LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN
PENGENALAN ORDO SERANGGA HAMA DAN SERANGGA HAMA GUDANG
DEVI CERITASARI
CAA 117 012
KELOMPOK IV

JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PALANGKARAYA
2019
LEMBARPENGESAHAN
LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN
PENGENALAN ORDO SERANGGA HAMA DAN SERANGGA HAMA GUDANG
TelahdiperiksadandisetujuiolehAsistenPraktikumpada
Hari :………
Tanggal :………
ASISTENPRAKTIKUM
MULYATI WIDAYANTI
CAA 116 060
DAFTAR ISI
Halaman
LEMBAR PENGESAH............................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................ iii
DAFTAR GAMBAR .................................................................................. iv
I. PENDAHULUAN.............................................................................. 1
1.1. LatarBelakang............................................................................. 1
1.2. TujuanPraktikum........................................................................ 2 .....................................................................................................................
II. TINJAUAN PUSTAKA...................................................................... 3
2.1. Filum Yang BerpotensiSebaagi Hama....................................... 3
2.2. OrdoSerangga Hama................................................................... 4
2.3. Hama Gudang.............................................................................. 5
III. BAHAN DAN METODE
3.1. WaktudanTempat........................................................................ 6
3.2. BahandanAlat.......................................................................... ... 6
3.3. Cara Kerja................................................................................... 6
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. HasilPengamatan........................................................................ 7
4.2.Pembahasan.................................................................................. 9
V. PENUTUP
5.1.Kesimpulan.................................................................................. 19
5.2. Saran............................................................................................ 19
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1.KumbangKelapa (Oryctes rhinoceros) 9
Gambar 2.WalangSangit (Leptocorisaacuta)............................................. 10
Gambar 3.KutuBeras (Sitophilumorizae)................................................... 11
Gambar 4.UlatDaun (Spodopterasp).......................................................... 12
Gambar 5.Kepik (Riptartuslinansis).......................................................... 14
Gambar 6.KutuTepung (Tribolliumsp)....................................................... 15
Gambar 7.BelalangKayu (Valanganigricornis)......................................... 16
Gambar 8.KutuKacangHijau (Callocobruchusmaculatus)........................ 17
I.
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Hama merupakansuatu organismeyang kehadirannya tidak diharapkan oleh masyarakat petani, karena dianggap merugikan, dimana hama tersebut mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Hama dapat merusak tanaman secara langsung ataupun tidak langsung.Hama dapat menyerang sejak dari benih hingga di gudang penyimpanan.Contohnya, seperti wereng coklat, (Nilaparvata lugens), walang sangit (Leptocorisa acuta), belalang kayu (Valanga nigricornis) dan lain-lain, (Suharto, 2007).Jika dikaitkan dengan dunia pertanian,hama merupakan organisme pengganggu tanaman yang menimbulkan kerusakan pada tanaman budidayasecara fisik dan juga menyebabkan kerugian secara ekonomis bagi para petani. Contoh hewan yang berpotensi menjadi hama adalah kutu loncat, tikus, kecoa, belalang, wereng, kepik, babi, keong, ulat grayak, tungau dan kumbang kelapa. Selain hama yang menyerang tanaman budidaya mulai dari pembenian sampai panen, terdapat juga hama yang menyerang hasil produksi yang dalam penyimpanan yang disebut dengan hama gudang. Hama gudang hidup dalam ruang lingkup yang terbatas, yakni hidup dalam bahan-bahan simpanan di gudang. Umumnya hama gudang yang sering dijumpai adalah dari ordo Coleoptera (bangsa kumbang), seperti Tribolium sp, Sitophilus oryzae, Callocobruchus chinensis, Sitophilus zaemays, Necrobia rufipes, (Djafarudin, 2000)
Serangga hama merupakan jenis serangga yang menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian, baik secara kualitas maupun ekonomis. Serangga hama dibedakan menjadi dua jenis yaitu serangga hama pra panen dan serangga hama gudang. Serangga hama pra panen merupakan serangga hama yang menyerang tanaman budidaya, dalam masa pertumbuhannya. Sedangkan serangga hama gudang merupakan serangga hama yang menyerang hasil panen yang dalam penyimpanan. Perbedaan serangga hama pra panen dan hama pasca pane yaitu: a). Dari segi ordo, hama serangga yang menyerang pra panen terdiri dari ordo orthoptera, hemiptera, homoptora, lepidoptera dan diptera sedangkan hama yang menyerang pra panen adalah dari ordo coleoptera; b). Waktu serangan,hama pra panen menyerang tanaman ketika masih di lahan pertanian sedangkan hama pasca panen menyerang ketika hasil tanaman sudah dipanen atau dalam penyimpanan; c). Bagian serangannya, berdasarkan bagian serangannya hama pra panen menyererang bagian tanaman seperti akar, batang, daun, bunga dan buah sedangkan hama pasca panen cenderung menyerang hasil panen seperti biji; d). Cara menyerang, berdasarkan cara menyerangnya hama pra panen cenderung menyerang dengan cara mengisap, mengigit, mengunyah, dan menusuk sedangakan hama pasca panen cenderung mengigit dan mengunyah, (Surtikanti, 2004).Hama pra panen adalah hama yang menyerang tanaman mulai dari periode bibit sampai panen di lahan pertanian, contohnya kutu daun (Myzus persiciae), ulat buah (Plutela xilostela) dan lain-lain. Sedangkan pada hama paska panen merupakan hama yang menyerang produk pertanian sejak panen, pengolahan, sampai penyimpanan di gudang. Cotohnya seperti Kutu beras (Sitophilus oryzae), kutu kacang hijau (Aphis sp) dan lain-lain, (Rimbing, S, C, 2015).
Dengan mempelajari ordo serangga hama dan serangga hama gudang kita dapat mengetahui bagaimana tipe alat mulut, siklus hidup dan gejala serangan hama dengan demikian kita dapat melakukan pengendalian hama tersebut.
1.2. Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum Dasar Perlindungan Tanaman dengan materi Pengenalan Ordo Serangga Hama dan Serangga Hama Gudang yaitu :
1.
Untuk pengenalan
serangga hama dan ordo serangga hama, baik dari morfologi tubuh, tipe mulut,
daur hidup, tipe perkembangbiakan, siklus dan mekanisme penyerangannya sehingga
dapat diketahui cara yang tepat untuk pengendalian serangga hama tersebut.
2. Mengetahui macam – macam serangga hamayang menyerang produk pertanian dalam gudang, mengenal bagian tubuh, mengetahui daur hidup, dan mengetahui mekanisme serangan serangga hama tersebut.
II. TINJAUAN
PUSTAKA
2.1. Filum Yang Berpotensi Sebagai Hama
Serangga hama dikelompokkan dalam beberapa golongan besar yang disebut filum. Diantara filum yang berpotensi sebagai ham yaitu: a) Filum nematoda,. Umumnya hidup ditempat yang basah atau lembab, misalnya dalam air, tanaman, tanah, manusia dan binatang. Ukuran nematoda sangat kecil, berbentuk silindris, tidak berwarna (transparan), bilateral simetris, tidak mempunyai ruas, tetapi mempunyai rongga tubuh semu (pseudocoelomates), bagian kepala agak tumpul, sedangkan bagian ekornya agak runcing. Tidak semua anggota Nematoda berperan sebagai hama tanaman atau bersifat parasitik, tetapi ada juga yang bersifat saprofag yang tidak merugikan tanaman. Contoh nematoda yang berpotensi sebagai hama yaituMeloidogyne spyang menyebabkan bengkak pada akar kentang b) Filum Molussa, merupakan hewan triploblastik selomata yang bertubuh lunak. Anggota filum Mollusca yang berpotensi sebagai hama kebanyakan berasal dari kelas Gasthropoda. Berdasarkan dari struktur tubuhnya, anggota kelas Gastropoda dibedakan menjadi dua jenis yaitu ada yang dilindungi oleh cangkang (shell), adapula yang tidak. Contohnya bekicot (Achatina fullica) dan siput bugil (Parmarion pupillaris), c) Filum Chordata, merupakan kelompok hewan yang memiliki tulang belakang (vertebrata).Anggota filum Chordata yang banyak berperan sebagai hama berasal dari Kelas Mamalia (hewan menyusui) dan kelas Aves (burung). Contohnya yang berasal dari kelas mamalia yaitu ordo Rodentia (binatang mengerat), merupakan ordo yang paling merugikan, misalnya tupai (Callosciurusnotatus) dan tikus sawah (Rattus rattus argentiventer), d) Filum Arthopoda merupakan filum terbesar dalam dunia binatang. Ciri-ciri filum ini yaiu tubuh dan kaki beruas-ruas, tubuh terbagi dua atau tiga bagian, alat tambahan beruas-ruas dan berpasangan (sayap, antena, kaki). Anggotanya yang berperan sebagai hama adalah kelas arachnida dan kelas insekta atau artrhopoda. Contohnya serangga dan laba-laba,(Suharto, 2007).
2.2. Ordo Serangga Hama
Serangga (Insecta)merupakan salah satu anggota dari filum Artropda. Kelas insecta dibedakann menjadi dua subkelas yaitu Apterygota dan Pterygota dimana subkelas ini dibagai lagi menjadi 20 ordo. Dari 20ordo tersebut terdapat 6 yang berperan sebagai hama, yaitu : a) Orthoptera, yang mempunyai sayap lurus pada saat istirahat. Tipe perkembangannya hidupnya paurometabola (telur-nimfa-imago). Tie mulut nimfa dan imago sama yaitu menggigit dan mengunyah. Contohnya seperti belalang kayu (Valanga nigricornis),; b) Hemiptera, serangga ini sayap bagian depannya mengalami penebalan setengah bagian dan sisanya seperti selaput. Tipe perkembangannya ialah paurometabola (telur-nimfa-imago). Tipe alat mulut nimfa dan imago sama-sama menusuk menghisap dan sama-sama merusak tanaman. Contohnya, seperti kepik buah lada (Daysmus piperis); c) Homoptera, serangga ini bersayap sama seperti membran. Tipe perkembangannya ialah paurometabola dan sebagian ada yang bersifat partenogenetik, yaitu embrio berkembang dalam imago betina tanpa mendapat pembuahan dari sprema. Contohnya, seperti wereng coklat (Nilaparvata lugens); d) Lepidoptra, serangga ini mempunyai sayap yang terdiri dari sisik-sisik kecil yang akan menempel bila dipegang. Tipe perkembangan hidupnya ialah holometabola (telur-larva-pupa-imago). Tipe mulutnya berbeda antara larva dan imago, pada larva menggigit dan mengunyah, sedangkan pada imago menghisap menusuk. Yang merusak tanamannya adalah larva dan imagonya hanya makan nektar/madu dari bunga-bungaan. Contohnya, seperti ulat buah (Agrotis epsilon); e) Diptera, pada serangga ini bersayap dua. Sebagai hidup perusak, perusak bahan simpanan yang termasuk daging dan parasit pada serangga lain. Perkembangan hidupnya ialan holometabola. Tipe mulut antara larva dan imago juga berbeda, pada larva menggigit dan mengunyah, sedangkan pada imagonya mejilat. Contohnya, seperti lalat buah (Dacus sp); f) Coleoptera, serangga ini bersayap seludang pada bagian depannya dan sayap belakangnya seperti selaput. Perkembangan hidupnya ialah holometaboola. Tipe mulut antara larva dan imagonya sama yaitu sama-sama menggigit dan mengunyah. Contohnya, seperti kumbang kelapa (Oryctes rhinoceros), (Djafarudin, 2000).
2.3. Hama Gudang
Hama gudang merupakan hama atau organisme yan menyerang hasil produksi dalam penyimpanan dan menimbulkan gejala yang sangat merugikan. Hama gudang yang umumnya sering dijumpai contohnya kutu tepung (Tribolium sp), kutu beras (Sitophilus oryzae) dan lain-lainnya. Hama gudang dapat mengurangi bobot biji-bijian, nilai gizi, dan perkecambahan biji-bijian yang disimpandan juga menyebabkan kontaminasi, bau, jamur, dan masalah kerusakan panas yang mengurangi kualitas biji-bijian. Umumnya, semua hama gudang memiliki ciri-ciri morfologi sama. Perbedaannya hanya pada bentuk tubuh dan moncongnya saja.Hama gudang mempunyai sifat yang khusus yang berlainan dengan hama-hama yang menyerang dilapangan, hal ini sangat bersangkutan dengan ruang lingkup hidupnya yang terbatas yang tentunya memberikan pengaruh faktor luar yang juga terbatas. Umumnya hama gudang yang serig dijumpai berasal dari golongan Coleoptera. Siklus hidup hama gudang tergolong sempurna atau holometabola dimana fase-fasenya terdiri dari telur-larva-pupa-imago, (Araz Meilin, 2016).
III. BAHAN
DAN METODE
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum Dasar-dasar Perlindungan Tanaman dengan materi Pengenalan Ordo Serangga Hama dan Serangga Hama Gudang, dilaksanakan pada hari Kamis, 24 April 2019, pukul 09.30 - 011.10 WIB. Bertempat di Laboratorium Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Palangka Raya.
3.2. Alat dan Bahan
Alat yang dipakai pada saat Praktikum Praktikum Dasar-dasar Perlindungan Tanaman dengan materi Pengenalan Ordo Serangga Hama dan Serangga Hama Gudang adalah buku gambar dan alat tulis, sedangkan bahan yang digunakan adalah belalang kayu (Valanganigricornis), kepik (Riptortus linansis), lalat buah (Dacus sp), ulat buah (Sopodtera sp), kutu beras (Sitophilus oryzae), walang sangit (Leptocorisa acuta), kutu daun (Aphis sp), kutu tepung (Tribolium sp), kumbang kelapa (Oryctes rhinoceros), kutu kacang hijau (Callosobruchus maculates), kutu jagung (Sitopilus zeamays), ulat grayak (Spodoptera litura), kepik hijau (Nezara viridula) dan kutu loncat (Psyllidae).
3.3. Cara Kerja
Cara kerja yang dilakukan pada saat Praktikum Praktikum Dasar-dasar Perlindungan Tanaman dengan materi Pengenalan Ordo Serangga Hama dan Serangga Hama Gudang, yaitu :
1. mengambil serangga yang akan diamati dengan menggunakan pinset, kemudian memasukkan serangga tersebut kedalam wadah yang berisi alkohol.
2. Mengangkat serangga tersebut setelah mati, dan meletakkannya di sterofom.
3. Menusuk bagian atas serangga dengan menggunakan jarum pentul, kemudian mengamati bagian tubuh dari masing-masing spesimen ordo serangga hama dan spesimen hama gudang.
4. Menggambar hasil pengamatan pada lembar kerja.
4.2. Pembahasan
4.2.1. Kumbang Kelapa (Oryctes rhinoceros)
|
|
|
|
Gambar 2. Kumbang kelapa (Oryctes rhinoceros) Sumber: Dokumen pribadi
|
|
Klasifikasi Kumbang kelapa (Oryctes rhinoceros)
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Coleoptera
Famili : Scarabaeidae
Genus : Oryctes
Spesies : Oryctes rhinoceros
Ciri morfologi kumbang kelapa (Oryctes rhinoceros) yaitu memiliki warna yang gelap sampai hitam, pada bagian kepala terdapat satu tanduk dan tedapat cekungan dangkal pada permukaan punggung ruas dibelakang kepala, panjangnya 3-5 cm. Pada kumbang jantan tanduknya lebih panjang dari tanduk betina. Ujung abdomen kumbang betina terdapat bulu sedangkan pada kumbang jantan bulu-bulu tersebut hampir tidak ditemukan. Tipe alat mulut serangga hama ini yaitu menggigit-menguyah dan ordo dari serangga hama ini yaitu coleopteran, (Araz Meilin, 2016).
Serangan kumbang kelapa (Oryctes rhinoceros) menyebabkan pertumbuhan daun kelapa jadi tidak normal. Pucuk tanaman kelapa menjadi kering dan mudah dicabut, dan terlihat seakan-akan tergunting. Menyebabkan daun seakan-akan tergunting, yang baru jelas ketika daun terbuka.
Cara pengendaliannya dengan cara skala prioritas dapat dilakukan melalui tahapan sanitasi.
4.2.2. Walang Sangit (Leptocorisa acuta)
|
|
|
|
Gambar 8. Walang sangit (Leptocorisa acula) Sumber: Dokumen pribadi
|
|
Klasifikasi Walang Sangit (Leptocorisa acuta)
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Hemiptera
Famili : Alydidae
Genus : Leptocorisa
Spesies : Leptocorisa acuta
Walang sangit merupakan kelompok hewan invertebrata, filum arthropoda pada kelas insekta. Walang sangit memiliki bentuk tubuh langsing dan memanjang, berukuran sekitar 1,5-2 cm, punggung dan sayap (walang sangit dewasa berwarna coklat dan walang sangit mudah berwarna hijau), badan berwarna hijau, memiliki 3 pasang kaki, memiliki dua pasang sayap (satu pasang tebal dan satu pasang seperti selaput), tipe mulut menusuk dan menghisap, telur berbentuk oval yang berwarna hitam kecoklatan, memiliki belala proboscis untuk menghisap cairan tumbuhan, abdomen jantan terlihat agak bulat atau tumpul sedangkan yang betina terlihat meruncing, metamorfosis tidak sempurna dan memiliki aroma atau bau khas.Lama siklus hidup walang sangit berkisar antara 30-45 hari. Dalam siklus hidupnya, lamanya stadia telur tergantung dengan suhu, umumnya berkisar antara 5-7 har.Selama periode nimfa, terjadi 4 kali pergantian kulit sebelum menjadi dewasa. Lama periode nimfa berkisar 17 hari pada suhu 21-23 derajat Celcius. Pada daerah yang lebih dingin, lama periode telur dan nimfa akan lebih panjan. Lama hidup dewasa berkisar 16-134 hari dengan menghasilkan telur rata-rata 248 butir per induk. Setiap walang sangit betina dapat bertelur lebih dari 100 butir telur dan telur akan menetas setelah 6-7 hari. Daur hidup rata-rata mencapai 5 minggu, kurang lebih 23-34 hari. Bila keadaan ideal daur hidupnya dapat mencapai 115 hari, (Djafarudin, 2000).
Tanaman yang terserang hama walang sangit biasanya ditandai dari keadaan bijinya. Pada biji yang sudah dihisap oleh walang snagit, akan menjadi hampa.Selain itu walang sangit juga menyebabkan adanya bercak berwarna kehitaman pada biji dan daun tanaman.
Cara pengendalian walang sangit diantaranya membersihkan gulma disekitar pemateng tanaman, mengatur pola tanam serta dan juga dapat dikendaliakan secara kimia yaitu denganmenyemprotnya dengan insektisida.
4.2.3. Kutu Beras (Sitophilum orizae)
|
|
|
|
Gambar 5. Kutu beras (Sitophilum orizae) Sumber: Dokumen pribadi
|
|
Klasifikasi Kutu beras (Sitophilum orizae)
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Insecta
Ordo : Coleoptera
Family : Cureulionidae
Genus : Sitophilus
Species : Sitophilus oryzae
Warna kutu beras yang masih mudah dan tua berbeda. Pada utu beras yang masih muda dan dewasa berwarna cokelat agak kemerahan, setelah tua warnanya berubahmenjadi hitam. Pada sayap depan kutu beras terdapat 4 bercak berwarna kuning agak kemerahan yaitu 2 bercak pada sayap sebelah kiri dan 2 bercak pada sayap sebelah kanan. Panjang tubuh kutu dewasa ± 3,5-5 mm.Larva Kutu tidak berkaki,berwarna putih atau jernih dan ketika bergerak akan membentuk dirinya dalam keadaan agakmembulat. Tipe alat mulut serangga hama ini yaitu menghisap dan menusuk.Bedasarkan penelitian, kutu betina dapat bertelur 2 -6 butir setiap harinya.Untuk menyimpan telurnya, kutu betina melubangi bulir beras denganrahangnya.Satu lubang hanya untuk satu butir telur.Kutu beras dapat hidup selama beberapabulan.Selama hidup, kutu betina mampu menghasilkan sekitar 400 butir telur.Telur akanmenetas menjadi larva setelah 3 hari. Larva akan hidup pada lubang beras selama 18 hari.Setelah itu akan menjadi pupa selama 5 hari, lalu bermetamorfosis menjadi kutu, (Jusuf, 2015).
Gejala serangan yang ditimbulkan pada kutu beras (Sitophilus oryzae)) adalah rusak pada biji-bijian, berbau apek pada beras, berlubang-lubang pada beras dan hancur menjadi menir
Cara pengendalian hama kutu beras yaitu dengan menjaga kelembaban gudang, menggunakan kemasan kedap udara serta menurunkan tingkatan air agar mencegah kutu datang, (Jusuf, 2015).
4.2.4. Ulat Daun (Spodoptera sp)
|
|
|
|
Gambar 3. Ulat daun (Spodoptera sp) Sumber: Dokumen pribadi
|
|
Klasifikasi Ulat Daun (Spodoptera sp)
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Lepidoftera
Famili : Noctuidae
Genus : Spodoftera
Spesies : Spodoftera sp
Larva ulat daun yang baru menetas berwarna kelabu-hijau dan akan berubah menjadi hijau pucat. Larva ditutupi dengan rambut halus pendek dan zat tepung putih, yang berasal dari sisa metabolisme larva.Kepalanya berwarna coklat gelap-hitam.Panjang larva sekitar 2 inci.Larva yang masih muda warnanya sedikit kehijauan dan tubuhnya tidak dilapisi lilin.Larva yang ukurannya lebih besar berwarna putih kekuningan dan tubuhnya dilapisi dengan lilin.Periode larva berlangsung selama 25 sampai 30 hari.Stadium larva berlangsung selama 28 hari. Larva makan dari bagian dalam gulungan daun kemudian membentuk gulungan yang lebih besar sesuai dengan perkembangan larva sampai instar akhir. Mortalitas larva cukup tinggi pada larva muda karena pada permukaan tubuhnya belum ditutupi lilin dan gulungan daunnya masih terbuka. Stadium prapupa lamanya adalah tiga hari, sedangkan stadium pupa selama tujuh hari, dan siklus hidupnya sekitar 10 hari. Sedangkan lama siklus hidup imagonya sekitar 5-6 minggu, (Suharto, 2007).
Gejala serangan ulat daun yaitu pada ulat yang masih muda memotong daun mulai dari tepi secara miring, lalu digulung sehingga membentuk tabung kecil. Pada tingkat serangan yang tinggi, daun akan habis dan tinggal pelepah yang penuh dengan gulungan. Larva memotong bagian tepi daun kemudian digulung mengarah ke dalam. Dalam gulunga daun tersebut terdapat larva.
Cara pengendalian hama ulat daun yaitu dengan mengambil daun pisang yang tergulung, kemudian memusnahkan ulat yang terdapat didalamnya dan juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan predator seperti burung gagak dan burung kutilang, (Suharto, 2007).
4.2.5. Kepik (Riptartus linansis)
|
|
|
|
Gambar 10. Kepik (Riptartus linansis) Sumber: Dokumen pribadi
|
|
Klasifikasi Kepik (Riptartus linansis)
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Hemiptera
Famili : Coreoidea
Genus : Riptartus
Spesies : Riptartus linansis
Ciri morfologi kepik yaitu kepik memiliki panjang tubuh 6-7 mm, tipe alat mulut menusuk menghisap, antena terdiri dari 4 ruas dan warna tubuh didominasi warna hitam dengan sedikit corak kuning keemasan. Ciri khusus lainnya adalah femur (paha) pada tungkai depan cenderung membesar dan masing-masing mempunyai 4 duri (spina) agak besar dan 4 duri kecil. Dalam siklus hidupnya, kepik mengalami metamorfosis tidak sempurna, yait tanpa melalui fase pupa.Imago betina meletakkan telurnya pada batang, ranting muda, daun dan buah secara berkelompok dan tersusun dalam 2 baris.Masa telur berlangsung antara 7-10 hari.Nimfa yang baru keluar berwarna coklat muda dan berangsur-angsur berubah menjadi coklat tua. Nimfa instar 1 yang baru keluar dari telur akan segera mencari bakteri simbion yang terdapat pada bagian tengah dan belakang telur. Bakteri ini membantu nimfa dalam proses pergantian instar ke instar selanjutnya. Perkembangan nimfa menjadi imago ditandai dengan perubahan dari instar 1 sampai instar 5. Siklus hidup serangga ini yaitu sekitar 30 hari, (Rimbing, 2015).
Gejala serangan hama kepik dengan walang sangit tidak jauh beda yaitu menyebabkan bagian yang dihisap kering atau busuk menghitam.Kepik biasanya ditemukan pada bagian batang tanaman yang terserang.
Cara pengendalian hama kepik yaitu dengan cara tanam secara serempak pada suatu wilayah, dan dapat juga dengan menggunakan musuh alami contohnya laba-laba.
4.2.6. Kutu Tepung(Tribollium sp)
|
|
|
|
Gambar 11. Kutu tepung(Tribollium sp) Sumber: Dokumen pribadi
|
|
Klasifikasi Kutu tepung (Tribollium sp)
Kingdom : Animalia
Filum : Arthoropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Homopteraa
Famili : Tenebrionidae
Genus : Tribolium
Spesies : Tribolium Sp
Ciri-ciri morfologinya yaitu kumbang dewasa berbentuk pipih, berwarna coklat kemerahan, panjang tubuhnya 4mm. Telur berwarna putih agak merah dengan panjang 1,5mm, larva berwarna coklat muda dengan panjang 5-6mm. Pupa berwarna putih kekuningan dengan panjangnya 3,5mm. Kumbang betina mampu bertelur hingga 450 butir sepanjang siklus hidupnya telur diletakkan didalam tepung atau pada bahan lain yang sejenis yang merupakan pecahan kecil (remah). Larva bergerak aktif karena memiliki 3 pasang kaki larva akan mengalami pergantian kulit sebanyak 6-11 kali, ukuran larva dewasa dapat mencapai 8-11mm, siklus hidup dari kumbang 35-42 hari, (Surtikanti, 2004)
Gejala serangan dan kerusakan mengakibatkan tepung menggumpal.Tipe mulut menusuk-menghisap ordo Homoptera.
Cara pengendaliannya dapat dilakukan dengan cara pengeringan yang sempurna, penggunaan fumigasi, penggunaan pestisida nabati dan lain-lain, (Surtikanti, 2004).
4.2.7. Belalang Kayu (Valanga nigricornis)
|
|
|
|
Gambar 1. Belalang Kayu (Valanga nigricornis) Sumber: Dokumen pribadi |
|
Klasifikasi Belalang Kayu(Valanga nigricornis)
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Sub filum : Mandibulata
Kelas : Insecta
Ordo : Orthoptera
Famili : Acrididae
Genus : Valanga
Spesies : Valanga nigricornis
Belalang kayu terdiri dari 3 bagian utama, yaitu kepala, dada (thorak) dan perut (abdomen).Belalang kayu memiliki 6 kaki yang bersendi, 2 pasang sayap, dan 2 antena. Kaki bagian belakang panjang yang digunakan untuk melompat dengan jauh dan tinggi, sedangkan kaki bagian depan pendek digunakan untuk berjalan. Belalang kayu (Valanga nigricornis) juga memiliki pendengaran yang tajam, meskipun tidak memiliki telinga. Alat pendengar belalang ini hampir disebut dengan nama tympanum dan terletak pada abdmon (perut) dekat bagian sayap. Typnpanum ini berbentuk sebuah disk bulat besar yang terdiri dari beberapa bagian prosesor digunakan untuk memantau getaran dari udara. Belalang kayu juga memiliki 5 mata (2 compound eye dan 3 ecelli), (Djafarudin, 2000).
Gejala serangan pada belalang kayu (Valanga nigricornis) yaitu daun tanaman berlubang-lubang, dan terdapat robekan pada daun. Menghisap cairan daun, pucuk, tangkai bunga dan bagian tanaman yang lain sehingga daun jadi keriting dan kecil warnanya kekuningan, layu dan akhirnya mati.
Pengendalian hama belalang kayu dapat dilakukan dengan cara kimia yaitu dengan menyemprotkan insectisida dan dapat juga dilakukan dengan menggunakan musuh alami yaitu ayam.
4.2.8. Kutu Kacang Hijau (Callocobruchus maculatus)
|
|
|
|
Gambar 6. Kutu kacang hijau (Callocobruchus maculatus) Sumber: Dokumen pribadi
|
|
Klasifikasi Kutu kacang hijau (Callocobruchus maculatus)
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Coleoptera
Family : Bruchidae
Genus : Callosobruchus
Spesies : Callosobruchus maulatus
Serangga hama ini disebut dengan kumbang biji. Kumbang Biji (Callosobruchus chinensis) mempunyai moncong yang pendek dan femur tungkai belakang yang membesar.Bentuk tubuh kumbang dewasa kebanyakan bulat atau lonjong.bentuk tubuhnya bulat telur dengan bagian kepalanya yang agak runcing. Pada sayap depannya terdapat gambaran gelap yang menyerupai huruf U dan pronotumnya halus.Warna sayap depannya coklat kekuning-kuningan.Siklus hidup kumbang kacang hijau tergolong dalam holometabola.Imago betina dapat menghasilkan telur sampai 700 butir.Telur berbentuk lonjong agak transparan atau kekuning-kuningan atau berwarna kelabu keputih-putihan. Panjang telur 0,57 mm, berbentuk cembung pada bagian dorsal, dan rata pada bagian yang melekat pada biji. Telur diletakkan pada permukaan biji dan direkatkan dengan semacam perekat, (Guntur, 2015).
Gejala serangan kumbang kacang hijau (Callosobruchus chinensis) tampak lubang pada biji-biji kacang hijau yang mengakibatkan lama-kelaman biji tersebut menjadi retak.
V.
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Serangga hama merupakan jenis serangga yang menyebabkan kerusakan pada tanaman budidaya. Serangga hama dibedakan menjadi enam ordo yaitu: a) Othoptera, serangga hama ordo orthoptera meupakan jenis hama yang bersayap lurus ketika istirahat. Tipe perkembangannya paurometabola dan memiliki tipe mulut menggigit mengunyah; b) Hemiptera, serangga hama ini memiliki sayap yang bagian depannya mengalami penebalan dan sisahnya berbentuk selaput. Tipe perkembangan hemiptera yaitu paurometabola dengan tipe mulut menusuk mengisap; c) Homoptera, merupakan jenis serangga yang bersayap sama seperti membran. Serangga ini terdiri dari dua bentuk yaitu bersayap dan tidak bersayap.Tipe perkembangannya yaitu paurometabola dengan tipe mulut mengisap; d) Lepidoptera, merupakan jenis serangga yang sayapnya terdiri dari sisik-sisik.Tipe perkembangannya yaitu holometabola dengan tipe mulut larvanya menggigit mengunyah dan tipe mulut imagonya mengisap; e) Diptera, serangga ini memiliki dua sayap. Tipe perkembangannya holometabola dengan tipe mulut larvanya menggigit mengunyah sedangkan imagonya menjilat; f) Coloeptera, serangga ini bersayap seludang pada sayap depan dan sayap belakang seperti selaput. Tipe perkembangannya holometabola dengan tipe mulut menggigit mengunyah.
Hama gudang merupakan jenis hama yang menyerang hasil pertanian yang dalam masa penyimpanan. Hama gudang bersifat khusus dan berbeda dengan hama-hama lain yang ada di lapangan. Umunya hama gudang yang sering dijumpa berasal dari golongan Coleoptera.
5.2. Saran
Dalam kegiatan praktikum sangat dibutuhkan ketelitian, kesabran, dan kehati-hatian.Selain itu penguasaan materi juga sangat diperlukan dalam kegiatan praktikum, agar kegiatan praktikum dapat berjalan dengan lancar.Kedisiplinan dan juga taat pada peraturan harus diterapkan dalan kegiatan praktikum, agar kegiatan praktikum dapat berjalan dengan optimal maka para praktikan harus bisa lebih tepat waktu dan mematuhi peraturan.
DAFTAR
PUSTAKA
Araz, Meilin dan Nasamsir. 2016. Serangga dan
Peranannya
Dalam Bidang Pertanian Dan Kehidupan. Jurnal
Media Pertanian, 1 (1) : 18-28. (Http://Jagro.Unbari.Ac.Id). Diakses pada tanggal 27April 2019.
Djafarudin. 2000. Dasar-dasar Pengendalian Penyakit Tanaman. Aksara. Jakarta.
Guntur, Respyan. 2015. Pengaruh Inert DustTerhadap Mortalitas Sitophiluszeamais Mostchulsky Pada Biji Jagung Dalam Simpanan. Jurnal HPT, (2) : 36-38. (http://jurnalhpt.ub.ac.id). Diakses pada tanggal 28April 2019.
Jusuf,Manueke., Max, Tulung dan Mamahit, J, M, E. 2015. Biologi Sitophilus oryzae Dan Sitophilus zeamais (Coleopteraurculionidae) Pada Beras Dan Jagung Pipilan.Jurnal Penelitian, 21 (1): 20-31. (https://ejournal.unsrat.ac.id). Diakses pada tanggal 26 April 2019.
Kartasapoetra, A, G. 1991.Hama Hasil Tanaman Dalam Gudang. Penerbit Rineka Cipta. Cetakan Kedua. Jakarta.
Rimbing, S, C. 2015. Keanekaragaman Jenis Serangga Hama Pasca Panen Pada Beberapa Makanan Ternak Di Kabupaten Bolaang Mongondow.Jurnal Zootek, 35 (1) : 146-177. (https://ejournal.unsrat.ac.id). Diakses pada tanggal 27April 2019.
Suharto. 2007. Pengenalan dan Pengendalian Hama Tanaman Pangan. Erlangga.Yogyakarta.
Surtikanti.2004. Kumbang Bubuk Sitophilus zeamais motsch (Coleopteran curculuionidae) dan Strategi Pengendaliannya. Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros 90514. Jurnal Litbang Pertanian,7 (2): 27-32.
.
















Komentar
Posting Komentar