PENGENALAN GEJALA DAN PENYAKIT TANAMAN


LAPORAN PRAKTIKUM

DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN

PENGENALAN GEJALA PENYAKIT TUMBUHAN

 

 

 

 

DEVI CERITASARI

CAA 117 012

KELOMPOK X

 

 

 

 

 

 

WhatsApp Image 2018-04-24 at 07.37.00.jpeg

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS PALANGKARAYA

2019

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PRAKTIKUM

DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN

PENGENALAN GEJALA PENYAKIT TUMBUHAN

 

 

 

 

 

Telah diperiksa dan disetujui oleh Asisten Praktikum Pada:

Hari          :………

Tanggal    :………

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ASISTEN PRAKTIKUM

MART IMMANUEL MUNTHE

CAA 116 056

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN..........................................................................        ii   

DAFTAR ISI................................................................................................        iii

DAFTAR GAMBAR ..................................................................................        iv

I.       PENDAHULUAN..............................................................................        1

1.1. Latar Belakang............................................................................        1    

1.2. Tujuan Praktikum.......................................................................        2                      .....................................................................................................................

II.      TINJAUAN PUSTAKA......................................................................        3

2.1. Konsep Timbulnya Penyakit Tanaman.......................................        3

2.2. Tipe Gejala Penyakit Tanaman...................................................        4

2.3. Penggolongan Penyebab Penyakit Tanaman..............................        5

2.4. Patogen Penyebab Penyakit Tanaman........................................        5

2.5. Langkah-langkah Identifikasi Tanaman.....................................        6

 

III.     BAHAN DAN METODE...................................................................        7

3.1. Waktu dan Tempat......................................................................        7

3.2. Bahan dan Alat........................................................................ ...        7

3.3. Cara Kerja...................................................................................        7

IV.    HASIL DAN PEMBAHASAN...........................................................        8

4.1. Hasil Pengamatan.......................................................................        8    

4.2.Pembahasan..................................................................................        10

V.      PENUTUP..........................................................................................        21

5.1.Kesimpulan..................................................................................        21

5.2. Saran............................................................................................        21

DAFTAR PUSTAKA                                                                                   

LAMPIRAN

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Segitiga Penyakit ......................................................................       3

Gambar 2. Segiempat  Penyakit .................................................................       3

Gambar 3. Limas Penyakit .........................................................................       3

Gambar 4. Buah Cabai (Capsicum annum).................................................       10

Gambar 5. Jamur Celleotricum capsici .....................................................       10

Gambar 6. Daun Jeruk (Citrus)...................................................................       11

Gambar 7. Sawi Pakcoy  (Massica rapa sub sp chinensis)........................       12

Gambar 8. Pisang (Musa paradisiaca) ......................................................       13

Gambar 9. Sawi Pakcoy (Massica rapa sub sp chinensis).........................       14

Gambar 10. Terung (Solanum melongena).................................................       15

Gambar 11. Daun Pepaya (Carica papaya)................................................       16

Gambar 12. Daun Cabai (Casicum annum).................................................       17

Gambar 13. Pisang (Musa paradisiaca).....................................................       18

Gambar 14. Seledri (Apium graveolens).....................................................       19

 

 


 

I.              PENDAHULUAN

1.1.      Latar Belakang

Penyakit tanaman adalah bentuk penyimpangan dari sifat normal yang menyebabkan tanaman atau bagian dari tanaman tidak dapat melaksanakan fungsi fisiologisnya yang biada dikerjakan. Penyebab penyakit atau patogen biasanya oleh jamur, bakteri, nematoda dan virus. penyakit hanya akan terjadi apabila di suatu tempat tedapat tanaman inang yang rentan, patogen yang virulen dan lingkungan yang mendukung, (Agrios, 1996). Penyakit pada tanaman adalah proses dimana bagian-bagian tertentu dari tanaman tidak dapat menjalankan fungsinya dengan sebaik-baiknya sehingga terjadi kerusakan pada tanaman atau bagian tanaman.  Kerusakan dapat disebabkan oleh organisme yang tergolong ke dalam dunia tumbuhan seperti tumbuhan tinggi parastis, ganggang, jamur, bakteri, mikoplasma dan virus, (Semangun, 2001).

Gejala penyakit merupakan perubahan struktur morfologi, anataomi maupun fisiologi tanaman sebagai reaksi tanggapan terhadap patogen. Terkadang penyakit pada tanaman menunjukkan gejala yang sama. Oleh karena itu, dengan memperhatikan gejala saja tidak dapat menentukan diagnosis dengan pasti, maka perlu diperhatikan tanda penyakit juga. Tanda –tanda penyakit yang muncul merupakan bagian atau keseluruhan morfologi patogen yang terlihat pada bagian tumbuhan yang terserang penyakit. Apabila tanaman diganggu oleh patogen maupun atau oleh kondisi lingkungan tertentu dan satu atau lebih fungsi-fungsi fisiologisnya terganggu sehingga terjadi penyimpangan tertentu dari normal, maka tanaman itu menjadi sakit. Mekanisme terjadinya penyakit berbeda-beda sesuai dengan agensia penyebabnya dan kadang-kadang dengan tanamnnya, (Agrios, 1996).

Manfaat mempelajari pengenalan gejala penyakit tumbuhan yaitu agar mengetahui gejala, tanda, penyakit, dan kerugian yang ditimbulkan. Sehingga mengetahui bagaimana cara pengendalian secara terpadu dan berkala.

 

 

1.2.      Tujuan Praktikum

Tujuan praktikum Dasar-dasar Perlindungan Tanaman dengan materi Pengenalan Gejala Penyakit Tumbuhan adalah sebagai berikut:

1.           Agar mahasiswa dapat mengenal dan membedakan gejala penyakit tumbuhan.

2.           Agar mahasiswa mengetahui penyebab penyakit berdasarkan gejala dan tanda yang diamati khususnya yang disebabkan oleh cendawan, bakteri dan virus.

 


 

II.         TINJAUAN PUSTAKA

2.1.      Konsep Timbulnya Penyakit Tanaman



 

 

 

 

 


Gambar 1. Segitiga penyakit

Sumber: Dokumen Pribadi

 

 

 

 

 

Gambar 2. Segiempat penyakit

Sumber: Dokumen Pribadi

 

 

 

 

 

Gambar 3. Limas Penyakit

Sumber: dokumen Pribadi

 

Konsep timbulnya penyakit pada tanaman ada tiga yaitu: segitiga penyakit, segi empat penyakit dan limas penyakit. Berikut penjelasannya: a). Segitiga penyakit,  dimana konsep ini menjelaskan timbulnya penyakit biotik (penyakit yang disebabkan oleh pathogen) yang di dukung oleh kondisi lingkungan dan tanaman inang. Komponen pertama yaitu patogen, dimana pathogen adalah organism hidup yang mayoritas bersifat mikro dan mampu untuk dapat menimbulkan penyakit pada tanaman atau tumbuhan. Mikroorganisme tersebut antara lain fungi, bakteri, virus, nematoda mikoplasma, spiroplasma dan riketsia. Komponen kedua yaitu tanaman inang, dimana Pengaruh tanaman inang terhadapnya timbulnya suatu penyakit tergantung dari jenis tanaman inang, kerentanan tanaman, bentuk dan tingkat pertumbuhan, struktur dan kerapatan populasi, kesehatan tanaman dan ketahanan inang. komponen ketiga yaitu faktor lingkungan yang dapat memberikan pengaruh terhadap timbulnya suatu penyakit dapat berupa suhu udara, intensitas dan lama curah hujan, intensitas dan lama embun, suhu tanah, kandungan air tanah, kesuburan tanah, kandungan bahan organic, angin, api, pencemaran air. Faktor lingkungan ini memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang dan menciptakan kondisi yang sesuai bagi kehidupan jenis pathogen tertentu, (Yudiarti, 2007).

Segi empat penyakit ini tediri dari 3 komponen segitiga penyakit yang telah diuraikan di atas ditambah komponen manusia. Di dalam konsep ini manusia berada diatas karena manusia memiliki akal budi sehingga mempunyai kemampuan untuk memanipulasi atau manusia lingkungan (fisik atau kimia dan dan biologi). Patogen Inang mempengaruhi tiga komponen lainnya, yaitu tanaman inang, pathogen ataupun lingkungan. Dimana tindakan yang dilakukan manusia dapat menjadi salah satu faktor pendukung timbulnya suatu penyakit ataupun bahkan mencegah timbulnya suatu penyakit, (Yudiarti, 2007).

Limas penyakit menyatakan bahwa penyakit akan menjadi berkembang dan mungkin mewabah jika tanaman rentan berinteraksi dengan patogen virulen dalam waktu yang cukup lama dan dalam lingkungan yang menguntungkan perkembangan pengganggu, karena adanya tindakan manusia gambar skema interaksi pada konsep piramida penyakit hasil interaksi antara unsur-unsur yang mendukung timbulnya penyakit bersifat dinamis atau mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Oleh karena itu hasil interaksi akhir akan sangat ditentukan oleh unsur waktu. Dengan demikian, skema konsep dinamika unsur-unsur ini menjadi berbentuk limas atau piramida, (Yudiarti, 2007).

 

2.2.      Tipe Gejala Penyakit Tanaman 

Tipe gejala penyakit pada tanaman ada tiga yaitu nekrotis, hipoplastis dan hiperplastis. a). Gejala nekrotis yaitu gejala penyakit yangditandai dengan degenerasi protoplas diikuti matinya sel-sel jaringan organ dan seluruh tumbuhan. gejala nektotis meliputi hirosis, klorosis, nekrosis, perforasi, busuk, eksudasi, layu, mati ujung, dan terbakar, b). Gejala hipoplasis yaitu gejala yang timbul karena adalanya hambatan atau kegagalan dari tanaman atau organ untuk bekembang secra penuh. Gejala hipoplastis meliputi etiolasi, kerdil (autrofi), klorosis, perubahan simetri, roset, dan c). Gejala Hiperplastis yaitu gejala yang timbul karena hasil yang luar biasa ukuran atau perkembangan dini yang abnormal dari organ tumbuhan. Gejala hiperplastis meliputi erinose, fasiasi, intumesensia, kudis, menggulung atau mengeriting, pembentukan alat yang luar biasa, prolepsis, sapu (Witche’s broom) dan sesidum, (Djaya, 2019).

 

2.3.      Penggolongan Penyebab Penyakit Tanaman

Suatu penyebab penyakit pada tanaman dibedakan menjadi dua yaitu golongan yaitu yang disebabkan oleh faktor abiotik dan biotik. a). Penyakit abiotik adalah penyakit tanaman non infeksius atau tidak dapat ditularkan antar tanaman yang satu dengan yang lainnya. Reaksi pertama tanaman terhadap pemyebab penyakit pada tempat penyerangan patogen dan reaksi itu bersifat kemis dan tidak terlihat. Setelah itu reaksinya segera meluas dan terjadi perubahan-perubahan histologis di dalam tanaman sehingga hasil reaksi tersebut dapat terlihat secra makroskopis. Sel-sel jaringan tanamn yang diserang patogen akan menyebabkan sel-sel dan jaringan tersebut mengalami kerusakan atau lemah, sehingga tanaman tidak dapat melaksanakan seluruh fungsi-fungsi fisiologisnya secara normal dan pertumbuhan tanaman terganggu, b). Gejala biotik adalah penyebab penyakit yang sifatnya menular atau infeksius misalnya jamur, bakteri, nematoda, mikoplasma, tanaman berbunga, alga dan protozoa, (Sinaga, 2006).

 

2.4.      Patogen Penyebab Penyakit Tanaman

Patogen penyebab penyakit pada tanaman umumnya ada tiga macam yaitu jamur, bakteri dan virus. a). Jamur merupakan tumbuhan yang tidak mempunyai klorofil sehingga bersifat heterotrof, tipe sel eukarotik. Jamur ada yang uniseluler dan multiseluler. Tubuhnya terdiri dari benang-benang yang disebut hifa, hifa dapat membentuk anyaman bercabang-cabang yang disebut miselium. Reproduksi jamur, ada yang dengan cara vegetatif ada pula dengan cara generatif. Jamur dapat menyebabkan penyakit pada tanaman misalnya, Plasmodiphora brassicae yang menyebabkan penyakit pada sistem perakaran tanaman, Celleotricum capsici  menyebabkan antraknosa pada buah cabai, dan Phitoptora mystan  menyebabakan busuk pada tanaman pisang, b). Bakteri merupakan organisme yang paling banyak jumlahnya dan lebih tersebar luas dibandingkan mahluk hidup yang lain. Bakteri memiliki ratusan ribu spesies yang hidup di darat hingga lautan dan pada tempat-tempat yang ekstrim. Bakteri dapat menyebabkan penyakit pada tanaman, misalnya Pseudomonas solanacearum menyebabkan layu pada tanaman terung, dan Erwinia carotovora menyebabkan kebusukan pada tanaman sayuran, c).  Hampir semua virus dapat menimbulkan penyakit pada organisme lain. Contoh penyakit yang ditimbulkan leh virus adalah penyakit tungro pada tanaman padi, penyakit CVPD pada tanaman jenuk dan TMV pada tanaman tembakau, (Yunasfi, 2002).

 

2.5.      Langkah-langkah Identifikasi Tanaman

Langkah-langkah identifikasi penyakit pada tanaman adalah: a). mengamati gejala yaitu segala bentuk kelainan atau kelainan sifat tanaman, b). memilih bagian tanamna yang sakit atau meperlihatkan gejala yang belum lanjut atau yang terlalu awal. Gejala yang terlalu lanjut biasanya sudah ditumbuhi cendawan serta bakteri saprofit yang sering kali mengganggu pertumbuhan. Gejala yang terlalu awal juga menyulitkan diagnosa karena sulit memperoleh tanda penyakit, c). Melihat tanda penyakit untuk memperkuat hasil pemeriksaan gejala, d). Gejala dan tanda penyakit yang dikenal atau atau diragukan identifikasinya yang nampaknya penyebabnya penyakit tersebut belum pernah dilaporkan sebelumnya mka harus dilakukan serangkaian pengujian untuk membuktikan hipotesa bahwa mikroorganisme yang diisolasi adalah penyebab penyakitnya melalui Postulat Koch, e). gejala yang disertai tanda patogen, (Semangun, 2001).

 


III.      BAHAN DAN METODE

3.1.      Waktu dan Tempat

Praktikum Dasar-dasar Perlindungan Tanaman dengan materi Pengenalan Gejala Penyakit Tumbuhan, dilaksanakan pada hari Senin, 06 Mei 2019,  pukul 15.30 - 17.10 WIB. Bertempat di Laboratorium Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Palangka Raya.

3.2.      Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan pada Praktikum Dasar-dasar Perlindungan Tanaman dengan materi Pengenalan Gejala Penyakit Tumbuhan adalah Buah Cabai (Capsicum annum), Jeruk (Citrus), Sawi Pakcoy  (Massica rapa sub sp chinensis), Pisang (Musa paradisiaca), Sawi Pakcoy (Massica rapa sub sp chinensis), Terung (Solanum melongena), Daun Pepaya (Carica papaya), Kentang  (Solanum tuberosum L), Pisang (Musa paradisiaca), Seledri (Apium graveolens). Alat yang digunakan adalah mikroskop, preparat, guntung, akuades, gelas beaker, pipet tetes dan alat tulis.

 

3.3.      Cara Kerja

Cara kerja yang dilakukan pada Praktikum  Dasar-dasar Perlindungan Tanaman dengan materi Pengenalan Gejala Penyakit Tumbuhan  adalah sebagai berikut:

1.           Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

2.           Mengamati gejala penyakit kemudian menyebutkan ciri-ciri atau penampakan fisiologis dari gejala tersebut.

3.           Mengamati secara mikroskopis penyebab penyakit dengan berdasarkan tanda yang tampak.

4.           Mendokumentasikan bagian tanaman yang terkena penyakit.

5.           Menulis hasil pengatan pada lembar kerja.


 


4.1.      Pembahasan

4.1.1. Buah Cabai (Capsicum annum)

Gambar 4. Buah Cabai (Capsicum annum) yang terkena antraknosa

Gambar 5. Jamur Celleotricum capsici penyebab antraknosa 

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Sumber: Dokumentasi Pribadi

 

Buah cabai yang terkena penyakit antraknosa disebabkan oleh jamur.  Jamur ini mempunyai banyak aservulus, tersebar, di bawah kutikula atau pada permukaan daun. Gejala antraknosa sangat mudah dikenali dengan gejala awal pada buah cabai berupa bercak kecil dan berair. Ukuran luka tersebut dapat mencapai 3 – 4 cm pada buah cabai yang berukuran besar. Pada serangan lanjut yang sudah parah, gejala luka tersebut lebih jelas tampak seperti luka terbakar matahari dan berwarna antara merah tua sampai coklat menyala hingga warna hitam. Pada saat sudah parah, penyakit ini ditandai dengan adanya kerusakan, yaitu dapat menyebabkan nekrosis dan bercak pada daun, buah, cabang atau ranting.

Proses jamur menyerang tanaman diawali melalui percikan air dan jarak pemencaran akan lebih jauh jika disertai adanya hembusan angin. Serangan jamur C. capsici pada biji cabai dapat menimbulkan kegagalan berkecambah atau bila telah menjadi kecambah dapat menimbulkan rebah kecambah, sedangkan pada tanaman dewasa dapat menimbulkan mati pucuk, infeksi lanjut ke bagian lebih bawah yaitu daun dan batang yang menimbulkan busuk kering warna cokelat kehitam-hitaman

Penyakit antarknosa dapat menyebar luas di daerah-daerah pertanaman cabai yang kondisinya sangat lembab atau daerah dengan curah hujan tinggi. Cendawan penyebab penyakit antraknosa berkembang dengan sangat pesat bila kelembaban udara cukup tinggi yaitu bila lebih dari 80 % RH dengan suhu 32oC..

 

4.1.2. Jeruk (Citrus)

Gambar 6. Jeruk (Citrus)

yang terkena penyakit kudis

Sumber: Dokumentasi Pribadi

 

Tanaman jeruk yang terkena kudis disebabkan oleh jamur Sphaceloma Fawcetti. Bagian yang diserang adalah daun, tangkai dan buah. Gejala yang bisa diketahui adalah bercak kecil yang jernih yang bisa berubah menjadi berwarna kuning atau oranye pada daun.

Proses patogen menyerang yaitu  terlihat adalanya bercak kecil jenih pada daun dan helaian daun, bercak tersebut lama-kelamaan berkembang menjadi semacam gabus berwana kuning atau coklat, infeksi hanya terbatas pada salah satu permukaan daun saja, pada serangan parah akan menyebabkan pertumbuhan kerdil dan deformasi titik tumbuh.

Tanaman jeruk yang paling rentan terserang penyakit kudis adalah tanaman jeruk pada dataran tinggi basah dan dataran rendah basah. Masa kritis serangan penyakit kudis dimulai saat pembentukan buah sampai buah pentil.

 

 

4.1.3. Sawi Pakcoy (Massica rapa chinensis)

Gambar 7. Sawi Pakcoy (Massica rapa chinensis)

yang bergejala kerdil

Sumber: Dokumentasi Pribadi

 

 

Sawi pakcoy yang kerdil bagian tubuhnya tidak tumbuh  membesar, ukurannya sangat kecil, pertumbuhan tanaman melambat, kurus, tidak normal, daun berwarna agak kekuningan atau hijau pudar.

Tanaman sawi pakcoy yang kerdil tidak disebabkan oleh patogen seprti jamur, bakteri ataupun virus. Namun dapat disebabkan beberapa hal misalnya kualitas benih kurang bagus, faktor genetik, dan gagalnya tanaman untuk melakukan pembelahas sel. Sehingga mengakibatkan tanaman tidak tumbuh.

Tanaman yang kerdil disebabkan oleh faktor dalam dan luar. Dimana faktor dalam yaitu hormon auksin, apabila hormon auksin tidak aktif maka pembelahan sel akan terhambat. Faktor luar diantaranya yang berpengaruh yaitu cahaya matahari dan nutrisi tanaman. Tanaman yang kekurangan unsur cahaya maka pertumbuhannya akan terhambat karena proses fotosinesis juga terhambat. Tanaman yang kekurangan nutrisi tidak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, karena salah satu kesuburan tanaman adalah tersedianya nutrisi pada tanaman.

 

 

 

 

4.1.4. Pisang (Musa paradisiaca)

Gambar 8. Pisang (Musa paradisiaca)

yang terserang penyakit busuk

Sumber: Dokumentasi Pribadi

 

 

Tanaman pisang yang terserang penyakit busuk termasuk tipe gejala nektotis yang disebabkan oleh Jamur Phitoptora mystan. Dimana gejalanya yaitu daun menguning dan lama-kelamaan akan menjadi coklat kemudian membusuk. Apabila tanaman berbuah maka buahnya terlihat tidak sehat dan begitupula dengan batang.

Proses masuknya patogen ke dalam tanman inang dapat ditularkan melalui alat-alat pertanian seperti ketia menanam atau peralatan memanen, tanah yang terbawa dari sekitar tanaman yang sakit ke tanamn yang sehat, adanya luka pada tanaman yang sakit, benih yang ditanam diambil dari tanaman yang berggejal sakit, dan serangga vektor yang mengisap bunga atau jantung pisang.

Faktor-faktor yang mendukung terserangnya tanaman pisang oleh penyakit yaitu adanya inang dimana inangnya adalah tanaman pisang, kemudian patogen, lingkungan yang mendukung diantaranya adalah kelembabn yang inggi sehingga menyebabkan patogen mudah berkembang, kegiatan manusia misalnya adalah penggunaan alat-alat pertanian.

 

 

 

 

 

 

4.1.5. Sawi Pakcoy (Massica rapa chinensis)

Gambar 9. Sawi Pakcoy (Massica rapa chinensis)

yang bergejala etiolasi

Sumber: Dokumentasi Pribadi

 

 

Tanaman sawi pakcoy (Massica rapa chinensis) yang bergejala etiolasi yaitu tanaman yang kurang mendapatkan sinar matahari. Dengan keberadaan auksin, tumbuhan akan terus memanjang sampai titik ujung tumbuhan mendapatkan cahaya yang cukup untuk menghambat produksi auksin. Penambahan tinggi atau panjang tumbuhan tanpa disertai pertumbuhan jumlah klorofil menyebabkan terbentuknya warna hijau pucat. Gejala etiolasi mencangkup penambahan tinggi atau panjang tumbuhan, melemahnya dinding sel  pada daun dan batang, Jarak antar ruas tanaman yang lebih panjang dan klorosis. 

Proses terjadinya etiolasi yaitu apabila tanaman diletakkan pada tempat yang kurang mendapatkan cahaya matahari yang cukup, sehingga keadaan ini mengakibatkan tanaman untuk mencari keberadaan cahaya matahari untuk proses fotosintesis.  Hal ini menyebabkan terjadinya pemanjangan batang dan warna tanaman terlihat pucat.

Gejala etiolasi terjadi karena ketiadaan cahaya matahari. Kloroplas yang tidak terkena matahari disebut etioplas. Kadar etioplas yang terlalu banyak menyebabkan tumbuhan menguning. Pada hal ini hormon auksin bekerja dengan baik karena tumbuhan tidak terkena cahaya.

 

 

 

4.1.6. Terung (Solanum melongena)

Gambar 10. Terung (Solanum melongena)

yang bergejala layu

Sumber: Dokumentasi Pribadi

 

Tanaman terung (Solanum melongena) yang terkena penyakit layu disebabkan oleh Bakteri Pseudomonas solanacearum. Dimana gejala yang tampak adalah tanaman layu mendadak dimulai dari bagian atas daun, tulang daun berwarna pucat keputihan,  dan lama-kelamaan tanaman akan kecoklatan terkaddang kehing hingga pada akhirnya akan mati. Tanamn terkulai karena penyerapa unsur hara maupun air tidak bisa dilakukan. Hal ini disebabkan berkas pembuluh angkut membusuk. Jika tanah di sekitar lubang tanam dibongkar tampak akar tanaman membusuk berwarna kecoklatan. Jika pangkal dipotong secara  melintang maka akan terlihat lingkaran coklat kehitaman berbentuk lilin dan berlendir, inilah bakteri Pseudomonas solanacearum.

Penularan bakteri ini sampai merusak jaringan tanaman diawali dengan masuknya bekteri ke dalam jaringan tanaman. masuknya bakteri dapat melalui adanya luka pada bagian jaringan tanaman (misalnya akar, batang, cabang, daun dll), adanya  verktor (misalnya gigitan serangga, gigitan hewan, akibat tindakan manusia dan pemotongan akar), adanya lubang alami pada tanaman, misalnya melalui stomata (mulut daun), lentisel dan nectartoda.

Faktor pendukung infeksi bakteri Pseudomonas solanacearum adalah sumber air seperti kola, sungai, waduk, bak penampungan air dll, tumbuhan inang atau tumbuhan laten, tanah yang terinfeksi, alat dan bahan yang terkontaminasi.

 

4.1.7. Daun Pepaya (Carica papaya)

Gambar 11. Daun Pepaya (Carica papaya)

yang terserang virus kerupuk

Sumber: Dokumentasi Pribadi

 

 

Daun pepaya (Carica papaya) yang menggulung disebabkan oleh virus kerupuk. Gejal dan tanda awal berupa pertumbuhan yang tidak seimbang di bagian daun yaitu melengkungnya daun ke arah bawah dan tumbuh berombak. Gejala lanjt daun berwarna hijau pucat mengkilat, permukaan tidak rata, pertumbuhan terhambat, dan gej ala lengkungan semakin parah. Jarak antar tangkai daun memendek, sehingga daun terlihat menumpuk seperti kerupuk. Pada tanaman yang semakin tua, daun-daun bawah menjadi rontok yang diikuti dengan daun-daun diatasnya sehingga tampak ranting dengan gumpalan ranting diujungnya.

Virus kerupuk mudah ditularkan secara mekanis melalui bagian tanaman yang luka, lubang alami tanaman seperti lentisel dan stomata, dan vektor seperti gigitan serangga dan lain-lain.

Faktor yang mendukung terinfeksinya tanamn pepaya oleh virus ini yaitu kegiatan manusia misalnya adalah penggunaan alat-alat pertanian, adanya inang dimana inangnya adalah tanaman pepaya, kemudian patogen, lingkungan yang mendukung diantaranya adalah kelembaban, suhu, sehingga menyebabkan patogen mudah berkembang.

 

 

 

 

 

4.1.8. Daun Cabai (Capsicum annum)

Gambar 12. Daun cabai (Capsicum annum)

yang terkena gejala klorosis

Sumber : Dokumen Pribadi

 

 

Gejala yang ditimbulkan oleh penyakit klorosis pada daun cabai (Capsicum annum) yaitu daun mengering dan tulang daunnya menghitam. Bagian daun cabai yang berwarna belang hijau tua cenderung agak lebih tebal disertai dengan perubahan bentuk daun (cekung,keriting atau menggulung) dibandingkan dengan daerah daun berwarna hijau muda. Bagian daun cabai yang berwarna belang hijau tua yang disertai daun menggulung keatas akan terasa lebih tebal. Adapun bagian yang diserang penyakit adalah daun.

Secara mekanis virus Chilli venal mottle dapat menyebar melalui daun yang terinfeksi saling bergesek dengan daun yang lain, dapat juga menyebar melalui biji. Setelah memakan daun yang terinfeksi kemudian berpindah memakan daun pada tanaman lain yang rentan maka dengan cepat dapat menularkan penyakit ini.

Faktor pendukung pertumbuhan virus yaitu aktifitas manusia dan vektor virus. Cara virus ini menginfeksi inangnya yaitu dengan gosokan, maupun oleh kutu daun. Para pekerja yang mengatasi persemaian dapat menularkan virus ke banyak tanaman. Virus juga mungkin terdapat di dalam banyak tumbuh, termasuk tanaman disekeliling pertanaman cabai. 

 

 

 

 

 

4.1.9. Pisang (Musa paradisiaca)

 

Gambar 13. (Musa paradisiaca)

yang terserang gejala roset

Sumber: www.google.com

 

 

Tanaman dengan gejala roset disebabkan adanya hambatan pertumbuhna ruas-ruas atau buku-buku tetapi pembentukan daun tidak terhambat . Dimana gejala yang nampak yaitu pada awalnya tanaman terllihat normal, namun lama – kelamaan buku-buku menjadi pendek dan tumbuhlah daun secara berdesak-desakan membentuk sebuah karangan dan menyerupai sapu.

Proses terjadinya gejala roset yaitu masuknya virus ke dalam ke dalam jaringan daun karena adanya luka oleh beberapa spesies kutu seperti Aphis craccivora, A. gossypii, Myzus persicae. Mengingat serangan berbagai macam virus ini difasilitasi oleh vektor serangga dari jenis kutu-kutuan (Aphid), maka pengendaliannya harus lebih banyak ditujukan kepada pengendalian serangga vektornya di samping menggunakan tanaman tahan.

Faktor yang mendukung terinfeksinya tanamn pepaya oleh virus ini yaitu kegiatan manusia misalnya adalah penggunaan alat-alat pertanian, adanya inang dimana inangnya adalah tanaman pepaya, kemudian patogen, lingkungan yang mendukung diantaranya adalah kelembaban, suhu, sehingga menyebabkan patogen mudah berkembang.

 

 

 

 

 

 

4.1.10.  Seledri  (Apium graveolens)

 

Gambar 14. Daun Pepaya (Carica papaya)

yang terserang puru akar

Sumber: www.google.com

 

 

Puru akar pada tanaman seledri (Apium graveolens) disebabkan oleh nematoda Meloidogyne spp. Dimana gejala yang nampak yaitu akar tanamn seledri nampak berbintil-bintil bulat dengan ukuran yang berbeda-beda  menyerupai rantai dan berjumlah sangat banyak. Gejala tanamn yang nampak yaitu tanaman berwarna kuning seperti gejala klorosis, layu pada siang hari walaupun ketersediaan air tercukupi, kerdil, dan tumbuhnya tidak merata. Gejala lainnya yaitu hipertropi dan hiperplasia, yaitu membengkaknya jaringan akar tanaman. Jaringan akar tanaman yang bengkak tersebut banyak dikenal sebagai puru. Puru terbentuk karena terjadi pembelahan sel dan pembesaran sel secara berlebihan pada jaringan perisikel tanaman

Proses masuknya nematoda Meloidogyne spp ke dalam perakaran tanamn seledri yaitu memerlukan kondisi lingkungan yang mendukung untuk dapat menginfeksi tanaman. nematoda ini awalnya menginfeksi inang melalui akar. Di dalam akar nematoda betina akan berkembang membelah diri pada bagian sel yang terinfeksi. Setelah memiliki koloni yang cukup banyak, sebagian koloni akan terbawa ke bagian tanamn yang lain bersamaan dengan terangkutnya air oleh pembuluh xilem. Ketika ada bagian tanamn yang rentan, nemtoda ini akan menginfeksi dan menimbulkan gejala. Daur hidup nematoda ini penyebab penyakit puru pada akar, batang, sisa-sisa panen dan tanamn inang. Nematoda ini akna terus menginjeksi bagian tanamn baik akar, batang dan daun tanaman.

Penyebaran nematoda ini dapat terjadi karena sifatnya yang mudah bergerak sehingga dapat dengan mudah menyebar. Suhu optimal nematoda ini adalah 25-28 °C. Faktor pendukung infeksi nemotoda pada tanaman yaitu lengkungan memiliki kelmbaban yang optimal, tanaman inang yang rentan, dan suhu yang optimal sehingga pembelahan sel lebih mudah terjadi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5.           PENUTUP

5.1.      Kesimpulan

Gejala penyakit pada tanaman umumnya ada tiga yaitu nekrotis, hipoplastis dan hiperplastis. a). Gejala nekrotis yaitu gejala penyakit yangditandai dengan degenerasi protoplas diikuti matinya sel-sel jaringan organ dan seluruh tumbuhan. gejala nektotis meliputi hirosis, klorosis, nekrosis, perforasi, busuk, eksudasi, layu, mati ujung, dan terbakar, b). Gejala hipoplasis yaitu gejala yang timbul karena adalanya hambatan atau kegagalan dari tanaman atau organ untuk bekembang secra penuh. Gejala hipoplastis meliputi etiolasi, kerdil (autrofi), klorosis, perubahan simetri, roset, dan c). Gejala Hiperplastis yaitu gejala yang timbul karena hasil yang luar biasa ukuran atau perkembangan dini yang abnormal dari organ tumbuhan. Gejala hiperplastis meliputi erinose, fasiasi, intumesensia, kudis, menggulung atau mengeriting, pembentukan alat yang luar biasa, prolepsis dan sapu.

Penyakit tanaman berdasarkan gejala dan tanda disebabkan oleh tiga komponen yaitu jamur, bakteri dan virus. Ketiga patogen ini dapat menyerang bagian tubuh tanaman baik akar, batang, cabang, ranting, bunga dan buah. Dimana gejalanya ada yang busuk kering, busuk basah, nekrosis, klorosi, kerdil, roset dan lain-lain.

 

5.2.      Saran

Sebaiknya dalam pelaksanaan praktikum waktu yang telah ditetapkan dapat dimanfaatakan secara maksimal agar praktikum dapat berjalan sesuai yang diinginkan.Dan para praktikan dapat disiplin waktu agar tidak menganggu kegiatan praktikum yang sedang berlangsung.


6.      

DAFTAR PUSTAKA

Agrios, G. N. 1996. Ilmu Penyakit Tumbuhan: Edisi Ketiga. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

 

Kurniawati, dkk. 2017. Spesies Meloidogyne Penyebab Puru Akar pada Seledri di Pacet, Cianjur, Jawa Barat. Jurnal Fitopatologi Volume 13 (1). https://www.researchgate.net/publication/318497857. diakses pada 13April 2019 pukul 10.13 WIB.

 

Semangun, H. 2001. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sinaga, S.M, 2001. Dasar-dasar ilmu penyakit Tumbuhan. Penebar Swadaya. Jakarta.

 

Supriati, L.Dan Djaya, A. A, 2016. Pengendalian Penyakit Antraknosa Pada Tanaman Cabai Merah Menggunakan Agen Hayati Trichodermaharzianum Dan Actinomycetes. Jurnal Agri Peat, Vol. 16 No. 1 , Maret 2015 :20 – 26. Http://E-Journal.Upr.Ac.Id/Index.Php/Agp/Article/Download/69/52. Diakses Pada 10 Mei 2019. Pukul 22.33. PDF.

 

Triharso, 1996. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman. gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

 

Yudiarti, T. 2007. Ilmu Penyakit Tumbuhan. Graha Ilmu. Yogyakarta.

 

Yunasfi. 2002.Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Penyakit dan Penyakityang Disebabkan oleh Jamur. Universitas Sumatera Utara. Medan.

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini