karat juga menyebabkan deformasi, perubahan bentuk organ tanaman; b) Hawar daun kecipir hawar adalah salah satu dari gejala serangan suatu patogen tumbuhan. Serangan hawar ditandai dengan perubahan penampilan tumbuhan secara cepat, diawali dengan layu pada sebagian besar jaringan (terutama daun), kemudiandiikuti klorosis yang cepat (hanya beberapa hari), menjadi coklat, lalu kematian jaringan di bagian permukaan. Gejala awal dapat berupa suatu lesi/bercak melingkar di daun yang semakin lama semakin membesar; c) bercak daun disebabkan oleh cendawan Cercospora sp, Altenaria solani dan Botrytis cinerea. Gejala awal terlihat adanya bercak – bercak coklat berbentuk bulat pada daun tua. Lama kelamaan daun akan berwarna kuning dan rontok. Bercak daun pada musim hujan akan cepat menyebar keseluruh daun tanaman.

Cara pembuatan herbarium yaitu: a) Pilihlah tumbuhan yang akan diawetkan. Bentuk dan jenis tumbuhan bisa mengikuti kebutuhan. Jika anda ingin mengoleksi tumbuhan dengan struktur yang lengkap maka anda bisa memilih bagian yang terkena penyakit dan berukuran tidak terlalu Semprot bahan yang akan diawetkan dengan alkohol 70%. Gunanya agar tumbuhan tidak mudah busuk oleh bakteri dan jamur; b) Siapkan beberapa sterofoam dengan ukuran sekitar 23X48 cm atau yang sesuai dengan besar calon awetan; c) Letakkan calon awetan yang telah disemprot alkohol tadi di atas koran dengan posisi yang rapih. Untuk membentuk agar tampak lebih rapih kita bisa mengikat ranting menggunakan benang dan dan menjahitnya pada kertas sesuai keinginan; d) Tindih atau jepit kuat dengan plastik bening. Nah selanjutnya bahan yang telah kita proses ini disebut dengan istilah spesimen; e) Simpan spesimen selama 1 sampai 2 minggu di tempat kering dan tidak lembab.

4.2.4. Insektarium

Beberapa serangga hama yang ada di tanaman budidaya tanaman terong dan kecipir yaitu: a) Kepik, Kumbang ini suka merusak tanaman terong sehingga merugikan petani. Kumbang kepik tersebut biasanya meninggalkan jejak yang khas pada daun bekas makanannya dan menyisakan urat daun, karena mereka tidak memakan urat daunnya; b) Lalat buah menyerang buah terong dengan cara memasukkan telur kedalam buah, telur tersebut menetas dan menjadi larva. Larva-larva lalat buah tersebut memakan daging buah hingga buah menjadi busuk dan jatuh; c) Belalang  atau Melanoplus femurrubrum merupakan jenis serangga pemakan daun tanaman budidaya; d) Walang sangit (Leptocorisa oratorius Fabricius, (Hemiptera:Alydidae); syn. Leptocorisa acuta) adalah serangga yang menjadi hama penting pada tanaman budidaya, terutama padi; e) Kumbang Kumbang adalah sekelompok serangga hama yang membentuk  ordo Coleoptera; f) Bokong tawon parasitoid berbentuk seperti jarum yang disebut ovipositor. Ovipositor inilah alat untuk menyuntikkan telur parasitoid ke tubuh inangnya (hama); g) Ngengat, serangan S. excerptalis merupakan penggerek yang paling utama penyebab mati puser dibandingkan penggerek lainnya; h) Laba-laba, semua jenis laba-laba merupakan musuh alami. Jadi bila terlihat ada laba-laba di lahan pertanian, sangat direkomendasikan untuk tidak membunuhnya. Ada beberapa jenis laba-laba yang biasa ditemui di lahan pertanian, antara lain Argiope catenulata, Atypena formosana, Lycosa pseudoannulata, Oxyopes javanus Thorell, dan masih banyak lagi.

Cara membuat insektarium adalah sebagai berikut : a). Tangkaplah serangga dengan menggunakan jaring serangga. Hati-hati terhadap serangga berbahaya. b). Matikan serangga dengan jalan memasukannnya ke dalam kantong plastik yang telah diberi kapas yang dibasahi alkohol. c). Serangga yang sudah mati dimasukkan ke dalam kantong atau stoples tersendiri. Kupu-kupu dan capung dimasukkan ke dalam amplop dengan hati-hati agar sayapnya tidak patah. d). Suntiklah badan bagian belakang serangga dengan formalin 5%.e) sebelum mengering, tusuk bagian badan serangga dengan jarum pentul. f). Pengeringan cukup dilakukan di dalam ruangan pada suhu kamar. Tancapkan jarum pentul pada plastik atau karet busa. g). Setelah kering, serangga di masukkan ke dalam kotak insektarium (dari streofoam). Ke dalam kotak insektarium dimasukkan kapur barus (kamper). h). Beri label (tempelkan di sisi samping serangga) yang memuat  klasifikasinya.

 

 

 

 


 

V. PENUTUP

5.1.    Kesimpulan

Pengamatan populasi hama secara garis besar dibedakan menjadi tiga bentuk, yaitu: a) Pengamatan populasi mutlak; b) Pengamatan populasi relatif; c) Pengamatan indeks populasi. Hasil pengamatan kemudian  dianalisis, ditentukan intesitas serangannya kemudian mengambil keputusan pengendalian. Data populasi hama dinyatakan dalam bentuk jumlah individu hama per satuan/unit sampel, sedangkan data kerusakan dinyatakan dalam persentase (%) serangan (intensitas kerusakan).

Pengamatan merupakan kegiatan yang sangat penting dan mendasar dalam penerapan PHT. Pengamatan terutama digunakan  untuk menganalisis keadaan populasi organisme pengganggu, dampak kerusakan, dan selanjutnya dapat digunakan untuk mengambil keputusan sebuah tindakan pengendalian. Dalam hal ini, pengamatan menjadi penting karena dapat digunakan untuk merancang sebuah upaya pengelolaan yang efektif dan efisien. Maka dari dikatakan bahwa pengamatan merupakan komponen dari kegiatan perlindungan tanaman.

Gejala penyakit pada tumbuhan dibedakan menjadi tiga yaitu: a) Nekrotis yang ditandai dengan rusak atau matinya sel-sel tumbuhan contohnya klorosis dan busuk; b) Hipoplasis ditandai dengan terhambatnya atau berhentinya perkembangan sel. Contohnya kerdil; c) Hiperplastis, ditandai dengan terjadinya perkembangan sel secara berlebihan. Contohnya menggulung atau mengeriting. Jenis serangga hama yaitu serangga yang menimbulkan kerusakan pada tanaman contohnya ulat grayak. Serangga parasit merupakan serangga yang memparasit serangga lain atau memperoleh keuntungan sari serangga lain misalnyadalamhalmakananataupuntempathidupatauberlindung. Serangga predator yaitu serangga yang memangsa serangga lain yang umumnya serangga hama. Contohnya kumbang koksi.

Untuk membuat spesimen gejala penyakit tumbuhan, terlebih dahulu kita mengambil bagian tumbuhan yang akand ijadikan spesimen. Bagian tumbuhan yang telah diambil disemprot dengan alkohol kemudian dipres dan disimpan di tempat yang kering. Dan untuk serangga hama, predator ataupun parasit masukkan dalam alcohol sampai serangga tersebut mati. Kemudian suntik spesimen serangga dengan formalin agar lebih awet.

 

5.2. Saran

Dengan berakhirnya praktikum ini, harapan kedepannya semoga praktikum lebih bagus lagi dan praktikan dapat menyesuaikan kondisi agar praktikum dapat berjalan dengan baik dan lancar dan selesai dengan tepat waktu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

DAFTAR PUSTAKA

Borror  DJ, Triplehorn CA, Johnson NF. 1996. Pengenalan Pelajaran Serangga. Edisi ke-6. Soetiyono P, penerjemah. Yogyakarta (ID): Gadjah Mada University Press. Terjemahan dari: An Introduction to the Studies of Insects.

Muldiana, Sahri  & Rosdiana. 2017. Respon Tanaman Terong  (Solanum malongena L.) Terhadap Interval Pemberian Pupuk Organik Cair Dengan Interval Waktu Yang Berbeda. Jurnal Hortikultura. Vol 20 (3) : 150-155. (http://jurnal.umj.ac.id) Diakses tanggal 30 Juni 2019.

Semangun H. 1989. Penyakit-Penyakit Hortikultura di Indonesia. Yogyakarta (ID): Gadjah Mada University Press.

Semangun H. 2001. Penyakit-penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia. Gajah Mada Univ Press. Yogyakarta.

Semangun, S. 1979. Pengantar Ilmu Penyakit Timbuhan. Gadjah Mada University press.Yogyakarta.

Sucianto E, T dan Muachiroh A. 2019. Jenis, Frekuensi Kemunculan, dan Persentase Penyakit Cendawan pada Tanaman Sayuran. Jurnal Sains. Vol 36, No 1. (http://download.garuda.ristekdikti.go.id). PDF.

Sutakarya, J. 1981. Ilmu Penyakit Tumbuhan. IPB. Bogor.

Sutarman. 2017. Dasar Ilmu Penyakit Tanaman.Mojopahit. Usmida Press.

ThalibtrRosdah, Redi Fernando, Khodijah, Dewi Meidalima, &Siti Herlindal.2013.Patogenisitas Isolat Beauveria Bassiana dan Metarhizium Anisopliae Asal Tanah Lebak dan Pasang Surut Sumetera Selatan Untuk Agens Hayati Scirpophaga Incertulas.Jurnal Hama dan Penyakit Tumbuhan Tropika. 13 (1): 1-9.(http://eprints.unsri.ac.id/4345/1/Jurnal_Hama_dan_Penyakit_Tumbuhan_Tropika.pdf)

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini