PROPOSAL PENELITIAN

 

 

PERTUMBUHAN DAN HASIL CABAI RAWIT PADA POLA TANAM TUMPANG SARI DENGAN BAWANG MERAH DI TANAH GAMBUT BERPASIR

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DEVI CERITASARI

CAA 117 012

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS PALANGKA RAYA

2020

DAFTAR ISI

 

           

 

COVER.............................................................................................................   i

DAFTAR ISI.....................................................................................................   ii

 

I.         PENDAHULUAN.....................................................................................   1

1.1.     Latar Belakang...............................................................................   1

1.2.          Tujuan Penelitian..........................................................................   3

 

II.       TINJAUAN PUSTAKA............................................................................   4

2.1.      Klasifikasi Tanaman Cabai...........................................................   4

2.2.      Morfologi Tanaman Cabai............................................................   4

2.3.      Syarat Tumbuh Tanaman Cabai....................................................   7

2.4.      Jenis-jenis Tanaman Cabai............................................................   8

2.5.      Klasifikasi Tanaman Bawang Merah............................................   9

2.6.      Morfologi Tanaman Bawang Merah.............................................   9

2.7.      Syarat Tumbuh Bawang Merah.....................................................   12

2.8.      Pola Tanam....................................................................................   13

2.9.      Tanah Gambut................................................................................   13

2.10.       Pemupukan pada Tanah Gambut..................................................   14

2.11.       Pupuk NPK....................................................................................   15

 

III.     BAHAN DAN METODE.......................................................................... 16

3.1.       Tempat dan Waktu......................................................................... 16

3.2.       Bahan dan Alat............................................................................... 16

3.3.       Metode Penelitian.......................................................................... 16

3.4.       Rancangan Penelitian..................................................................... 17

3.5.       Pelaksanaan Penelitian................................................................... 17

3.6.       Variabel Pengamatan..................................................................... 19

3.7.       Analisis Data.................................................................................. 20

3.8.       Jadual Kegiatan Penelitian............................................................. 20


 

I.            PENDAHULUAN

1.1.      Latar Belakang

Cabai (Capsicum annuum L.) termasuk famili Solanaceae dan merupakan salah satu komoditas sayuran yang memiliki banyak manfaat, bernilai ekonomis tinggi dan mempunyai prospek pasar yang menarik. Hampir semua rumah tangga di Indonesia mengkonsumsi cabai setiap harinya, tidak hanya dibutuhkan dalam konsumsi rumah tangga namun juga dalam industri pengolahan makanan. Buah cabai selain dapat dikonsumsi segar untuk campuran bumbu masak juga dapat diawetkan, misalnya dalam bentuk acar, saus, tepung cabai dan buah kering (Sumarni, 2003).

Salah satu komoditas penting yang sama pentingnya dengan cabai adalah bawang merah, dimana bawang merah mempunyai masalah yang sama dengan cabai. Kebutuhan komoditas cabai dan bawang merah bagi masyarakat Kalimantan Tengah belum seutuhnya dapat dipenuhi di Kalimantan Tengah sendiri, namun masih didatangkan dari pulau Jawa, Sulawesi Selatan dan daerah lainnya. Ketergantungan tersebut menjadi bumerang ketika terjadi kendala pasokan, baik itu terjadi gangguan distribusi yang disebabkan oleh gelombang air laut yang tinggi sehingga angkutan laut tidak dapat melayani angkutan dan distribusi dan bahan yang tidak sampai tujuan. Adanya gelombang laut yang tinggi terkadang menyebabkan pendistribusian melalui jalur udara. Kelangkaan cabai dan bawang merah  di pasar akibat dari produksi yang kurang mencukupi, secara bersamaan akan memicu terjadinya kenaikan harga jualnya, hal tersebut tentu akan berdampak buruk bagi perekonomian, ditandai inflasi yang sangat tinggi.

Produksi cabai di Provinsi Kalimantan Tengah pada periode 2013 sampai dengan 2017 selalu mengalami penurunan dan kenaikan hasil baik produksi cabai rawit ataupun cabai besar. Produksi cabai rawit pada tahun 2013 hingga 2017 memiliki rata-rata 3,37 ton dengan laju pertumbuhan 2,47%. Sedangkan produksi cabai besar pada tahun 2013 hingga 2017 memiliki rata-rata 2,38 ton dengan laju pertumbuhan 18,57%. Luas pertanaman cabai rawit di Indonesia pada tahun 2015 yaitu mencapai angka 134 ribu ha (BPS, 2015) dan merupakan luasan terbesar pada komoditi sayuran. Produksi cabai secara nasional tahun 2015 sebesar 869 ton (BPS, 2015), besarnya produksi ini masih belum dapat memenuhi kebutuhan belanja masyarakan di Indonesia. Harga komoditas cabai di pasar sangat berfluaktif. Pada saat tertentu harga melonjak tajam, lonjakan tajam tersebut dapat disebabkan oleh faktor musim dan kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat.

Pada bulan Agustus 2019 sejumlah pasar besar di Kalimantan Tengah khususnya di Sampit dan Palangka Raya, harga rata-rata cabai rawit Rp. 64.700 per kilogram san cabai merah Rp 75.950 per kilogram.  Harga itu berdasarkan survei di Pasar Subuh dan PPM Sampit, serta Pasar Besar dan Kahayan Palangka Raya. Adapun tren kenaikan harga komoditas cabai merah seiring dengan tren pergerakan harga nasional. Selain itu, minimnya pasokan yang diterima, diakibatkan adanya gangguan produksi pada saat musim kemarau (TPID Kalteng, 2019).

Sistem tumpang sari umumnya lebih menguntungkan dibanding dengan sistem monokultur karena produktivitas lahan menjadi lebih tinggi, jenis komoditas yang dihasilkan beragam, hemat dalam pemakaian sarana produksi dan resiko kegagalan dapat diperkecil (Turmudi, 2002). Tumpangsari dapat dilakukan antara tanaman semusin dengan tanman semusim lain yang saling menguntungkan. Beberapa komoditas hortikultura yang memiliki nilai jual yang tinggi dan dapat dilakukan sistem tumpang sari yaitu cabai rawit dan bawang merah. Bawang merah dpata ditanam sebgaia tanaman sisipan antar barisan tanaman cabai.

Sistem penanaman secara tumpangsari antara bawang merah dan cabai rawit merupakan alternatif teknologi yang dapat dikembangkan pada tanah gambut. Pengaturan jarak tanam yang tepat dapat mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman. namun permasalahan lain dalam pengelolaan tanah gambut sebagai media tanam yaitu kurangnya atau miskinnya unsur hara pada tanah gambut. Tanah gambut pda umumnya memliki kadar pH  rendah, KTK (kapasitas tukar kation) tinggi, kejenuhan basa rendah, memiliki kandungan unsur K, Ca, Mg, P yang rendah dan juga memiliki kandungan unsur mikro (seperti Cu, Zn, Mn serta B) yang rendah (Sasli, 2011). Keadaan ini mengakibatkan lahan bersifat miskin hara dan sangat masam. Sehingga perlu penambahan unsur hara pada tanah gambut yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman. penambahan unsur hara dilakukan dengan menambahkan unsur  hara N, P, dan K dengan pemberian pupuk NPK majemuk. Kebutuhan tanaman akan hara N, P, dan K tergantung pada jenis tanaman, pola penanaman, populasi dan periode umur tanaman.

 

1.2.      Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jarak tanam dan dosis pemupukan NPK yang tepat pada tumpang sari cabai dengan bawang merah terhadap pertumbuhan dan hasil cabai di tanah gambut berpasir.


 

II.              TINJAUAN PUSTAKA

 

 

2.1.      Klasifikasi Tanaman Cabai

Klasifikasi tanaman cabai atau kedudukan tanaman cabai dalam sistematika tumbuhan (taksonomi) adalah sebagai berikut:

Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Subdivisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledonae

Sub kelas

: Sympetalae

Ordo

: Tubiflorae

Famili

: Solanaceae

Genus

: Capsicum

Spesies

: Capsicum annuum L.

Tanaman cabai termasuk ke dalam famili solanaceae. Tanaman cabai sekerabat  dengan kentang (Solanum tuberosum L.), terung (Solanum melongena L.), leunca (Solanum nigrum L.), takokak (Solanum torvum), dan tomat (Lycopersicon esculentum) (Tarigan dan Wiryanta, 2003).

 

2.2.      Morfologi Tanaman Cabai

2.2.1.     Akar

Secara morfologi akar tanaman cabai tersusun atas rambut-rambut akar, batang akar, ujung akar, dan tudung akar. Anatomi akat tersusun atas epidermis, korteks, endodermis, dan silinder pusat. Ujung akar merupakan titik tumbuh akar. Ujung akar terdiri atas jaringan meristem dimana sel-selnya memiliki dinding yang tipis dan aktif membelah diri. Tudung akar berfungsi untuk melindungi akar terhadap kerusakan  mekanis pada waktu menembus tanah. Tudung akar juga mengandung lendir di bagian luar, untuk memudahkan akar menembus tanah. pada akar terdapat rambut-rambut akar yang merupakan perluasan permukaan dari sel-sel epidermis akar. Fungsi rambut-rambut akar adalah untuk memperluas daerah penyerapan air dan mineral. Rambut-rambut akar hanya tumbuh di dekat ujung akar dan umumnya memilki ukuran yang relatif pendek. Apabila akar tumbuh memanjang ke dalam tanah maka pada ujung akar yang muda akan terbentuk rambut-rambut akar yang baru, sedangakan rambut akar yang lebih tua akan hancur dan mati.  Fungsi akar adalah untuk menyerap air dan zat hara dari dalam tanah dan menunjang atau memperkokoh berdirinya tumbuhan di tempat hidupnya (Widya, 2008).

2.2.2.     Batang

Tanaman cabai merupakan tanaman perdu dengan batang tidak berkayu. Batang akan tumbuh hingga ketinggian tertentu, kemudian membentuk banyak percabangan. Batang tanaman cabai berwarna hijau, hijau tua atau hijau muda. Pada batang yang lebih tua, pada umumnya yang paling bawah, akan muncul warna coklat seperti kayu yang diproleh dari pengerasan jaringan parenkim. Fungsi batang tumbuhan cabai secara umum adalah sebagai organ lintasan air dan mineral dari akar ke daun dan lintasan zat makanan hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bagian tumbuhan dan juga batang merupakan organ pembentuk dan penyangga daun (Rustandi, 2013).

2.2.3.     Daun

Secara morfologi, daun memiliki bagian-bagian helaian daun (lamina) dan tangkai daun (petiolus). Secara umum, anatomi daun serupa dengan anatomi batang. Apabila daun diamati di bawah mikroskop, akan tampak bagian-bagian dari atas ke bawah yaitu epidermis, jaringan tiang, jaringan bunga karang, dan berkas pembuluh angkut daun.

Daun merupakan organ pada tumbuhan yang berfungsi sebagai tempat fotosintesis, transpirasi dan sebagai alat pernapasan. Hasil fotosintesis berupa glukosa dan oksigen. Glukosa hasil fotosintesis akan diangkut oleh pembuluh tapis dan diedarkan keseluruh bagian tumbuhan. Oksigen dikeluarkan melalui stomata daun dan sebagian digunakan untuk repirasi sel-sel daun.

Daun juga berperan penting dalam transpirasi. Transpirasi adalah peristiwa penguapan pada tumbuhan. Transpirasi menyebabkan aliran air dan mineral dari akar, batang, dan tangkai daun terjadi secara terus menerus.Bentuk daun tumbuhan cabai bervariasi menurut spesies dan varietasnya, yaitu berbentuk ovaldan lonjong. Warna permukaan daun bagian atas biasanya hijau muda, hijau, hijau tua, bahkan hijau kebiruan. Permukaan daun bagian bawah umumnya berwarna hijau muda, hijau pucat atau hijau. Permukaan daun cabai ada yang halus ada pula yang berkerut-kerut. Ukuran panjang daun cabai antara 3-11 cm, dengan lebar antara 1-5 cm (Widya, 2008)

2.2.4.     Bunga

Bunga tanaman cabai bervariasi, namun memiliki bentuk yang sama, yaitu bentuk bintang yang menunjukkan bahwa tanaman cabai termasuk dalam sub kelas asteridae (berbunga bintang). Bunga biasanya tumbuh pada ketiak daun, dalam keadaan tunggal atau bergerombol dalam tandan. Dalam satu tandan biasanya terdapat 2-3 bunga saja.Mahkota bunga tanaman cabai warnanya bermacam-macam, ada yang putih, putih kehijauan, dan ungu. Diameter bunga antara 5-20 mm. Bunga tanaman cabai merupakan bunga sempurna, artinya dalam satu tanaman terdapat bunga jantan dan bunga betina.

Penyerbukan bunga jantan dan bunga betina terjadi dalam waktu yang sama, sehingga tanaman dapat melakukan penyerbukan sendiri. Untuk mendapatkan hasil buah yang lebih baik, penyerbukan silang lebih diutamakan. Oleh karena itu, tanaman cabai yang ditanam di lahan dalam jumlah banyak, hasilnya lebih baik dari pada tanaman cabai yang ditanam sendirian. Penyerbukan tanaman cabai biasanya dibantu angin atau lebah (Rustandi, 2013).

2.2.5.     Buah dan Biji

Tanaman cabai memiliki bentuk buah yang bervariasi sesuai dengan varietasnya. Ada buah yang berbentuk bulat sampai bulat panjang dengan bagian ujung meruncing, mempunyai 2-3 ruang yang berbiji banyak. Buah yang masih muda umumnya berwarna hijau, putih kekuningan, dan ungu bergantung pada varietasnya. Buah yang sudah tua umumnya berwarna kuning sampai merah. Bentuk biji cabai adalah kecil, bulat pipih seperti ginjal, dengan warna kuning kecoklatan. Tanaman cabai mulai berbunga pada umur 60-75 hari setelah disemaikan dan proses penuaan buah berlangsung antara 50-60 hari sejak

bunga mekar (Widya, 2008).

 

2.3.      Syarat Tumbuh Tanaman Cabai

Tanaman cabai rawit memiliki syarat tumbuh yang tepat untuk mendapatkan pertumbuhan dan hasil produksi yang optimum. Syarat tumbuh cabai rawit meliputi:

1.      Tipe tanah

Tanah yang baik untuk budidaya tanaman cabai rawit adalah tanah yang memiliki sifat gembur dan remah. Menurut Tjandra (2011), tanaman cabai rawit tidak tumbuh dengan baik dalam tanah yang memiliki struktur padat dan tidak memiliki rongga. Alasannya, tanah seperti ini tidak mudah ditembus dengan air sehingga saat penyiraman berlangsung, air tersebut akan menggenang dan menimbulkan banyak

dampak negatif. Selain itu, tanah tersebut tidak memberikan kesempatan kepada akar untuk bergerak secara luas. Jenis tanah tersebut termasuk tanah liat, tanah berkaolin dan tanah berbatu. Tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman cabai rawit yaitu tanah yang memiliki tekstur agak berat seperti lempung berliat (Wahyudi, 2011).

2.      Ketinggian tempat

Tanaman cabai dapat ditanam pada dataran rendah maupun dataran tinggi. Tanaman cabai rawit dapat tumbuh pada ketinggian 0 - 2.000 mdpl. Namun, tanaman cabai rawit yang ditanam di dataran rendah dan dataran tinggi pasti mengalami perbedaan seperti diumur panen dan masa panen ataupun pada pertumbuhan lainnya. Tanaman cabai rawit yang dibudidayakan pada dataran tinggi memiliki umur panen yang lebih lama dibandingkan dengan cabai rawit yang ditanam pada dataran rendah. Ketinggian yang optimum untuk budidaya tanaman cabai rawit ini yaitu pada 0 – 1000 mdpl (Cahyono, 2003).

3.      Suhu dan kelembaban

Cabai rawit dapat beradaptasi dengan baik pada suhu 24º C -27o C dengan kelembaban yang tidak terlalu tinggi. Curah hujan yang optimum untuk pertumbuhan tanaman cabai rawit yang baik yakni antara 1000 – 3000 mm setiap tahunnya (Jamil, 2012).

4.     pH tanah optimum

Cabai rawit merupakan tanaman yang menghendaki tingkat keasaman tanah yang optimal. pH tanah yang baik untuk budidaya tanaman cabai rawit yakni 5,5 – 6,5. Apabila tanah yang akan digunakan dalam budidaya memiliki tingkat keasaman dibawah 5,5 maka tanah tersebut perlu diberi tambahan dolomit atau kapur untuk menetralkan tingkat keasamannya. pH tanah yang rendah akan mengakibatkan sulitnya unsur hara dalam tanah untuk diserap oleh tanaman. Sebab, unsur hara yang sebagian dibutuhkan oleh tanaman seperti fosfor (P) dan kalsium (Ca) tidak tersedia dalam kondisi pH tanah yang rendah. Tingkat keasaman yang rendah akan mengakibatkan pertumbuhan penyakit pada tanaman seperti adanya cendawan jamur seperti Fusarium sp (Prajnanta, 2011).

5.     Intensitas cahaya dan sumber air

Cabai rawit membutuhkan intensitas cahaya yang normal seperti tanaman hortikultura lainnya. Pencahayaan tanaman cabai rawit dibutuhkan dari pagi hari hingga sore hari. Ketersediaan air yang cukup tentu menunjang pertumbuhan tanaman hortikultura lainnya. Pencahayaan tanaman cabai rawit dibutuhkan dari pagi hari hingga sore hari. Ketersediaan air yang cukup tentu menunjang pertumbuhan tanaman cabai rawit yang baik. Dengan adanya drainase yang baik dan lancar, tanaman cabai rawit akan tumbuh optimal dengan hasil produksi yang rimbun (Jamil, 2012).

 

2.4.      Jenis-jenis Tanaman Cabai

2.4.1.     Cabai rawit

Bentuknya kecil, namun memiliki rasa yang lebih pedas dibandingkan denegan cabai merah besar atau cabe merah keriting. Biasanya digunakan sebagai bahan dasar sambal, rujak atau makanan pedas lainnya. Cabai rawit juga dibuat menjadi chilli oil. Bisa juga digunakan sebagai pelengkap makanan gorengan.

2.4.2.     Cabai Besar

Cabai besar ada yang berbentuk runcing mengerucut dan ada juga yang membulat. Kulitnya tebal dan rasanya kurang pedas jika dibandingkan dengan cabai rawit. Cabai besar dapat dipanen pada saat buah masih hijau atapun sudam memerah. Cabai besar yang masih hijau bisanya digunakan sebagai campuran masakan seperti tumis, oseng-oseng dan sambal hijau. Begitu juga cabai besar yang sudah merah digunakan sebagai campuran sambal, saus, dan masakan lainnya.

2.4.3.     Cabai keriting

Bentuk cabai keriting sangat unik, buahnyaberkelok-kelok atau mengeriting dan panjang. cabai keriting juga dapat dipanen saat hijau atau sudah merah. Ukurannya lebih kurus daripada cabai besar. Cabai keritiing seringkali digunakan dalam masakan Padang/Minang, khususnya rendang atau kalio. Masakan yang mengunakan cabai keriting akan lebih terasa pedas dibandingkan dengan menggunakan cabai besar. Cabai keriting digunakan juga dalam masakn kari, cabai bubuk, bumbu balado dan rica-rica (Maspary, 2014).

 

2.5.      Klasifikasi Tanaman Bawang Merah

Bawang merah merupakan salah satu dari sekian banyak jenis bawang yang ada didunia. Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan tanaman semusim yang membentuk rumpun dan tumbuh tegak dengan tinggi mencapai 15-40 cm (Rahayu, 1999). Bawang merah dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom         : Plantae

Sub kingdom   : Tracheobionta

Super division : Spermatophyta

Divisio             : Magnoliophyta

Kelas               : Liliopsida

Sub kelas         : Lilidae

Ordo                : Lililales

Famili              : Liliaceae

Genus              : Allium

Spesies            :Allium cepa L. Var. Aggregatum

 

2.6.      Morfologi Tanaman Bawang Merah

Morfologi fisik bawang merah bisa dibedakan menjadi beberapa bagian yaitu akar, batang, daun, bunga, buah dan biji.

1.           Akar

Akar merupakan bagian dari suatu tanaman yang berfungsi untuk menyokong atau memperkokoh berdirinya suatu tumbuhan. akar juga berfungsi untuk menyerap zat-zat hara yang ada di dalam tanah. bawang merah memiliki akar pokok sebagai tempat tumbuhnya akar adventif dan bulu akar yang berfungsi untuk menyokong berdirinya bawang merah. Akar bawang merah memiliki kedalaman sekitar 15-30 cm yang tumbuh di sekitar umbi bawang merah. Bawang merah memiliki akar semu atau yang disebut discus yang berbentuk seperti cakram, tipis dan pendek sebagai tempat melekatnya akar dan mata tunas. Diatas discus terdapat akar semu yang tersusun atas pelepah-pelepah daun yang saling menyatu. Akar semu yang berbeda di dalam tanah akan mengalami modifikasi berubah bentuk dan fungsi menjadi umbi lapis (Sudirja, 2007).

2.           Daun

Morfologi daun bawang merah seperti helaian daun (lamina) dan tangkai daun (pethiolus). Daun bawang merah memiliki satu permukaan  dan berbentuk bulat kecil. Bagian ujung daun meruncing dan bagian bawah daun melebar seperti kelopak dan membengkak. Pembengkakan kelopak daun pada bagian dasar akan terlihat mengembung, membentuk umbi yang merupakan umbi lapis. Bagian yang membengkak berisi cadangan makanan bagi tunas yang akan menjadi tanaman baru, (Nazzaruddin, 2003).

Daun bawang merah berwarna hijau muda hinggga tua, berbentuk silinder seperti pipa dengan panjang sekitar 40-60 cm dan berongga. Pada daun yang baru bertunas biasanya belum terlihat adanya rongga. Rongga ini akan terlihat jelas saat tumbuh mnejadi besar. Daun pada bawang merah berfungsi  sebagai tempat fotosintesis dan respirasi, sehingga kesehatan daun sangat  berpengaruh terhadap kesehatan tanaman secara umum (Sunarjo, 2003).

3.           Bunga

Pertumbuhan bunga bawang merah dimulai dari keluarnya tangkai bunga dari cakram melalui ujung umbi seperti permunculan daun biasa tetapi lebih ramping, berbentuk bulat panjang saerta pada ujungnya terdapat benjolan meruncing seperti mata tombak. Benjolan inni kemudian akan membuka sehingga tmpak kuncup-kuncup bunga beserta tangkainya (Rukmana, 1995). Menurut Sudirja (2007), bunga bawang merah merupakan bunga majemuk berbentuk tandan, pada umumnya terdapat 50-200 kuntum bunga yang tersusun melingkar seperti payung. Tiap kuntum  bunga terdiri atas 5-6 helai mahkota bunga berwarna putih, enam benang sari yang berwarna hijau atau kekuning-kuningan, satu putik dan satu bakal buah.

Benang sari tersusun dalam dua lingkaran, tiga benang sari pada lingkaran dalam lebih cepat matang dibandingkan dengan tepungsari pada lingkaran luar. Penyerbukan anatar bunga dengan tandan yang  berbedaberlangsung dengan perantara lebah atau lalat hijau. Bakal buah pada bawang merah terbentuk dari tiga daun buah yang disebut carpel, terdapat tiga buah ruang dan setiap ruang buah mengandung dua bakal biji  (Sunarjo, 2003). Suriana (2011), menambahkan bahwa bunga bawang merah pada awalnya berpa gumpalan bulat kecil yang tertutup oleh seludang daun. beberapa waktu kemudian seludang ini membuka dan keluar kuntum-kuntum bunga berwarna putih.

4.           Umbi dan Biji

Umbi bawang merah merupakan jenis umbi ganda, dimana umbi itu dapat terlihat dengan jelas sebagai benjolan ke kanan atau ke kiri seperti siung pada bawang putih. Lapisan pembungkus siuing pada bawang merah tidak banyak, terbatas hanya 2-3 saja, tidak tebal dan mudah kering. Lapisan-lapisan dan setiap siung bawang merah ditentukna oleh banyak dan tebalnya lapisan pembungkus. Setiap siung dapat membungkus umbi yang baru juga dapat membentuk umbi sehingga akan terbentuk rumpun yang terdiri atas 3-8 umbi baru (Sartono, 2009).

Biji bawang merah merupakan alat perkembangbiakan generatif pada tanaman bawanh merah. Biji bawang merah berbentuk pipih tetapi akan berubah menjadi hitam setelah tua. Penggunaan biji saat ini masih sebagai alat perkembangbiakan generatof serta masih banyak yang menggunakan untuk skala penelitian. Sementara untuk skala produksi menggunakan umbi bibit (Suriana, 2011).

 

 

 

2.7.      Syarat Tumbuh Bawang Merah

1.           Iklim

Tanaman bawang merah lebih senang tumbuh di daerah beriklim kering. Tanaman bawang merah peka terhadap curah hujan dan intensitas hujan yang tinggi, serta cuaca berkabut. Tanaman ini membutuhkan penyinaran cahaya matahari yang maksimal (minimal 70% penyinaran), suhu udara 25-32°C, dan kelembaban nisbi 50-70% (Sutarya dan Grubben 1995, Nazarudin 1999). Tanaman bawang merah dapat membentuk umbi di daerah yang suhu udaranya rata-rata 22°C, tetapi hasil umbinya tidak sebaik di daerah yang suhu udara lebih panas. Bawang merah akan membentuk umbi lebih besar bilamana ditanam di daerah dengan penyinaran lebih dari 12 jam. Di bawah suhu udara 22°C tanaman bawang merah tidak akan berumbi. Oleh karena itu, tanaman bawang merah lebih menyukai tumbuh di dataran rendah dengan iklim yang cerah (Rismunandar 1986).

Di Indonesia bawang merah dapat ditanam di dataran rendah sampai ketinggian 1000 m di atas permukaan laut. Ketinggian tempat yang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangan bawang merah adalah 0-450 m di atas permukaan laut (Sutarya dan Grubben 1995). Tanaman bawang merah masih dapat tumbuh dan berumbi di dataran tinggi, tetapi umur tanamnya menjadi lebih panjang 0,5-1 bulan dan hasil umbinya lebih rendah.

2.           Tanah

Tanaman bawang merah memerlukan tanah berstruktur remah,
tekstur sedang sampai liat, drainase/aerasi baik, mengandung bahan
organik yang cukup, dan reaksi tanah tidak masam (pH tanah : 5,6 – 6,5). Tanah yang paling cocok untuk tanaman bawang merah adalah tanah Aluvial atau kombinasinya dengan tanah Glei-Humus atau Latosol (Sutarya dan Grubben 1995). Tanah yang cukup lembab dan air tidak menggenang disukai oleh tanaman bawang merah (Rismunandar 1986).

Di Pulau Jawa, bawang merah banyak ditanam pada jenis tanahAluvial, tipe iklim D3/E3 yaitu antara (0-5) bulan basah dan (4-6) bulan kering, dan pada ketinggian kurang dari 200 m di atas permukaan laut. Selain itu, bawang merah juga cukup luas diusahakan pada jenis tanah Andosol, tipe iklim B2/C2 yaitu (5-9) bulan basah dan (2-4) bulan kering dan ketinggian lebih dari 500 m di atas permukaan laut (Nurmalinda dan Suwandi 1995).

Waktu tanam bawang merah yang baik adalah pada musim kemarau dengan ketersediaan air pengairan yang cukup, yaitu pada bulan April dan Mei setelah panen padi dan pada bulan Juli/Agustus. Penanaman bawang merah di musim kemarau biasanya dilaksanakan pada lahan bekas padi sawah atau tebu, sedangkan penanaman di musim hujan dilakukan pada lahan tegalan. Bawang merah dapat
ditanam secara tumpangsari, seperti dengan tanaman cabai merah
(Sutarya dan Grubben 1995).

 

2.8.      Pola Tanam

Rotasi tanaman bawang merah dengan padi setahun sekali dan dengan tebu tiga tahun sekali seperti di Kabupaten Brebes (Jawa Tengah) cukup baik dan sangat membantu mempertahankan produktivitas lahan. Untuk melestarikan produktivitasnya lahan pertanian yang digunakan dalam produksi pangan tidak boleh dibiarkan memiliki salinitas tinggi dan drainase yang jelek. Memaksimalkan penggunaan lahan untuk produksi dapat ditempuh dengan cara tumpang gilir,
tumpangsari dan tumpangsari bersisipan. Tumpangsari bersisipan antara
tanaman bawang merah dan cabai merah memberikan keuntungan yang
lebih besar (Hidayat et al. 1993)
.

 

2.9.      Tanah Gambut

Gambut adalah jenis tanah yang terbentuk dari akumulasi sisa-sisa tumbuhan yang setengah membusuk. Oleh sebab itu, kandungan bahan organiknya tinggi. Lahan gambut merupakan tanah marginal dimana tanahnya bereaksi masam sampai sangat masam (pH rendah), KTK tinggi, ketersediaan hara kurang tersedia akan menyulitkan serapan unsur hara yang diperlukan tanaman. Di dalam  pengelolaan tanah gambut selain perlu penyehatan tanahnya, juga perlu pemberian pupuk makro dan mikro serta harus disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan tanahnya (Suryanto, 1994).

         Rendahnya produktivitas lahan gambut karena banyaknya kendala yang ditemukan pada lahan tersebut. Segi fisik gambut memiliki bobot volume rendah sehingga jumlah unsur hara dan air yang dapat disediakan per satuan volume gambut jauh lebih rendah dibanding tanah mineral. Sisi biologi rendahnya jumlah dan aktivitas mikroorganisme heterotrof menjadikan laju pematangan gambut lambat padahal tingkat kematangan gambut merupakan salah satu penentu kesuburan gambut. Kendala dari segi kimia antara lain gambut bereaksi masam hingga sangat masam.

Ciri yang menonjol dari gambut di Kalimantan Tengah adalah kehomogenannya, artinya gambut tersebut tergolong dalam tingkat kesuburan rendah, kapasitas tukar kation tinggi KTK) dengan kejenuhan basa (KB) rendah yang menyebabkan basa seperti K+, Ca++, dan Mg++ sukar tersedia bagi tanaman. Selain itu reaksi tanah tergolong sangat masam dan tingkat pelapukan bahan organik yang rendah sehingga unsur hara mikro sperti Cu, Zn, dan Mn menjadi sukar tersedia.TK tinggi dengan KB rendah. Kondisi ini tidak menunjang tersedianya unsur hara yang memadai bagi kebutuhan tanaman terutama unsur hara seperti K, Mg dan Ca (Halim dkk, 1988).

Gambut di Kalimantan Tengah umumnya termasuk gambu oligotrofik dimana memiliki kesuburan yang rendah. Gambut oligotrofik memiliki substratum (lapisan bawah gambut) pasir kuarsa di Bereng Bengkel. (Halim, 1987; Salampak, 1999).

 

2.10.   Pemupukan pada Tanah Gambut

Tanah gambut  yang dikenal memiliki pH yang rendah perlu upaya untuk menaikannya. Salah satunya yaitu dengan penambahan amelioran atau pupuk yang dapat meningkatkan ph tanah. pupuk yang digunakan adalah pupuk yang bereaksi basa, diantara dapat berupa kalsit, dolomit, kaptan, dan kapur bangunan.  Untuk menambah hara juga perlu penambahan pupuk kandang sapi, ayam, ataupun kambing. Jenis pupuk kimia yang diperlukan adalah yang mengandung N, P, K, Ca dan Mg. Walaupun KTK gambut tinggi, namun daya pegangnya rendah terhadap kation yang dapat dipertukarkan sehingga pemupukan harus dilakukan beberapa kali (split application) dengan dosis rendah agar hara tidak banyak tercuci. Penggunaan pupuk yang tersedianya lambat seperti fosfat alam akan lebih baik dibandingkan dengan SP36, karena akan lebih efisien, harganya murah dan dapat meningkatkan pH tanah (Subiksa et al., 1991). Penambahan kation polivalen seperti Fe dan Al akan menciptakan tapak jerapan bagi ion fosfat sehingga bisa mengurangi kehilangan hara P melalui pencucian (Rachim, 1995).

 

2.11.   Pupuk NPK

Pupuk NPK Mutiara mengandung 16% N (Nitrogen), 16% P2O5 (Phospate), 16% K2O (Kalium), 0.5% MgO (Magnesium), dan 6% CaO (Kalsium). Karena kandungan tersebut pupuk ini juga dikenal dengan istilah pupuk NPK 16-16-16. Pupuk ini memiliki banyak keunggulan dibanding pupuk NPK lainnya seperti pupuk NPK Phonska dan pupuk NPK Pelangi. Keunggulan tersebut diantaranya adalah: 1. Mengandung unsur hara NPK sekaligus hara mikro CaO dan MgO yang sangat dibutuhkan tanaman. 2. Dibuat menggunakan proses Odda sehingga bersifat mobile dan cepat bereaksi pada tanaman. 3. Menjaga keseimbangan unsur hara makro dan mikro pada tanah. 4. Pengapliaksiannya yang cukup mudah sehingga biaya pemupukan relatif lebih kecil.

Manfaat pupuk NPK Mutiara adalah: 1. Dapat mempercepat, memperbanyak, memperkuat, serta memperpanjang akar tanaman. Sehingga dengan demikian akar akan mudah menyerap hara pada tanah. 2. Mencegah tanaman agar tidak kerdil. 3. Mempercepat pertumbuhan tunas pada tanaman. 4. Memperkecil kemungkinan tanaman mengalami kerontokan bunga dan juga buah, sehingga dapat meningkatkan hasil pertanian. 5. Dapat meningkatkan fotosintesis tanaman sehingga pe  mbentukan zat gula, tepung dan protein lebih meningkat. 6. Meningkatkan produksi buah (Meroke, 2019).  

 


 

III.            BAHAN DAN METODE

3.1.      Tempat dan Waktu

Penelitian akan dilaksanakan di Desa Katone, Kelurahan Banturung, Kecamatan Bukit Batu, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Penelitian dilaksanakan selama 6 (enam) bulan dimulai pada bulan September 2020 hingga Febuari 2021  pada lahan gambut berpasir.

 

3.2.      Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu benih cabai rawit varietas Dewata F1 dan bawang merah varietas Bima Brebes, pupuk kandang  ayam 20 t/ha, NPK  Mutiara 16:16:16, dolomit 2 t/ha, kapur bangunan 1 t/ha dan, arang sekam, insektisida merk dagang Regent, fungisida merk dagang Amistartop 325 SC (apabila ada serangan hama dan penyakit).

Alat yang digunakan adalah cangkul, meteran, ember, gembor, media semai, tray, tali rafia, katu patok, seng, spidol, cat besi, kayu acir, taju, timbangan digital, kertas label, penggaris, jangka sorong, pH meter, sprayer.

 

3.3.      Metode Penelitian

Metode penelitian ini menggunakan metode eksperimen dimana rancangan yang  digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) faktorial dengan 3
ulangan. Perlakuan pertama, tumpangsari tanaman cabai dan
bawang merah (B0) dengan jarak tanam: tumpangsari tanaman cabai merah 100 cm x 60 cm dengan bawang merah 20 cm x 15 cm,  (B1) tumpangsari tanaman cabai merah 100 cm x 70 cm dengan bawang merah 20 cm x 15 cm,  (B2) tumpangsari tanaman cabai merah 100 cm x 80 cm dengan bawang merah 20 cm x 15 cm,  (B3) tumpangsari tanaman cabai merah 100 cm x 90 cm dengan bawang merah 20 cm x 15 cm. Faktor kedua dosis pupuk NPK 16:16:16 yaitu N0 (0 kg/ha), N1 (250 kg/ha), N2 (500 kg/ha), N3 (750 kg/ha).


 

3.4.      Rancangan Penelitian

Dari uraian di atas ada 4 (empat)  faktor pertama, 4 (empat) faktor kedua dan ulangan sebanyak 3 (tiga) kali, sehingga ada 48 unit percobaan. Dalam setiap unit terdapat 2 baris tanaman cabai dan setiap bari terdapat 2 (dua) tanaman . Pengacakan tata letak adalah sebagai berikut:

U1

U2

U3

J0N0

J1N0

JON1

J2N0

J1N1

J0N2

J3N0

J2N1

J1N2

JON3

J3N1

J2N2

J1N3

J3N2

J2N3

J3N3

J3N3

J3N1

J2N2

J1N3

J3N2

J2N3

J2N0

J1N1

J0N3

J3N0

J2N1

J1N2

J0N2

J0N0

J0N1

J1N0

J2N0

J1N1

J0N2

J3N3

J2N3

J3N2

J0N0

J1N0

J0N1

J3N0

J2N1

J1N2

J3N1

J2N2

J1N3

J0N3

 

3.5.      Pelaksanaan Penelitian

3.5.1.     Penyiapan Lahan

Lahan gambut berpasir yang telah dibersihkan dari gulma atau tanaman sebelimnya dicangkul hingga gembur, pembentukan bedengan dengan ukuran 1,2 m x 100 m, penaburan kapur dolomit 2 t/ha, pupuk kandang 20 t/ha dan dolomit, kapur bangunan 1 t/ha.  Lahan tersebut dibiarkan selama 7-10 hari.

3.5.2.     Penyemaian benih

Sebelum benih disemai perlu penyiapan media semai. Media semai yang digunakan  yaitu tanah gambut berpasir diayak hingga terpisah dari bahan-bahan kasar lainnya, pupuk kandang, kapur dolomit dan arang sekam padi, bahan-bahan tersebut dicampur menjadi satu. Media tersebut ditampung dalam wadah atau ember lalu benih cabai ditebarkan di atasnya. Benih diberi perawatan hingga tumbuh daun sejati tiga helai lalu dipindahkan ke tray semai.

3.5.3.     Penamanan

Penaman dilakukan setelah bibit yang disemai dalam tray mampu berdiri dengan tegak, kira-kira 10 -15 hari setelah pindah semai. Penaman dilakukan pada pagi hari atau sore hari agar tanaman tidak layu oleh sengatan matahari. Penanam tumpang sari bawang merah dilakukan pada saat tanaman cabai sudah ditanam 1 MST.

3.5.4.     Pemupukan

Pemupukan NPK Mutiara 16:16:16 dilakukan sebanyak tiga kali yaitu 2 MST, 4 MST dan pada saat tanaman cabai mulai berbunga. Pemukan 2 MST dan 4 MST  diberikan setengah dosis perlakuan dan pemupukan ketika tanaman mulai berbunga diberikan penuh. Pemupukan dilakukan dengan cara dibenamkan dengan tanah dengan kedalaman 10 cm.

3.5.5.     Pemeliharaan

Pemeliharaan yang dilakukan adalah penyiraman air yaitu pada saat dibutuhkan, penyiraman dilakuakn pada pagi atau sore hari. Pembumbunan dan penyiangan lahan dilakukan pada saat gulma di sekitaran pertanaman sudah mulai tumbuh. penyemprotan insektisida dilakukan apabila ada serangan hama atau penyakit pada tanaman.

3.5.6.     Pelabelan

Setiap petak percobaan diberikan label atau tanda yaitu pada seng yang diberi cat dan ditulis dengan spidol hitam. Sampel tanaman yang akan diamati diberi label. Dalam setiap petak terdapat 2 (dua) sampel yang diamati.

 

 

3.5.7.     Pengamatan

Pengamatan pada setiap baris tanaman ada 2 sampel. Variabel pengamatan dijelaskan pada point selanjutnya.

 

3.6.      Variabel Pengamatan

3.6.1.     Tinggi Tanaman (cm)

Tinggi tanaman diukur mulai dari pangkal batang hingga bagian tertinggi dari tanaman dengna menggunakan meteran. Pengukuran tinggi tanaman dilakukan setiap seminggu sekali mulai pada umur 2 MST sampai dengan awal berbunga.

3.6.2.     Umur  berbunga

Pengamatan umur berbunga tanaman pada saat tanaman cabai mulai memunculkan bunga pertama kali.

3.6.3.     Jumlah cabang produktif

Jumlah cabang produktif diperoleh dengan cara menghitung semua cabang  yang berasal dari batang utama yang menghasilkan buah pada saat panen.

3.6.4.     Lebar kanopi

Pengukuran lebar kanopi diukur menggunaknanpenggaris dari ujung tajuk ke tajuk terlebar tanaman sampel ketika tanaman sudah menghasilkan buah.

3.6.5.     Panjang buah

Pengukuran panjang buah cabai menggunakan penggaris  dan  dilakukan dari pangkal buah hingga ujung puah. Dalam setiap pohon ada 10 sampel yang diamati. Pengamatan dilakukan selama 4 (empat) kali panen atau selama 4 minggu.

3.6.6.     Diameter buah

Diameter buah diamati menggunakan jangka sorong. Bagian yang diukur adalah bagian tengah buah cabai. Dalam satu pohon ada 10 sampel yang diamati. Pengamatan dilakukan selama 4 (empat) kali panen atau selama 4 minggu.

 

 

 

3.6.7.     Berat perbuah

   Berat perbuah diamati menggunakna timbangan digital. Sampel yang diamati pada setiap tanaman ada 10 buah cabai. Pengamatan dilakukan selama 4 (empat) kali panen atau selama 4 minggu.

3.6.8.     Berat buah pertanaman

  Berat buah pertanaman ditimbang menggunakan timbangan digital. Buah yang diamati adalah buah yang siap untuk dipanen dalam setiap tanaman.

 

3.7.      Analisis Data

Pengolahan data dilakukan  dengan  dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (uji F) pada taraf 5% dengan uji lanjut BNT.

 

3.8.          Jadual Kegiatan

Tabel 1. Jadual Rencana Kegiatan Penelitian

No

Kegiatan penelitian

Bulan

IX

X

XI

XII

I

II

1

Penyusunan proposal

 ü

 

 

 

 

 

2

Survei awal ke tempat penelitian

 ü

 

 

 

 

 

3

Seminar proposal

 

  ü

 

 

 

 

4

Persiapan lahan, alat dan bahan penelitian

 

  ü

 

 

 

 

5

Penelitian di lapangan

 

 

 ü

 

 

 

6

Rekapitulasi dan analisis data hasil penelitian

 

 

 ü

 ü

 

 

7

Seminar hasil penelitian

 

 

 

 

 ü

 

8

Penyusunan skripsi dan ujian

 

 

 

 

 ü

 ü

 

 


 

DAFTAR PUSTAKA

Astri Anto: Uji Adaptasi Lima Varietas Cabai Merah di Lahan Gambut Palangka Raya Kalimantan Tengah : Agripura VOL .8 No.1 Juni 2014. Pdf.

 

Cahyono, B. 2003. Cabai Rawit Teknik Budidaya Dan Analisis Usaha Tani. Kanisius. Yogjakarta.

 

Halim, A. 1987. Pengaruh pencampuran tanah mineral dan basa dengan tanah gambut pedalaman Kalimantan Tengah dalam budidaya tanaman kedelai. Disertasi Fakultas Pascasarjana, IPB. Bogor.

Hidayat, A. dan R. Rosliani. 2003. Pengaruh Jarak Tanam dan Ukuran
Umbi Bibit Bawang Merah terhadap Hasil dan Distribusi Ukuran
Umbi Bawang Merah. Lap. Hasil Penel. Balitsa Lembang.

 

Jamil, A. 2012. Budidaya Sayuran di Pekarangan. Balai Pengkaji Teknologi Pertanian (BPTP). Medan Sumatra Utara.

 

Maspary, 2014. Jenis-jenis cabai di Inodnesia. http://www.gerbangpertanian.com/2014/04/jenis-jenis-cabai-indonesia.html.

 

Meroke, 2019.  NPK Mutiara.  https://www.meroketetapjaya.com/pages/tentang-perusahaan.

 

Nazaruddin. 2003. Sayuran Dataran Rendah. Penebar Swadaya. Jakarta. 142 hal.

 

Prajnanta, 2011.  Mengatasi permasalahan bertanam cabai. Penebar Swadaya. Jakarta.

 

Rachim, A. 1995. Penggunaan kation-kation polivalen dalam kaitannya dengan ketersediaan fosfat untuk meningkatkan produksi jagung pada tanah gambut. Disertasi. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Rahayu, E. dan N.V.A. Berlian. 2006. Bawang Merah. Penebar Swadaya. Jakarta.
94 hal.

 

Rismunandar. 1986. Membudidayakan lima jenis bawang. Penerbit Sinar
Baru Bandung.

 

Rukmana, R. 1994. Kesuburan dan Pemupukan. Kanisius. Yogyakarta. 55 hal.

 

Rustandi, 2013. Panen Besar Cabai dalam Pot. Publising Langit. Jakarta.

Salampak. 1999. Peningkatan produktivitas tanah gambut yang disawahkan dengan pemberian bahan amelioran tanah mineral berkadar besi tinggi. Disertasi Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Sartono. 2009. Budidaya Bawang Merah, Bawang Putih, dan Bawang Bombay.
Intimedia. Jakarta. 49 hal.

 

Subiksa, IGM., Didi Ardi dan IPG. Widjaja Adhi. 1991. Pembandingan pengaruh P-alam dan TSP pada tanah sulfat masam (Typic Sulfaquent) Karang Agung Ulu Sumatera Selatan. Prosiding Pertemuan Pembahasan Hasil Penelitian Tanah, 3-5 Juni 1991, Cipayung, Jawa Barat.

 

Sudirja, 2007. Pedoman Bertanam Bawang Merah. Kanisius. Yogyakarta.

 

Sumarni, N., A. Muharam. 2003. Budidaya Cabai Merah. Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Lembang.

 

Sumarni, N., dan A. Hidayat. 2005. Budidaya Bawang Merah. Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Bogor.

 

Sunarjono, H. 2003. Bertanam 30 Jenis Sayur. Penebar Swadaya. Jakarta. 132 hal.

Suriana, N. 2011. Bawang Bawa Untung Budidaya Bawang Merah dan Bawang
Putih. Cahaya Atma Pustaka. Yogyakarta. 104 hal.

 

Suryanto. 1994. Improvement of the P Nutrient Status of Tropical Ombrogenous Peat Soils from Pontianak, West Kalimantan, Indonesia. Phd Thesis. Universiteit Gent. 216 hal.

 

Sutarya, R. dan G. Grubben. 1995. Pedoman Bertanam Sayuran Dataran
Rendah. Gadjah Mada University Press. Prosea Indonesia Balai
Penel
. Hortikultura Lembang.

 

Tarigan, S dan Wiryanta. 2003. Bertanam Cabai Hibrida Secara Intensif..Agromedia Pustaka. Jakarta. 128 halaman.

 

Tjandra, E., 2011.  Panen Cabai Rawit Di Polybag. Cahaya Atma Pustaka. Yogyakarta

 

TPID Kalteng, 2019. Komoditas Cabai Tetap Jadi Fokus Perhatian TPID Kalteng di Bulan Agustus. http://rri.co.id/palangkaraya/post/berita/702597/ekonomi/komoditas_cabai_tetap_jadi_fokus_perhatian_tpid_kalteng_di_bulan_agustus.html.

 

Wahyudi, 2011. Panen Cabai Sepanjang Tahun. PT Agromedia Pustaka. Jakarta.

 

Widya, Y. 2008. Pedoman Bertanam Cabai. Tim Bina Karya Tani. Bandung.

 

Wulandari, dkk. 2018. Pengaruh Dosis Pupuk Npk Dan Aplikasi Pupuk Daun Terhadap
Pertumbuhan Bibit Cabai Keriting (Capsicum Annuum L.). J. Agrotek Tropika. Vol. 6, No. 1: 08 – 14. Pdf.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini